Shrira Ganachakra
Perjalanan spiritual Danghyang Nirartha di Nusantara merupakan salah satu kisah penting dalam sejarah perkembangan kebudayaan dan spiritualitas Hindu di wilayah Bali, Jawa, hingga Lombok. Beliau dikenal bukan hanya sebagai pendeta besar, tetapi juga penyair ulung yang menyampaikan ajaran ketuhanan melalui sastra, simbol alam, dan bahasa rakyat. Dalam tradisi masyarakat Sasak kuno, terutama di wilayah Bayan dan Sembalun, jejak spiritual Danghyang Nirartha masih hidup melalui syair-syair tua, ritual adat, dan ajaran keselarasan manusia dengan alam yang dikenal sebagai Wetu Telu.
Di Lombok, Danghyang Nirartha dikenal dengan beberapa gelar kehormatan seperti “Tuan Guru Semeru” dan “Pangeran Sangupati”. Gelar tersebut menunjukkan penghormatan masyarakat terhadap beliau sebagai tokoh suci yang dianggap memiliki pengetahuan tinggi mengenai keseimbangan kosmos, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam tradisi lisan masyarakat Sasak, beliau tidak datang sebagai penakluk budaya, melainkan sebagai penuntun rohani yang merangkul tradisi lokal dan memperhalusnya melalui pendekatan sastra dan simbol-simbol spiritual.
Perjalanan beliau ke Lombok diyakini terjadi dalam rangka penyebaran ajaran dharma dan pencarian tempat-tempat sunyi untuk melakukan tapa serta meditasi. Kawasan Bayan dan Sembalun pada masa itu merupakan daerah pegunungan yang masih sangat alami, penuh hutan, sumber mata air, dan tempat-tempat sakral yang dianggap sebagai titik pertemuan kekuatan bumi dan langit. Di tempat-tempat inilah Danghyang Nirartha dipercaya memperkenalkan konsep spiritual yang kemudian berkembang menjadi ajaran Kemaliq Wetu Telu.
Salah satu peninggalan penting dari perjalanan spiritual beliau adalah syair-syair Sasak kuno yang hingga kini masih diwariskan secara lisan oleh kelompok-kelompok spiritual tradisional di Bayan dan Sembalun. Syair tersebut sederhana, namun memiliki kedalaman makna filosofis yang luar biasa. Salah satu bait yang paling terkenal berbunyi:
yang berarti ingatlah siapa dirimu yang sebenarnya.
Kalimat ini mengandung ajaran kesadaran diri yang sangat mendalam. Manusia diajak untuk tidak terjebak dalam ego, keserakahan, dan ilusi duniawi. Dalam pandangan spiritual Sasak kuno, manusia sejati adalah bagian dari alam dan pancaran kekuatan Ilahi. Mengenal diri berarti mengenal asal kehidupan dan menyadari bahwa manusia tidak hidup terpisah dari semesta. Bait berikutnya berbunyi:
yang berarti sunyi senyap, yang ada hanyalah angin atau prana.
Syair ini menggambarkan keadaan meditasi tertinggi ketika manusia memasuki keheningan batin. Dalam keheningan itu, yang tersisa hanyalah napas kehidupan atau prana sebagai sumber energi universal. Angin dalam tradisi spiritual Nusantara sering dipahami sebagai simbol roh kehidupan. Ajaran ini menunjukkan bahwa Danghyang Nirartha memperkenalkan konsep spiritual yang sangat dekat dengan praktik yoga dan kontemplasi. Kemudian terdapat bait:
yang berarti keris dan tombak sebagai pelindung negara.
Makna bait ini tidak hanya berbicara tentang senjata fisik, tetapi juga simbol penjaga keseimbangan dan kehormatan masyarakat. Keris dipandang sebagai lambang kebijaksanaan, keberanian, dan tanggung jawab menjaga harmoni kehidupan. Dalam tradisi Sasak kuno, pemimpin ideal bukanlah penguasa yang menindas, melainkan pelindung masyarakat dan alam tempat mereka hidup. Bait lainnya berbunyi:
yang berarti bumi digambarkan sebagai seorang ibu.
Makna bait ini sangat penting dalam memahami konsep spiritual Wetu Telu. Bumi dipandang sebagai ibu yang melahirkan, memberi makan, menjaga, dan menjadi tempat tinggal seluruh makhluk. Dari tanah manusia lahir, hidup, dan kembali setelah meninggal. Oleh karena itu manusia harus menghormati bumi sebagaimana seorang anak menghormati ibunya sendiri.
Dari syair-syair Sasak kuno inilah Danghyang Nirartha diyakini memperkenalkan konsep pemujaan Kemaliq Wetu Telu. Dalam tradisi tersebut terdapat simbol batu lonjong menjulang yang dimaknai sebagai lambang Ibu Pertiwi, sumber kesejahteraan dan tempat kehidupan seluruh makhluk berlangsung. Batu tersebut bukan dipuja sebagai benda mati, melainkan sebagai simbol kesadaran akan kekuatan alam semesta dan penghormatan kepada bumi sebagai ibu kehidupan.
Konsep Kemaliq Wetu Telu sesungguhnya mengajarkan keselarasan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Ajaran ini menekankan bahwa manusia tidak boleh hidup serakah dan merusak alam, sebab manusia dan alam memiliki hubungan seperti anak dan ibu yang tidak pernah dapat dipisahkan. Gunung, air, hutan, batu, dan tanah dipandang sebagai bagian dari tubuh kehidupan yang harus dijaga bersama.
Dalam ajaran Wetu Telu, kehidupan spiritual tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui cara hidup sederhana, menjaga keseimbangan lingkungan, menghormati leluhur, dan hidup penuh kasih kepada sesama makhluk. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sasak kuno sebenarnya memiliki filsafat ekologis yang sangat maju jauh sebelum isu kerusakan lingkungan menjadi perhatian dunia modern.
Di Bayan dan Sembalun, warisan syair dan ajaran tersebut masih dipelihara oleh kelompok-kelompok spiritual adat hingga sekarang. Mereka tetap melantunkan syair tua dalam ritual dan pertemuan adat sebagai pengingat akan hubungan suci antara manusia dan alam. Namun dalam perjalanan sejarah modern, sebagian
kelompok ini kerap mengalami intimidasi dan tuduhan menyimpang atau syirik karena praktik spiritual mereka dianggap berbeda dari pemahaman agama formal yang berkembang saat ini.
Padahal bila dipahami secara mendalam, ajaran tersebut bukanlah penyembahan batu atau kemusyrikan sebagaimana sering dituduhkan. Batu, gunung, dan alam hanyalah simbol spiritual untuk mengingatkan manusia kepada sumber kehidupan. Sama seperti banyak tradisi kuno di Nusantara yang menggunakan simbol alam untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, ajaran Wetu Telu lebih menekankan kesadaran ekologis dan spiritual dari pada pemujaan benda.
Dalam konteks dunia modern, nilai-nilai yang diwariskan Danghyang Nirartha justru menjadi sangat relevan. Ketika manusia modern mengalami krisis lingkungan, kerusakan hutan, pencemaran air, dan hilangnya keseimbangan hidup akibat materialisme, ajaran tentang keselarasan dengan alam menjadi pengingat penting bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bumi yang sehat.
Pesan “iling iling maring raga sejati” menjadi sangat bermakna di tengah kehidupan modern yang membuat manusia sering kehilangan jati diri. Teknologi dan kemajuan material memang memberi kenyamanan, tetapi juga membuat manusia jauh dari keheningan batin. Syair “lirgodong katibeng angin” mengingatkan manusia untuk kembali mendengar napas kehidupan dan menyadari hubungan mendalam dengan alam semesta.
Warisan spiritual Danghyang Nirartha di Lombok menunjukkan bahwa Nusantara sejak dahulu memiliki tradisi filsafat yang kaya dan mendalam. Spiritualitas tidak dipahami sebagai dogma yang keras, melainkan sebagai jalan hidup yang harmonis, lembut, dan menyatu dengan alam. Melalui syair-syair Sasak kuno, beliau berhasil menyampaikan ajaran ketuhanan dalam bahasa rakyat yang sederhana namun penuh makna.
Karena itu, warisan spiritual Bayan dan Sembalun seharusnya dipandang sebagai kekayaan budaya dan kearifan lokal yang perlu dijaga, bukan dicurigai atau diintimidasi. Tradisi tersebut mengandung nilai cinta terhadap alam, penghormatan kepada ibu pertiwi, dan kesadaran bahwa seluruh makhluk hidup berasal dari sumber yang sama.
Pada akhirnya, perjalanan spiritual Danghyang Nirartha di Lombok bukan hanya kisah sejarah seorang pendeta pengembara, tetapi juga kisah tentang bagaimana sastra, alam, dan spiritualitas dipersatukan menjadi jalan hidup. Syair-syair tua yang masih bertahan hingga kini menjadi bukti bahwa pesan tentang cinta kepada bumi dan kesadaran diri tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup dalam ingatan masyarakat adat Bayan dan Sembalun, mengalir seperti angin pegunungan yang sunyi namun abadi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar