Pahamilah “Ibu dan Bapak”, Tuhan Sekala
Oleh: Sadhu Giriramananda
Buah apel jatuh tidak jauh dari
batangnya. Pepatah populer itu sepertinya sangat pas mengilustrasikan
keberadaan Ni Made Ratnadi, SE (62 tahun). Terlahir sebagai perempuan Bali, 3
November 1963, sepertinya secara natural dituntut multitalenta. Karena itu, ia
tak hanya sudah terbiasa dikondisikan ortunya Ketut Werna (bapak) dan Wayan
Warni (ibu) kerja keras sejak kecil, juga menjaga taksu kehormatan keluarga,
yang pastinya larut dan suntuk dalam format adat, kendala dengan upacara yadnya
yang kompleks. Namun, tak pernah terpikirkan sebelumnya, justru kemudian jalur
“vasanas dan samskara masa lalu, membawa dan membimbing dirinya pada dimensi
transformasi lebih luas, bisnis murni, properti, garment, jualan kuliner
vegetarian, aktif giat sosial humanis dalam pelayanan kemanusian “sevanam”
hingga suntuk bershadana, pulang ke dalam diri wujudkan atma saksatkara -
kesadaran diri yang suci.
Ternyata potensi multi talents dirinya sebagai cucu perempuan terwariskan dari leluhur, kakeknya yang memiliki kewisesan, kawikan prajnan pada era sebelumnya. “Ya kakek saya kata orang orang memang mumpuni, urusan niskala pada zamannya dulu” terang suami Martinus Gunawan Adiutama, yang dikarunia 2 anak dan kini sudah punya 6 cucu. Kecendrungan dan potensi dirinya berkembang menekuni urusan niskala secara lebih intens, bahkan sudah diaplikasikan secara membumi, sejak usia beliau 8 tahun. Saat kelas 3 SD , ia sudah diberikan tanggungjawab orang tuanya ngurus Merajan yang memiliki 11 palinggih. “Jadi sebagai orang Bali, memang setiap saat saya harus lakukan kewajiban membanten, ke Mrajan keluarga. Karena merasa itu tugas suci dititahkan orang tua saya lakoni dengan tanpa beban, dari action itu saya banyak belajar , implikasi positifnya saya hapal di luar kepala kapan akan Galungan dan hari hari besar lainnya beserta segenap jenis upakara apa saja, yang dipersiapkan,” kenang pembina Pasraman Sarwa Dharma Denpasar. Setelah dewasa Bu Made Ratna akhirnya memilih kuliah di Universitas Brawijaya Malang, Fakultas Ekonomi. Berbekal ilmu ekonomi, maka naluri bisnis nya meningkat, seiring terasah optimal lewat teori - teori ekonomi yang dipelajari. Maka tak heran, pada masa kuliah sudah bisa menghasilkan uang. “Banyak dari temen temen saya kuliah, 100 persen menghandalkan dukungan finansial dari orang tuanya, bukan bermaksud sombong, saya sendiri sudah bisa mandiri dari bisnis penjualan pakaian jadi yang lagi ngetren saat itu, “ kenang salah satu penguasa properti dan importir di Kota Bandung
Usaha kerasnya tak hanya di
lingkungan kampus juga ke daerah lain Kediri, Tulungagung, Blitar. Sehingga
bisa booming dengan omset Rp 1 juta per hari.
Namun, konsekuensinya keasyikan
bisnis kuliahnya pun terhambat. “Tetapi saya senang dan bersyukur akhirnya bisa
lulus tahun 1990,” kilah owner the Kranjang produsen Pie Susu Oleh Oleh.
Berbekal modal finansial dari bisnisnya sudah cukup, akhirnya dengan kalkulasi matang mencoba peruntungan di kota pusat garmen, bersama suami tercinta kemudian pindah ke Bandung setelah wisuda. Di Kota Parahyangan membuka toko penjualan baju grosir dan juga bisnis dekorasi artifisial. Dengan manajemen yang bagus, dan strategi mumpuni, usahanya berkembang pesat. Setelah relatif mapan secara ekonomi, ketertarikannya pada dunia spiritual pada masa kecil, kembali bangkit, setelah sempat kawin ala Katolik akhirnya kembali ke Hindu seiring kelahiran anaknya Lia, “Awalnya mulai sembahyang ke Pura Wiranathaloka di Cimahi, Bandung. Selanjutnya, terus termotivasi, jadi bukan saja sebatas ke Pura, juga menjalani rangkaian tirtayatra ke berbagai pura pura di Bali, bahkan aktif pembangunan pura ikut penggalian dana sekaligus penasehat untuk Pura Jagatkarta, Gunung Salak, Bogor,” kata owner Kue Pia Kukus Bali yang juga pernah buka Govinda Vegetarian Resto.
Walau belakangan ini lebih sering
berada di rumah leluhurnya di Denpasar, Kota Bandung tetap menjadi rumah
keduanya karena di sana sudah ada properti, bisnis yang eksis, bahkan Hindu
mendelegasikan dirinya masuk di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota
Bandung , atas pengabdiannya hingga mendapat Srikandi Award dan Duta Kampung
Toleransi dari Kesbangpol, Kota Bandung.
Sindrome kundalini
Setelah di sudiwadani jadi Hindu 2001, kemudian dipercaya memimpin persembahyang keluarga, hingga membuat tempat persembahyangan bersama, altar. Action positif dan konstruktif itu membuat kundalininya secara otomatis bangkit terlalu pesat bahkan tak terkendali. Akibatnya, relatif banyak muncul kesiddhi an dan kawisesan di luar rasional, yang diasosiasikan sebagai “sindrome kundalini” Badan terlalu panas ekstrim, sering terasa bumi bergetar, untuk menyelaraskan gelombang alfa di sahasrara, maka sering harus tidur di lantai agar sejuk dan terkendali. Lewat apresiasi kakaknya Dr Ketut Sudana, agar bisa lebih mengontrol sindrome kundalininya, maka disarankan mengikuti Transcendental Meditation (TM), bukan saja TM yang mengantarkan mendapatkan inisiasi tingkat master flying sutra, dan kemudian ikut organisasi mengembangkan pelatihan pelatihan di Bali , Bandung dan Lampung setelah melanglang bhuana belajar TM di Belanda, Swiss, Amerika, Thailand, Malaysia dan India, juga mendapat berkah inisiasi dari Master Ching Hai, Thaicai, juga mengikuti ajaran Sadguru Begawan Satya Narayana. “Transformasi pembelajaran secara spiritual itu sangat membantu elevasi kesucian kesadaran saya, dan juga membuat kundalini saya terkendali, namun lebih powerful,”” tukas yogini yang sudah melanglang ke lima benua dan banyak negara itu. Kesuntukannya pada peningkatan kesadaran diri (atma saksatkara) juga membimbing dirinya mendapatkan nama inisiasi “Dewi Ratna Wali” dari Shree Muni Gurudev ji Dattareya Hairdhakan, Himalaya tahun 2016, dan tahun 2024 menerima inisiasi Sidhiswar Brahmareshi Gurudev dari Tirupati, Andrapradesh.
Ibu dan Bapak, Tuhan Sekala
Kesuntukannya pada spiritual dari
pendekatan dwaita (ritual, bhajan, sevanam) hingga advaitha (meditasi dan
samadi) terus menguatkan motivasi pada kesadaran suci memantapkan subhashita,
wasudewa kutumbakam - sesungguhnya semua mahluk bersaudara, dan kesadaran
ishwara sarwa bhutanam - bahwa secara inmanem , Ishwara mengejewantah secara
melekat dimana mana pada semua ciptaanya. Maka, selain tangan kerja keras dalam
usaha, dan selalu lah hati penuh “Prema” diaplikasikan secara membumi dalam
gradasi, love all - cintai semua, serve all - berusaha melayanan semua, love
ever - selalu penuh kasih kepada semua mahluk dan jangan pernah menyakiti “hurt
never”
Ketika kita suntuk dalam shadana
meditasi , kata Bu Made Ratna, bukan saja akan menguatkan intelektual dan
logika (yukti) , juga pastinya pemahaman esoterik dan kesadaran suci yang lebih
holistik, hingga apresiasi “Ibu dan Bapak itu, sesungguhnya Tuhan sekala. Hal
itu juga dideklarasikan dalam Veda sebagai Matru Dewa Bawa dan Pitru Dewa
Bawa”.
Secara nyata, Tuhan sekala itu
sesungguhnya Ibu dan Bapak kita, “Karena itu jangan pernah sekali kali melawan
beliau, jadikankanlah Ibu dan Bapak itu sebagai dewa semasih mereka hidup,
patuhi, ikuti, sayangi, dengarkan pesan pengalaman beliau, dan juga jangan lupa
sujud kepada ortu kita,”” pintanya.
Materi Mengikuti
Jika kita sudah “total surrender”
melakukan penyerahan diri total, dengan sadhana yang holistik dan disiplin,
maka bukan bermaksud sombong, materi akan mengikuti. “Dewi Laksmi akan senang
kepada kita, maka rejeki pun lancar,” kata sosok low profile, yang dekat dengan
berbagai tokoh nasional dan internasional itu.
Seperti orang Bali, bakat dan potensi spiritualnya sudah bagus, mereka melakukan pada dimensi bakti dan karma lebih dominan. Jika, ditambah laku jnana dan raja yoga melalui meditasi akan lahir pemimpin pemimpin informal Bali lebih baik termasuk jauh lebih berdaya terkait ekonomi. Sayangnya, di Bali masih kurang memasyarakat lebih luas, terkait peningkatan lebih membumi , transformasi aspek jnana dan raja yoga, guna melahirkan calon calon pemimpin pemimpin Hindu yang mumpuni, perpandangan luas terkait literasi, universal sehingga bijaksana.
Nah apa solusi efektif bagi manusia Bali, untuk mewujudkan tujuan agama kita atmanan moksartham jagadhita ya ca ity dharma, secara lebih komprehensif? Ya mau tidak mau, dan suka tidak suka, kita harus cerdas. Caranya, artha yang sudah ada dan cukup untuk hidup, maka harus dikendalikan dengan dharma. Jadi, jangan pernah artha itu dipakai poya poya sendiri, harus dibagi bersama berdasarkan dharma. Kemudian, tujuan akhir hidup kita yakni moksah harus diupayakan kerja keras secara optimal dengan semangat kama. “Jadi Empat kerangka Tujuan Agama Hindu itu, yakni : Artha, Kama, Dharma dan Moksah itu wajib diposisikan at the raight track on the raight place,” pungkas yogini Dewi Ratna Wali sembari tersenyum penuh makna.
Bhagavad Gītā Bab III, Sloka
19
तस्मयदसक्ताः सततां कययं कमा समयचर । असक्तो ह्ययचरन् कमा परमयप्नोवत पूरुषाः ॥
Tasmād asaktaḥ satataṁ Kāryaṁ karma samācara Asakto hy ācaran karma Param āpnoti pūruṣaḥ
“Oleh karena itu, laksanakanlah tugas dan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh tanpa keterikatan. Seseorang yang bekerja tanpa pamrih akan mencapai kesempurnaan tertinggi.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar