Yogini Mahakailai Laksmi Tunjung Seorang Dagang Nasi

Penuhi Panggilan Shiva Mahadewa, Sukses Tirtayatra Parikrama,
Dua Kali, di Gunung Kailash Setinggi 5.700 Mdpl,

Oleh:
Sadhu Giriramananda


Gunung Kailash, dipercaya merupakan gunung sangat suci. Saking keramatnya Gunung Shiva tersebut, tidak seorang pendaki pun mampu mencapai puncak Kailash,dengan top ketinggian 6.800 dari permukaan laut (mdpl).

Puncak Kailash

Seperti halnya keberadaan gunung gunung lainnya di Himalaya termasuk Mount Everest tinggi 8.888 mdpl yang dapat ditaklukkan oleh para pedaki. Sedangkan, jalur tirtayatra dengan Parikrama Kailash di wilayah api abadi Dhormala Pass dan danau tertinggi Gauri Kund, ada pada ketinggian 5.700 mdpl. Kesucian, Gunung yang dipenuhi salju abadi sepanjang Oktober hingga Mei itu, bukan saja dimuliakan oleh umat Hindu, Budha, dan Jain, termasuk kepercayaan Bon, agama kuno setempat Tibet. Hindu mempercayai Gunung Kailash sebagai tempat tinggal keluarga Shiva. Budha menyakini sebagai mandala poros alam semesta dan juga tempat tinggal Budha Demchong.

Adalah “Yogini Mahakailai Laksmi Tunjung”, mantan dagang nasi, di Denpasar, merupakan satu diantara beberapa pemuja Shiva asal Bali, yang dapat anugerah tirtayatra dengan parikrama sejauh 52 kilometer. Normalnya rata rata ditempuh selama 3 hari, namun bisa juga perlu 4 hari, jika ada agenda ke tempat

yang sangat dekat sekali jaraknya dengan Gunung Kailash yakni di “sharanam sparsan” . Untuk mengaapai tempat itu, naik dari northface Dirapuk Gompa. Dengan realitas itu, seakan Mahakailai Laksmi Tunjung, membuktikan domain fisik karena sudah mencapai umur di atas 50 tahun ,hanya sebuah angka dan batasan persepsi semata, sementara niat, tekad, konsistensi dan pastinya anugerah Shiva, merupakan kunci utama sukses parikrama pada medan dengan oksigen tipis dengan suhu “minus”5-10 celcius. Di Sharanam Sparsan, pada ketinggian sekitar 5.400 mdpl itu sang yatri mendapatkan kesempatan puja, sujud upasana, abhiseka lingam dengan penampakan penuh kasih Shiva Mahadewa , melalui lingaachala Gunung Kailash. Berkah itu diperoleh setelah sehari semalam melewati Pintu Yama atau Yamadwar di wilayah south face, muka Shiva arah bagian selatan. Memang, siapapun yang berkesempatan emas, menapak pertiwi parikrama di Gunung Kailash, awalnya berangkat dari Desa terakhir Tarchan, dengan titik start dari Yamadwar. Di sana, setiap perserta berdoa khusuk memohon kepada Dewa Yama, agar diberkati , tiada halangan menyambut anugerah Shiva, parikrama mengitari Gunung suci Shiva itu. Dengan berkah unlimited Shiva itu, dipercaya yang terpilih, bisa memenuhi panggilan Mahadewa secara sekala ketika masih hidup atau hayat dikandung badan.

Dalam perspektif yoga, seperti halnya sang yogi umur 9 tahun Nachiketa, sudah terbebas total dari mulut Dewa Yama, atau istilahnya Dia sudah mampu mewujudkan “mrtyur mukha pramuktah” itu, mengacu ajaran disiplin yogaagni Naciketa sebagaimana tertuang pada Katha Upanisad.



Banyak ujian Parikrama Kailash

Untuk mendapatkan berkah Shiva tirtayatra, parikrama di Gunung Kailash itu kata Yogini Mahakailai Laksmi Tunjung, benar benar sangat tidak mudah. Perlu persiapan matang dan sangat kompleks. Bukan saja terkait anggaran yang mencapai puluhan juta rupiah, juga soal fisik termasuk juga spiritualitas. Jika, gampang beberapa orang kaya akan sangat mudah terpanggil ke sana. Namun, karena bisa jadi belum ada panggilan suci, modal kekayaan yang dimiliki bukan diprioritaskan untuk yatra ke Kailash. Sebaliknya, jika sudah Shiva memberikan panggilan, meski tak punya uang, maka pastinya anugerah unlimited menapak Kailash secara sekala itu bisa digapai. Dari 50 orang jumlah rombongan lima dari Bali saat 2017, dua diantaranya bule, termasuk seorang Sadhu, banyak yang tidak bisa menembus limit indeks VO2 Max - Volume Oksigen Maxsimal yakni di angka 70. “Pada pengukuran pertama saya sempat dibawah limit 70, beruntung besok nya bisa melewati limit. Sedangkan empat rekan asal Bali sudah happy karena sudah lebih awal, lewat indeksnya,” ujar Maha Kailai Laksmi. Namun keanehan lain, ada seorang yatri sudah bisa lewat, tetapi dikembalikan oleh kuda yang dinaiki, ada juga karena kehilangan kamera, memilik tidak melanjutkan perjalanan ke etape kedua menuju Zutukpuk Gompa.

Ujian lainnya, Dirinya juga pada saat di Hotel Himalaya Tarchan, mendapat pengalaman anubawa diminta tidak lagi di bumi ini, melainkan sudah saatnya ke alam niskala. “Bahkan saya diberikan mahkota yang di depanya berisi asesoris hijau oleh seorang dewi cantik. Sudah waktunya kamu memakai mahkota itu nak. Saat itu saya juga mohon berkah untuk menikahkan anak dan menjalankan tugas tugas di dunia. Akhirnya kesadaran tiang pulih karena didoakan juga oleh teman-teman,” ujar Mahakailai Laksmi yang sempat dua kali mati suri akibat sakit yang tak bisa dideteksi ketika tinggal 7 tahun di Lombok, namun setelah pulang ke Bali sempat ke Jakarta, berangsur angsur sembah total. Bahkan, juga dapat berkah rejeki lainnya dari petunjuk disuruh jualan (medagang) nasi, akhirnya puluhan are tanah dan beberapa properti rumah bisa dijadikan warisan anak anak.

Pada Parikrama pertama Gunung Kailash 2017, melewati jalur ibukota Tibet di Lhasa, jadi dari Kathmandu , Nepal harus terbang dulu, ke kota tempat Istana Lama Pothala di ketinggian 4000 mdpl, kemudian lewat jalan darat sejauh 3000 km menuju Tarchen, melewati kota Gyantae, Shingaste, Saga, Manasarovara hingga Tarchen. Nah, pada kesempatan kedua 2019, dari Nepal melewati perbatasan - border - di Kaerung. Rutenya lebih pendek dari Lasha - Tarchen, startnya dari Kaerung langsung ke Saga, Manasarova dan Tarchen. Meski juga perjuangan berat karena harus melawan tipisnya oksigen, akibat pengaruh elevasi ketinggian.

Bersyukur pada kesempatan kedua yatra selama 4 hari bisa menembus Sharanam Sparsan. Pada hari kedua naik dari Dirapuk Gompa, selama 5 jam. Jaraknya sudah sangat dekat sekali dengan Gunung Suci Kailash. Ketika itu Yogini Mahakailai Tunjung, juga dapat pengalaman bhatin bisa lama sujud karena melihat kaki suci yang berisi gelang indah di kakinya. “Lama tiang lemes, jika tak ada kaki suci yang tiang sujudi, bagaimana saya bisa sangat lama sujud di salju abadi yang dingin itu.

Atas anugerah itu, saya bener benar menerima kebahagian luar biasa,” ujar Yogini Mahakailai Laksmi


Selama dua kali kesempatan bisa parikrama secara sekala di Gunung Kailash, semua itu membuat dirinya sangat suprais. Sebab, Dia tak menyangka sama sekali, dalam hidup ini mendapat anugerah luar biasa itu. Yap, semua pastinya karena berkah unlimited Shiva Mahadewa. “Sangat yakin tanpa anugerah-Nya maka tidak mungkin mampu mewujudkan impian sangat suci itu. Namun, jika Shiva Mahadewa sudah memanggil, maka berat sekalipun rintangan yang harus dihadapi, pasti bisa dilalui dengan elegan bahkan penuh rahmat. Tyang pribadi merasakan Tuhan itu Mahabaik dan Mahacinta kasih. Karena berkat-Nya lah bisa mandi suci di Manasarovara, puja, abhiseka linga bahkan Homa beberapa kali di Manasarovara termasuk di Dirapuk, di ketingian 4.900 mdpl,” ujar putri pertama 
dari Wayan Bukit dan Ibu (alm) Ni Made Roti.


Keterusan Tirtayatra

Pentingnya perjalanan suci atau tirtayatra, bukan saja dianjurkan Rgveda dan Yayurveda, Atharvaveda, Mahabharata dan juga Kitab Suci lainnya. Terkait berkah tirtayatra itu juga dimuat pada Kitab Sarasamuscaya berbahasa Jawa Kuno karya Maharishi Vararuci, yang merupakan kutipan-kutipan sloka Mahabharata mahakarya Begawan Vyasa, yang aslinya berbahasa Sanskerta. Di sana dibahas keutamaan “Tirthayatra” khususnya pada Sloka 277 dan 279. “Ada orang perilakunya seperti ini, ia tidak diliputi kemarahan, benar-benar Satya, teguh pada Brata (janji diri), kasih sayang kepada semua mahluk dan memiliki keyakinan kuat orang lain, tidak berbeda dengan dirinya sendiri. Demikian selalu dirasakannya. Maka orang yang tingkah lakunya baik seperti itu, pahala Tirthayatra kelak diperolehnya.

Yang dimaksud Tirthayatra adalah berkeliling dengan niat suci mengunjungi pura, temple untuk memperoleh anugerah air suci. Hemat Yogini Mahakailai Laksmi ,

141

bukan saja karena sudah ada petunjuk dari sloka itu, setelah pensiun dimana usaha Dagang Nasi telah diserahkan kepada anaknya, dorongan tirtayatra yang memang kuat sejak muda itu akhirnya bisa diwujudkan lebih sering. “Saya sangat bahagia sebab bisa keterusan sampai hari ini lakukan tirtayatra. Bahkan sering dipercaya nganter temen teman, sangat senang di masa tua ini, masih ada kesempatan bernafas ini, ternyata masih berguna, diperlukan teman teman, jadi bisa bareng dapat sujud, puja, meditasi, melukat di tempat sangat sangat suci itu,” ujar Ibu kelahiran Dusun Gunung Kangin, Baturiti, Tabanan, yang ketika muda aktif menjadi pemimpin Pramuka, Osis selain suka berbagai olahraga voli, pingpong, bulutangkis dan ternyata juga pandai menari Bali, sering jadi bintang kelas.

Menurutnya, tirtayatra yang sudah dilakukan, tak saja di pura yang ada di Bali, Jawa, Lombok, Papua, Kalimantan, Malaysia, Singapure, Thailand, juga tercatat 4 kali ke Nepal, 2 kali ke Tibet, dan puluhan kali ke India. Bahkan berkesempatan ke -12 jyotirlingam yang tersebar didaratan di 12 kota suci di India. Diawali dari Prashanti Nilayam, kemudian ke Srisailam Manikarjuna, Bimashankara, Trayembakeswar, Somnath, Omkareswar, Nageswar, Vaidyanateswara, Mahakala Ujain, Gusmeswara hingga Rameshwara di Setubanda, Tamilnadu. Dua lainnya yakni Viswesnatha di Waranasi dan Kedarnath di Himalaya sudah lebih dulu. Nah setelah kembali ke Prashanti Nilayam, dari perjalanan kurang lebih 7000 km selama 18 hari menyusuri India. Ketika di Puttaparthi, Begawan Sri Satya Narayana yang menuntun, memtransfer banyak mantra. Ketika tangannya dipegang pegang dilihatnya ada sinar mengalir melewati pembuluh darah ke seluruh tubuh hingga ke rambut. “Sad gurulalah yang membebaskan saya di alam ini. Sosok luhur itu menjadi awan putih, kemudian berubah menjadi Shiva,” terang Yogini Kailai Laksmi, nah keesokan harinya membeli buku di Bookshop, ternyata di buku edisi Indonesia itulah, secara jelas tergambar pengalaman dirinya sejak kecil hingga menua. “Makanya saya memborong semua buku yang dijual di Bookstore itu,” tambahnya.


Pada kesempatan lain melakukan yatra di Lingga es Armarnath, di wilayah Kashmir, pengunungan Himalaya. Sempat terpisah dari rombongan akibat visa tak valid, kemudian bisa menyusul sendiri, dan ketika turun dari Amarnath, masuk di Golden Temple, di sana diberikan banyak hadiah sari, 
garlan, permen. “Pemberian itu karena sang Pandit yang juga guru dapat wangsit, saya dibilang sangat disayangi Mahadewa. Saya saja yang banyak dapat hadiah, sementara teman lain masuk saja susah masuk temple karena ramainya pengunjung. Ketika itu tanpa sadar saya terpisah dari rombongan, seakan ada yang menuntun,” kata Kailai Laksmi Tunjung.

Dirinya juga sempat yatra, Cardham - Yamunatri, Ganggotri, Kedarnath, Badrinath, “Meski harus menunggu tiga hari karena faktor tanah longsor, akhirnya berkat Shiva, bisa mencapai wilayah wilayah sulit di Pegunungan Himalaya, yang terkenal dengan jurang jurangnya yang dalam dan curam,” tambahnya. Juga sudah ke Panca Prayag, Goa Wasistha, Risikesh, Haridwar. Ketika suatu kesempatan di Haridwar, air gangga surut sengaja dibendung, saat itu ada petunjuk harus ke sungai yang sedang kering. “Saya kemudian dapat banyak murti linggam, archa Durga, “ ujar Yogini Kailai Laksmi.



Juga beberapa kali ke Taj Mahal Agra, Mathura, Brindawan, termasuk mengikuti Kumbamela di Prayagraj, Waranasi. Bahkan pada Mahashivaratri 15 Februari 2026 lalu, sempat tirtayatra ke Muktinath, di Pegunungan Himalaya yang ada di Nepal, dengan rombongan dari Malaysia. Kehadiran ke Muktinath sebetulnya sudah ada petunjuk saat diberikan saligram - linga nya Dewa Wisnu oleh seorang Pendeta di Muktimandala, Pasupatinath Temple di Kathmandu tahun 2019. Dikatakan, saligram ini berasal dari gunung Muktinath, “Suatu saat kamu akan ke sana. Ya, benar setelah 7 tahun berlalu, berkah tirtayatra ke Muktinath akhirnya terwujud, sempat juga mandi di 108 pancuran suci di kawasan Muktinath itu, selain bawa oleh oleh Saligram, ciri khas di Muktinath,” urai Yogini Kailai Laksmi Tunjung sumringah.


Ya sudah pasti atas semua berkah tirtayatra itu, Dia menyampaikan penuh rasa bersyukur , atas berkah dari Hyang Widhi Wasa, Ida Bethara, Leluhur sami, yang Maha baik dan Maha Kasih Sayang. “Tanpa intervensi anugerah Beliau, Hyang Shiva Mahadewa, tak mungkin saya dapat berkah napak pertiwi dan juga mandi suci di tempat tempat sangat suci itu,” ujar kakak dari Ni Komang Suaranya, I Ketut Sarya, dan paling bungsu I Wayan Adi Suantara. Lalu apa kuncinya, selalulah berusaha berbuat baik, jangan menyakiti orang apalagi memfitnah teman, saudara lebih lebih orang tua. Selalu membantu sesama dengan iklas, “Jangan pernah ada dusta, jujur, dan menyayangi semua ciptaan dengan kasih. Berusaha disiplin dan gigih bershadana esktra, tapa, brata, yoga dyana samadi, all out tanpa reserve,” pungkas mantan guru agama di Balikpapan, Kaltim itu. 


Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 03

  KATA PENGANTAR Om Swastyastu Jajaran Redaksi sangat berbahagia dan sekaligus mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa, karena majal...