Resensi Buku : Be Here Now

 


Judul : Be Here Now

Penulis : Ram Dass

 

Tema Utama : Kesadaran Sunya
Pendekatan : Komunikasi Universal

Oleh Sang Hadir di Saat Ini, Shrira Ganachakra,

Yang berhenti mengejar masa depan, dan masa lalu pun melepaskan, tanpa cerita dan itu sudah cukup, tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu disingkirkan. Di sini, di saat ini, Yang Ada menyatakan diri-Nya.

 

Pendahuluan Teologis: Kehadiran sebagai Jalan Pembebasan

Be Here Now bukanlah buku dalam pengertian akademik konvensional. Ia adalah mantra visual, kitab pengalaman, dan kesaksian spiritual. Ditulis oleh Ram Dass—nama spiritual dari Prof. Richard Alpert, buku ini menjadi salah satu teks spiritual paling berpengaruh abad ke-20, terutama dalam menjembatani spiritualitas Timur dan pencarian eksistensial Barat. Secara teologis, Be Here Now mengajukan satu tesis radikal namun sederhana: Pembebasan tidak terjadi di masa depan, melainkan dalam kesadaran saat ini. Inilah ajaran yang sangat sejalan dengan Hindu Dharma, khususnya Advaita Vedanta, Bhakti Yoga, dan laku kehadiran (smṛti/sati).

Biografi Spiritual Penulis: Dari Richard Alpert ke Ram Dass

Richard Alpert adalah profesor psikologi di Harvard University, sejawat Timothy Leary, dan pelopor riset kesadaran melalui psikedelik. Namun, pengalaman ekstatis yang ia cari melalui zat kimia justru mengantarnya pada kekosongan eksistensial.

Perjumpaannya dengan Neem Karoli Baba (Maharaj-ji) di India menjadi titik balik teologis. Sang guru tidak menawarkan teori, melainkan kehadiran sadar—sebuah darśana hidup. Dalam prosesi abhiseka spiritual, Richard Alpert menerima nama Ram Dass, yang berarti: Hamba dari Rama (Kesadaran Ilahi). Perubahan nama ini bukan simbol administratif, melainkan pergeseran ontologis: dari pencari pengalaman → menjadi pelayan kesadaran. Dalam Hindu Dharma, perubahan nama menandai kelahiran spiritual (dvija)—lahir kembali ke dalam kesadaran dharma.


Kerangka Weda: Saat Ini sebagai Gerbang Keabadian

Ajaran inti Be Here Now berakar kuat dalam Weda dan Upanishad, meski disampaikan dengan bahasa modern. Athato brahma-jijñāsā (Brahma Sutra 1.1.1) “Kini, saat inilah, pencarian Brahma dimulai.” Kata atha (kini) menjadi kunci teologis: pencarian tidak menunggu kondisi ideal. Ram Dass menafsirkan ini secara eksistensial: Kesadaran tidak menunggu; ego yang selalu menunda.


Be Here Now dan Bhagavad Gita: Yoga Kehadiran

Dalam Bhagavad Gita, Krishna berulang kali mengajak Arjuna untuk hadir sepenuhnya dalam tugasnya, tanpa terikat masa lalu atau masa depan.

Yogasthah kuru karmani (Bhagavad Gita 2.48) “Berdiam dalam yoga, lakukanlah tindakan.” Ram Dass menafsirkan yogastha sebagai kesadaran hadir total. Dalam Be Here Now, ia menulis bahwa sebagian besar penderitaan manusia lahir karena:

  • tubuh berada di satu tempat
  • pikiran berada di tempat lain

Kehadiran menjadi praktik yoga paling mendasar.


Dialog Eksplisit dengan Advaita Vedanta

Dialog dengan Śaṅkarācārya: Antara Pengetahuan dan Pengalaman

Advaita Vedanta klasik menekankan realisasi Brahman melalui jñāna. Namun Ram Dass membawa Advaita ke wilayah pengalaman sadar. Jika Śaṅkara berkata: Brahman hanya dapat dikenal melalui pengetahuan non-dual Maka Ram Dass menjawab secara praksis: Pengetahuan tanpa kehadiran hanyalah konsep. Di sini, Be Here Now berfungsi sebagai jñāna yang diinkarnasikan, bukan sekadar dipahami.

Dialog dengan Ramana Maharshi: Saat Ini dan Diri Sejati

Ramana Maharshi mengajarkan ātma-vicāra—siapakah aku? Ram Dass memperluas pertanyaan itu menjadi: Siapakah aku saat ini—sebelum pikiranku menjawab? Keduanya bertemu pada satu titik: saat ini adalah pintu menuju Diri Sejati. Aham Brahmasm (Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10) Kesadaran ini tidak dipikirkan—ia dialami dalam kehadiran.

Dialog dengan Bhakti Yoga: Dari Aku ke Engkau

Keunikan Ram Dass adalah integrasinya dengan Bhakti Yoga. Jika Advaita menekankan kesatuan, Bhakti menekankan relasi cinta. Ram Dass menunjukkan bahwa: Kehadiran tanpa cinta menjadi kering, cinta tanpa kehadiran menjadi sentimental. Dalam hal ini, Be Here Now adalah Advaita yang jatuh cinta.

Dimensi Teologi Universal

Ajaran Be Here Now bersifat lintas tradisi:

  • Dalam Kristen: the eternal now (Meister Eckhart)
  • Dalam Zen: suchness (tathatā)
  • Dalam tasawuf: waqt (kesadaran saat kini)

 

Namun fondasi Hindu Dharma tetap kuat: kesadaran sebagai hakikat Brahman.

Apa yang Dapat Ditiru dan Dijalankan

Dari Be Here Now, terdapat laku teologis yang konkret:

  1. Latihan Kehadiran Harian Makan, berjalan, berbicara dengan kesadaran penuh.
  2. Mengamati Ego Tanpa Memerangi Ego tidak dibunuh, tetapi disadari.
  3. Menghidupi Dharma sebagai Pelayanan Hidup bukan untuk menjadi “suci”, tetapi bermanfaat.
  4. Menyatukan Jñāna, Bhakti, dan Karma Inilah Hindu Dharma yang hidup dan utuh.

 

Refleksi Teologis Pribadi

Be Here Now mengajarkan bahwa banyak pencarian spiritual gagal bukan karena kurang disiplin, tetapi karena tidak hadir. Buku ini menyadarkan bahwa: Surga tidak jauh—ia selalu kini. Neraka pun sama—ia muncul saat kita menolak saat ini. Dalam terang Hindu Dharma, Ram Dass menunjukkan bahwa moksha bukan pelarian dari dunia, melainkan rekonsiliasi total dengan keberadaan.

Penutup: Kehadiran sebagai Sakramen Kesadaran

Be Here Now adalah kitab kesaksian tentang bagaimana Hindu Dharma hidup dalam jiwa modern Barat. Melalui perjalanan Richard Alpert menjadi Ram Dass, kita melihat bahwa:

  • Hindu Dharma bukan milik etnis
  • Advaita bukan milik zaman
  • Kesadaran bukan milik siapa pun

 

Ia hanya menunggu untuk dihadirkan. 

Datanglah sepenuhnya ke saat ini, 

dan engkau akan menemukan bahwa Yang Ilahi tidak pernah pergi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...