Ia Yang Sudah Menghayati “Jati Dirinya”, Tak Mengikatkan Diri lagi pada Hal Duniawi, Hidup hanya dengan “Orientasi Spiritual Sepenuhnya”
“Om Shiva Hara Hara Mahadewa ya Om”
Pada setiap hari Buda (Rabu) Kliwon wuku Sinta, umat Hindu memperingati sebagai Hari Raya Pagerwesi. Hari Raya Pagerwesi, dipercaya sebagai turunnya Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi- Nya sebagai Sang Hyang Paramesti Guru. Pada hari raya ini, umat Hindu biasanya melakukan introspeksi, “refleksi” terkait “Jati diri” Dharma. Dalam kehidupan sosial direalisasikan dalam wujud kewajiban hidup suci yang diasosiasikan sebagai “swadharma”.
Dalam ajaran Hindu, masing-masing orang atau masyarakat dikelompokkan menurut tugas dan pekerjaan (guna & karma) yang ditekuninya. Secara garis besar guna & karma dibagi menjadi empat kelompok masyarakat menurut swadharma-nya.
Bhagawan Wararuci dalam Kitab Sarascamuscaya, menjelaskan empat kelompok itu disebut “catur warna” sesuai guna dan karmanya yakni dipahami sebagai: brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra. Brahmana adalah ia yang lahir dua kali, kelahiran pertama secara biologis dari kandungan ibunya, dan kelahiran kedua secara niskala atau spiritual, dari kandungan pengetahuan Weda setelah prosesi diksa aguron guronya, dengan gayatri mantra dan berkah Acharya atau Guru Nabe nya.
Keempat golongan ini wajib melaksanakan ajaran Maharsi Manu, antara lain bertingkah laku jujur, tidak mementingkan diri sendiri, dapat menasehati diri, dan mengendalikan hawa nafsu.
Kitab, Saracamuscaya juga merujuk kitab Manawa Dharmaśastra karya Maharsi Manu. Namun dalam Saracamuscaya tidak dijumpai keterangan yang bersifat eksplisit terkait pembagian kerja berdasarkan gender. Artinya, kerja seseorang semata-mata ditentukan oleh karakter diri dalam swadharma yang dikakukan mengacu pada profesi yang ditekuni. Jadi, sama sekali tidak berdasar jenis kelamin. Karakter dan kemampuan profesional itu didapat melalui proses belajar pada masa hidup belajar yang disebut brahmacari. Tidak peduli apakah ia laki-laki atau perempuan.
Bhagawan Wararuci menjelaskan mekanisme lebih detail konsep catur warga itu. Pertama menarasikan tentang dharma, yaitu dasar dan cara hidup yang bajik. Sedangkan, bagian kedua mendeskripsikan tentang artha, yaitu tentang materi yang memiliki tiga fungsi utama yakni menegakkan kebajikan, untuk tujuan amal, dan melipat-gandakan modal usaha. Bagian ketiga tentang karma (kama), yaitu segala hal yang dipandang memberi rasa suka duniawi. Sedangkan, bagian keempat terkait moksa, tujuan hidup terakhir, yaitu mencapai kalepasan.
Bhagawan Wararuci, menambahkan hanya dengan mengusahakan dharma seseorang dapat memperoleh artha, kaama dan moksa. Artha dan kaama adalah tujuan hidup duniawi, sedangkan moksa adalah tujuan hidup rohani. Melaksanakan dharma itu dalam arti berbuat berdasarkan kebenaran sebagai yang dianjurkan kitab suci Weda disebut subhakarma. Sebaliknya, adharma adalah berbuat mengingkari kebenaran sebagai yang dianjurkan kitab suci yang disebut asubhakarma.
Seseorang akan dapat meraih empat tujuan hidup itu apabila ia menjalani tahapan hidup secara wajar dan benar. Ada empat tahapan hidup, yaitu yang disebut catur asrama: (a) masa hidup sebagai seorang pelajar disebut brahmacari. Pada tahap ini seorang harus tekun mempelajari dharma. Dalam konteks ini dharma berarti kebenaran yang berwujud ilmu pengetahuan duniawi maupun rohani. (b) dilanjutkan masa hidup berumah tangga yang disebut grehasta. Ketika hidup di masa ini seseorang bertugas merealisasikan dharma menjadi swadharma. Artinya, seseorang harus mengaplikasikan ilmu yang dikuasainya menjadi keterampilan hidup untuk mendapatkan artha dan kaama, kesejahteraan duniawi, baik untuk keluarga maupun untuk masyarakat. Ia bertanggung-jawab penuh baik secara horisontal, yaitu kepada masyarakat lingkungannya maupun vertikal, yaitu kepada Tuhan, leluhur, termasuk keturunannya. (c) Tahap hidup yang ketiga disebut wanaprasta, yaitu seseorang telah melimpahkan tanggung-jawabnya sebagai kepala rumah tangga, ia kemudian mulai mengarahkan perhatiannya kepada hal-hal yang bersifat rohani. Pada tahap ini seseorang mulai membenamkan diri nya dengan mendalami pelajaran spiritual. (d) Pada akhirnya sampailah seseorang pada tahap hidup keempat, disebut bhiksuka atau Sanyasin. Seseorang yang hidup di tahap ini ditandai sikap dan perilakunya yang merdeka. Artinya, ia tidak lagi terikat segala hal yang bersifat duniawi. Sebab, Sang Bhiksuka itu telah sampai pada diterminal terakhir hidupnya, yaitu menemukan dan menghayati Jati Dirinya. Nah, seperti itulah tahapan hidup yang ideal berlaku untuk umat Hindu.
Ia yang berhasil merealisasikan hidupnya seperti itu dipandang sebagai orang “bijaksana”. Jadi, simpulannya “dharma” itu tampil dalam wujud berbeda-beda pada masing-masing tahapan hidup tersebut. Dharma bagi seorang brahmacari adalah belajar, terutama mendapat karakter mulia dan keterampilan hidup. Dharma bagi seorang grehasta adalah kerja yang bajik terutama memperoleh artha dan kaama. Dharma, bagi seorang wanaprasta belajar tingkat lanjut, yaitu mendalami hal-hal yang bersifat rohani dan melakukan tapa-brata. Sedangkan, Dharma bagi seorang Bhiksuka atau Sanyasin, adalah “hidup merdeka”, maksudnya ia tidak lagi terikat atau mengikatkan diri dengan kehidupan duniawi,
Lalu bagaimana Sang Bhiksuka atau Sanyasin itu, mengaplikasikan kehidupannya yang riil di jagat ini? Ia itu senantiasa, hanya hidup berorientasi pada domain spiritual sepenuhnya.
Pentingnya “Lahir” sebagai “Manusia” Ia, dapat Menolong Dirinya Sendiri dengan berbuat “Kebajikan”
Sesuai Sarascamuscaya:
Manusah sarwabhūteșu warttate wai śubhāśubhe, aśubheśu samawiwişmam śubheswewāwakārayet. Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayakěn ikang śubhāśubhakarma, kuneng panentasakěna ring subhakarma juga ikang aśubhakarma, phalaning dadi wwang [SS:3]
Artinya:
Di antara semua makhluk hidup, hanya yang lahir sebagai manusia sajalah yang dapat melakukan perbuatan baik atau buruk. Entaskanlah [ruwatlah] perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik. Itulah pahala [tujuannya] menjelma menjadi manusia.
Upadbhogaih parityaktam nātmānamawasādayet, candālawepi mānuṣyam sarwwathā tāta durlabham [SS:3]. Matangnyan haywa juga wwang manastapa, an tan paribhawa, si dadi wwang ta pwa kagöngakěna ri amběk, apayapan paramadurlabha iking si janma mānusa ngaranya, yadyapi candalayoni tuwi.
Artinya:
Oleh karena itu, janganlah bersedih hati walau hidupmu tidak makmur. Berbesar hatilah, karena kamu telah berhasil lahir sebagai manusia. Sebab, betapa sulitnya dapat menjelma menjadi manusia, walaupun kini kamu lahir sebagai orang hina.
Iyam hi yonih prathamā yām prāya jagatīpate, ātmānam śakyate tratum karmabhih śubhalakşaņaih [SS:4]. Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wěnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang śubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang.
Artinya:
Sebab, betapa utamanya dapat menjelma menjadi manusia. Mengapa demikian? Karena, kamu dapat menolong dirimu dari keadaan sengsara dengan berbuat bajik. Demikianlah keunggulannya menjelma menjadi manusia.
Ihaiwa narakawyādheścikitsām na karoti yah, katwā niraușadham sthānam sarujah kiny kariṣyati [SS:5]. Hana pwa wwang tan gaweyakěn ikang śubhakarma, tambaning narakaloka kangken lara, pějah pwa ya, wwang alara mara ring deśa katunan tamba ta ngaranika, rūpa ning tan katěmu ikang enak kolahalanya.
Artinya:
Itu ada orang yang tidak mau melakukan perbuatan bajik. Ia itulah yang bagaikan penyakit. Bila ia mati, ialah yang dianggap obatnya alam neraka. [Sebaliknya bila hidup], ia pastilah hidup berpenyakitan dan berada di tempat yang miskin obat. Artinya, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan kebahagiaan dari segala usahanya.
Sopanabhutam swagasya manusyam prapya durlabham, tathātmānam samādayād dhwamseta na punaryatha [SS:6]. Paramarthanya, pěngpěngën ta pwa katěmwaniking si dadi wwang, durlabha wi ya ta, sāksāt handaning mara rin swarga ika, sanimitaning tan tiba muwah ta pwa damělakěna.
Artinya:
Simpulannya, pergunakanlah dengan sungguh-sungguh kesempatan menjelma menjadi manusia ini. Karena, kesempatan ini sungguh sulit diperoleh, bagai memperoleh tangga untuk masuk sorga. Maka, segala perbuatan baik, yang menyebabkan kamu tidak jatuh [sengsara] lagi, itulah yang harus dan patut dikerjakan.
Hari Pagerwesi
Di hari pemujaan kepada Hyang Pramesti Guru, kita patut merenung, melakukan introspeksi dan refleksi mendapat terkait “hakikat” kehidupan dan bagaimana sejatinya swadharma kita hidup di jagat maya pada ini. Nah, di Hari Suci Pangerwesi, dipercaya Sarwa dewa, atau para Dewata semua, akan memberikan anugrah kepada umat manusia berupa kekuatan sraddha, kerahayuan dan kedirgayusan. Hal tersebut jelas disebutkan dalam lontar Sundarigama yaitu:
Buda Kliwon Sinta ngaran Pagerwesi payogan sanghyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawasanga ngawerdhiaken sarwa tumitar sarwa tumuwuh ring bhuana kabeh.
Berdasarkan uraian dalam lontar Sundarigama tersebut, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini memiliki makna bahwa Hyang Pramesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Guru Sejati.
Dalam Guru Gita sloka 40 disebutkan:
Gukarascandhakarasca rukarastannirodhakrt, dan hakaravinasitvad gururityabhidhiyate.
Gu adalah kegelapan, Ru adalah penghilangnya. Karena itu seseorang yang menghilangkan kegelapan itulah disebut “Guru”
Demikian juga dalam naskah Sivasamhita disebutkan:
Gurum santosa yatnena ye vai vidyam upasate, avalambena vidyayastasyah palam avapnuyat (III.12)
Ia yang setia terhadap suatu pengetahuan, yang senantiasa memperhatikan gurunya dengan penuh perhatian, pasti akan mendapatkan hasil dari pengetahuan tersebut.
Guruh pita gurur mata gurur devo na samsayah, karmana manasa vaca tasmat sarvaih prasevyate (III.13)
Tak ada keragu-raguan sedikitpun bahwa guru adalah Ayah, guru adalah Ibu, bahkan guru adalah Tuhan, dan dengan demikian ia harus dilayani oleh semuanya dengan pemikiran, ucapan dan perbuatannya.
Guru prasadatah sarvam labhyate subham atmanah, tasmat sevyo gurur nityam anyatha na subham bhavet (III.14)
Dengan anugrah guru, maka segala sesuatu yang baik yang berhubungan dengan dirinya akan tercapai. Oleh karena itu guru harus dilayani setiap hari kalau tidak maka tak akan mendapatkan keselamatan.
Ada juga rangkaian mantra yang tersusun dalam “Guru Strotram” sebagai berikut:
1. Akhandamandalākāram vyāptam yena carācaram Tatpadam darśitam yena tasmai śrīgurave namaḥ
Saya salut kepada guru yang memampukan saya untuk memiliki penglihatan Tuhan, yang meliputi semua entitas bergerak dan tak bergerak, serta mengelilingi seluruh alam semesta.
2. Ajñānatimirāndhasya jñānāñjanaśalākayā Cakşurunmīlitam yena tasmai śrīgurave namaḥ
Saya salut kepada guru yang membuka mata saya yang dibutakan oleh tabir gelap ketidaktahuan, dengan panah kebijaksanaan.
3. Gururbrahmā gururvişnuh gururdevo maheśvaraḥ Gurureva param brahmā tasmai śrīgurave namah
Saya salut kepada guru yang merupakan Trinitas Ilahi - Brahma, Visnu, dan Mahesvara, dan yang sungguh merupakan Tuhan Yang Maha Esa.
4. Sthāvaram jangamam vyāptam yatkiñcit sacarācaram Tatpadam darśitari yena tasmai śrīgurave namaḥ
Saya salut kepada guru yang memampukan saya untuk memiliki penglihatan Tuhan yang meliputi semua entitas bergerak dan tak bergerak di alam semesta.
5. Cinmayaṁ vyāpi yatsarvam trailokyam sacarācaram Tatpadam darśitam yena tasmai śrīgurave namaḥ
Saya salut kepada guru yang memampukan saya untuk memiliki penglihatan Tuhan, yang merupakan kesadaran murni, meliputi tiga dunia (dengan entitas bergerak dan tak bergeraknya).
6. Sarvaśrutiśiroratnavirājitapadāmbujah Vedāntāmbujasūryo yastasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru yang kaki teratainya bersinar dengan pancaran semua Veda yang tunduk kepada-Nya dan yang merupakan matahari yang membuat teratai Vedanta (filsafat tertinggi) mekar.
7. Caitanyaḥ śāśvataḥ śānto vyomātīto nirañjanaḥ Bindunādakalātītastasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru yang merupakan kesadaran yang tenang, penuh kebahagiaan, dan abadi yang melampaui ruang (langit) dan Bindu, Nada, dan Kalā (aspek pranava).
8. Jñānaśaktisamārūdhaḥ tatvamālāvibhūṣitaḥ Bhuktimuktipradātā ca tasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru yang merupakan penguasa semua kekuatan kebijaksanaan dan dihiasi oleh karangan bunga prinsip-prinsip tertinggi dan yang menganugerahkan kepada kita kemakmuran materi dan juga pembebasan tertinggi
9. Anekajanmasamprāptakarmabandhavidāhine Ātmajñānapradānena tasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru yang membakar belenggu karma (akibat perbuatan seseorang) yang terakumulasi selama banyak kelahiran, dengan menganugerahkan pengetahuan tentang diri.
10. Śoşaņam bhavasindhośca jñāpanaṁ sārasampadah Guroḥ pādodakam samyak tasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru, yang dengan membasuh kakinya (dan meminum airnya) lautan kehidupan dan kematian mengering dan rahasia kekayaan tertinggi terungkap.
11. Na guroradhikam tatvam na guroradhikam tapaḥ tatvajñānāt paraṁ nāsti tasmai śrīgurave namaḥ
Aku memberi hormat kepada guru yang melambangkan prinsip tertinggi dan pertobatan terbesar serta yang mewujudkan pengetahuan tertinggi tentang diri.
12. Brahmānandam paramasukhadam kevalam jñānamūrtim Dvandvātītam gaganasadṛśam tatvamasyādilakşyam Ekam nityam vimalamacalam sarvadhīsākşibhūtam Bhāvātītam triguņarahitam sadgurum tam namāmi
Aku memberi hormat kepada guru yang mewujudkan kebahagiaan tertinggi, dan pengetahuan hakiki, yang melampaui dualitas, tiga kualitas, dan semua emosi, yang merupakan satu prinsip abadi, murni, dan teguh yang meliputi seluruh ruang, dan yang menjadi saksi segala sesuatu dan tujuan semua filsafat.
13. Tvameva mātā ca pitā tvameva Tvameva bandhuśca sakhā tvameva sifatla Tvameva vidyā draviņam tvamevaban Tvameva sarvam mama devadeva
Engkaulah ibu dan ayahku. Engkaulah saudara dan sahabatku, Engkaulah ilmu dan kekayaanku. Ya Hyang Widhi Wasa, hanya Engkaulah segalanya bagiku.
14. Man-naathah Shri Jagan-nathah Mat-guru-shri jagad-guruhu Mad-atma sarva-bhutatma Tasmai Shri Gurave Namah.
Tuhanku adalah Tuhan Semesta Alam; Guruku adalah guru seluruh alam semesta dan Diriku adalah Diri dari semua. Hormatku di kaki teratai Guru yang telah mengungkapkan pengetahuan sejati seperti itu kepadaku.
Berdasarkan sloka-sloka, mantra dan strotram tersebut, maka jelaslah bahwa Tuhan itu tiada lain, adalah “Guru Sejati” yang patut dipuja dan dilayani agar senantiasa pikiran, hati dan jiwa kita selalu sadar atas hakekat sejati sumber dari segala sumber kehidupan itu. Salah satu wujud dan kesempatan pemujaan kepada Tuhan itu melalui perayaan hari suci Pagerwesi. Pada hari raya Pagerwesi ini kita sangat baik mendekatkan diri dengan cara: puja, japa, homa, abhiseka, dyana-samadi kepada Brahman , Hyang Pramesti Guru sebagai Sang Guru Sejati. Dengan melaksanakan puja, japa, tapa, brata yoga dyana samadi, berarti mewujudkan Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Pramesti Guru agar hadir memberikan anugerah unlimited / tak terbatas kepada kita.
Melalui bhakti dan kekutan yoga, usaha penyucian diri itu dipercaya akan dapat menembus berkah dari Hyang Pramesti Guru. Anugerah kekuatan itulah yang digunakan memagari diri kitq. Pagar Hyang Pramesti guru berupa ilmu pengetahuan (jnana) itu yang berasal dari guru sejati dipercaya yang paling kuat melindungi kita semua. Sebab guru sejati itu tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu inti perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru sejati agar Beliau dapat mengisi hati dan pikiran setiap umat- Nya dengan kesucian dan juga pengetahuan sejati. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini.
Pada hari Pagerwesi ini kita patut melakukan pemujaan di sanggah kamulan atau pamerajan dengan menghaturkan banten serta segehan. Pemujaan pada hari raya Pagerwesi ini juga ditujukan kepada para Pitara atau roh suci leluhur, dengan menghaturkan persembahan di pura keluarga seperti sanggah Dadya atau Paibon, termasuk juga di setra (kuburan). Pada malam harinya hendaknya juga melakukan yoga samadhi, memohon agar diberkati kekuatan sradha dan bhakti yang kuat dan meneguhkan budhi sehingga mampu menahan dan mengendalikan nafsu indriya serta juga menyadari diri (atma saksatkara). Hal itu sesuai pemaknaan hari raya ini yaitu, Pager yang terdiri dari “Pagar” yang melindungi dan Wesi yang berarti besi atau kuat. Sehingga kita benar bener kuat dan kokoh dalam sradha, bhakti dan yoga, sehingga tidak mudah tergoda dan terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan ajaran agama Hindu. Dengan kekuatan atau keteguhan sraddha dan bhakti kepada Hyang Widhi dan juga ajaran agama maka Brahman juga dipercaya akan menurunkan kesejahteraan , kesehatan, anandam bahkan juga mukti dalam kehidupan ini.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar