Sumber “Chaandogya
Upanisad & Vedas An Introduction”
Kompilasi: Sadhu
Giriramananda
“Weda sangat tua, asal usulnya
tak terlukiskan, dan abadi. Weda menopang dirinya sendiri. Sebab, sejatinya
Weda adalah Napas Tuhan. Tuhan hadir di mana-mana, Tuhan mahahadir. Karena itu,
Weda, yang merupakan napas Tuhan, juga mahahadir, artinya, ada di mana-mana.
Bunyi-bunyi Weda, hakikat Weda, dan aroma Weda memang dapat ditemukan di
seluruh dunia.
Karena itu, jangan takut
menyebarkan Weda.
Setiap individu harus berikrar
memelihara Weda dengan benar. Kesejahteraan bangsa dan kemakmuran dunia
bergantung pada Weda. Sangatlah penting mengambil langkah-langkah terpadu guna
menyediakan sumber daya dan dorongan bagi penyebaran studi Weda itu. Weda
adalah sarana efektif untuk membangun hubungan dengan Tuhan. Mereka yang telah
mempelajari Weda harus mengabdikan hidup mereka untuk memajukan dan
mengembangkan pengetahuan tentang Weda”. (Wacana: Sadguru Sri Satya Narayana)
Jenis Mantra
Empat Weda berisi mantra yang
terdiri dari empat jenis berbeda - rik, yajus, saaman dan stoma. Mantra rik
memiliki meter dan struktur tergantung pada jumlah suku kata di dalamnya.
Sedangkan, Yajus ada dalam prosa ritmis. Untuk teks mantra saaman, sama dengan
mantra rik. Selain itu, mantra saaman ini dilantunkan secara rumit dengan
iringan musik. Stoma merupakan nyanyian mantra saman dengan tambahan suku kata,
dan dinyanyikan secara rumit sesuai aturan tertentu. Jika mantra rik
membutuhkan satu satuan waktu, teks yang sama yang dinyanyikan sebagai stoma
dapat membutuhkan sepuluh hingga dua puluh satuan waktu.
Pembagian Jenis-jenis Mantra
·
Rig Weda (Rik)
·
Yajur Weda
·
Krishna Yajur Weda Shukla Yajur Weda (Rik dan
Yajus)
·
Saama Weda (Saaman dan Stoma)
·
Atharva Weda (Rik, Yajus, dan Stoma)
Rig Weda terdiri dari riks. Yajur
Weda terdiri dari riks dan yajus. Beberapa riks dalam Yajur Weda juga terdapat
dalam Rig Weda, sementara yang lain hanya terdapat dalam Yajur Weda. Saama Weda
mengandung saaman dan stoma, sementara Atharva Weda terdiri dari riks, yajus,
dan stoma.
Rik adalah mantra kesadaran
Ilahi; mantra ini membawa cahaya wahyu. Yajus adalah Mantra Kekuatan Ilahi,
mantra ini membawa kehendak perwujudannya. Saaman adalah mantra Ananda Ilahi,
mantra ini membawa pemenuhan yang setara atas eksistensi dan kenikmatan spiritual.
Sedangkan, Stoma adalah himne penegasan, mantra ini meneguhkan dan melengkapi
perkembangan yang dimulai oleh mantra rik. (Sri Aurobindo)
Mahaavaakya :
1. Rig Weda (praGYaanam brahmaa,
Kesadaran adalah Brahman)
2. Yajur Weda (aham brahmaa
asmi,Saya Brahman)
3. Sama Veda (tat tvam asi, Itu
kamu)
4. Atharwa Weda (ayam aatmaa
brahmaa, Diri ini adalah Brahman)
Rig, Yajur, Saama dan Atharva
Veda itu harus dipahami, melalui pemujaan dan juga pemahaman yang baik.
(Chandogya Upanishad)
1. PraGYaanam Brahmaa
Kesadaran adalah Brahman. Tuhan
telah memberikan manusia kesadaran (praGYaanam) tetapi manusia
menyalahgunakannya dan memiliki pikiran buruk. PraGYaanam bukanlah Pengetahuan
duniawi, tetapi merupakan kesadaran terpadu yang konstan, anugerah dari Tuhan.
Kesadaran ini hadir dan aktif dalam segala hal, di segala tempat, dan di segala
waktu. Kesadaran ini memberi energi pada ranah fisik, mental, dan spiritual
seseorang. Yang perlu kita lakukan adalah mewujudkan kesadaran ini.
2. Aham brahmaa asmi
Aku adalah Brahman. Aham
menandakan keutuhan, totalitas, dan kepribadian yang utuh. Brahmaa adalah dasar
bagi segala sesuatu di dunia ini dan di akhirat. Tidak ada perbedaan antara
aham dan brahmaa. Keduanya saling bergantung dan tak terpisahkan. Sadarilah
kebenaran bahwa Anda adalah Tuhan. Tuhan adalah kesatuan dalam keberagaman.
Tanpa menyadari hal ini, tidak ada gunanya membaca buku atau memberikan
ceramah. Setidaknya praktikkan satu atau dua ajaran Swami. Bahkan di tingkat
duniawi, apakah Anda membantu seseorang? Bantulah Sepenuhnya dan Jangan Pernah
Menyakiti. Jangan pernah menggunakan kata-kata kasar atau menyakitkan.
Kata-kata datang dari hati, dan jika Anda mengisi hati dengan kesucian,
kata-kata Anda juga akan baik. Jika ingin mengucapkan kata-kata yang baik, Anda
harus mengisi hati dengan perasaan yang baik.
3. Tat tvam asi
Bahwa engkau ada. Inilah prinsip
kesadaran total, totalitas keberadaan dan proses yang mencakup dan melampaui
jangkauan fisik, mental, dan spiritual. Kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak
terpisah dari kita, dan bahwa Tuhan ada di dalam kita dan bahwa kita ada di
dalam Tuhan. Pernyataan ini dicantumkan dalam Saama Veda yang himne-himnenya
bersifat musikal. Musik adalah media yang sangat baik untuk menyelaraskan
"Itu" dan "Engkau". Saat hujan turun, hamparan air
menyatukan bumi dan langit. Begitu pula, hujan lagu yang diterangi cinta tanpa
pamrih dapat menyatukan "Engkau" dan "Itu".
4. Ayam aatmaa brahmaa
Diri ini adalah Brahman. Ini
berarti kita bukan sekadar manusia, melainkan brahma Ilahi. Ini menyiratkan
Diri Individu ini adalah saksi yang murni dan tak terpengaruh dari aktivitas
yang kita lakukan. Sebutir kecil gula sama manisnya dengan gula batu besar.
Demikian pula, kita masing-masing adalah Dewata. Kita adalah perwujudan
Kedewataan dan anak-anak keabadian.
Orang-orang yang Terlibat dalam
Pelaksanaan Yagya
Yajamaana adalah orang yang
melaksanakan pengorbanan - yadnya itu. Ia merupakan pemimpin dalam yagya.
Bahkan ia adalah pemimpin seluruh upacara. Ia menanggung semua biaya dan
mengklaim hasilnya. Istri yajamaana juga memiliki peran penting.
Sedangkan, para Ritvik atau
pendeta bertugas membantu yajamaana dalam melaksanakan yagya itu. Mereka
melaksanakan semua ritual. Ada empat pendeta utama, masing-masing mewakili
empat Weda. Hal itu sangat tergantung pada skala yagya, masing-masing dari keempat
pendeta utama ini mungkin memiliki asisten untuk membantu mereka.
Keempat pendeta utama tersebut
adalah:
i. Rigveda - hotr
ii. Yajurveda - adhvaryu
iii. Saama Veda udgaatir
iv. Atharva Veda - brahmaa
Klasifikasi Yagya
Secara umum ada empat klasifikasi
yagya yang berbeda. Mempelajari dan mengingat kembali Weda yang dipelajari saat
menjadi siswa (svaadhyaaya yagya).
Pengulangan mantra Weda tertentu
berulang-ulang (japa yagya). Kinerja fisik sesungguhnya dari yagya (karma
yagya). Meditasi , baik pada ritual maupun mantra yang dilantunkan selama
ritual (maanasa yagya). Jenis terakhir itu disebut sebagai yagya internal.
Setiap yagya berikutnya
memberikan hasil sepuluh kali lipat dari yagya sebelumnya. Karena itu, yagya
internal itu - meditasi - merupakan bentuk yagya terbaik. Seseorang, harus
secara sistematis melanjutkan pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan
tinggi. Sangat, sangat sedikit yang dapat langsung melanjutkan ke perguruan
tinggi. Demikian pula, masing-masing dari empat yagya di atas membuka jalan
bagi yagya internal (Dhyana)
Nah , terkait narasi lebih
panjang terhadap judul, Peran Pendeta Brahmq, yang bertugas menjaga dan
memperbaiki “luka” upacara, namun pelaksanaan upacara kecil seperti nitya -
sehari hari - yang dilakukan sendiri pasti bisa diabaikan keberadaan Pendeta Brahma
itu, namun dalam skala, skop upacara lebih besar, kehadiran Pendeta Brahma
sangat krusial. Penulis sendiri saat ambil bagian pada upacara “Maha Rudram”
selama 4 hari di Kailash Math, Varanasi, menyaksikan sendiri Pendeta Brahma,
yang dalam perannya lebih banyak silence, meditasi, sangat kontras dengan Chief
Priest - Kepala Pendeta, yang didelegasikan sebagai Yajamana, dan para Pendeta
Hotr ,yang terus mengulang ulang mantra sesuai skema yadnya dimaksud. Sesuai
teks suci, ketika pelaksaan upacara, tidak terlepas dari “luka yadnya” sesuai
Chaandogya Upanisad, sesungguhnya “luka yadnya” itu akan sembuh jika ada
Pendeta Brahma, yang mengerti hal itu. Dengan kekuatan tantranya, Pendeta
Brahma yang lebih konsen pada Atharvaveda, akan mengucapkan “Bhur, Buvah ,
Swah” selain mantra : Bhesaja -krto-ha-vā eșa yajñaḥ, rogārta iva pumām
cikitsakena suśikṣitenaiva yajño bhavati, untuk pemulihan luka yadnya, karena
itu berhubungan dengan Rig, Yayur dan Samaveda. Dibawah ini dikutipkan mantra
mantra terkait Peran Pendeta Brahma dari Chaandogya Upanisad:
1. prajāpatir lokān abhyatapat, teșām tapyamānānām rasān prāvṛhat, agnim pṛthivyāḥ vāyum antariksāt, ādityam divaḥ.
Prajā-pati mengeram di atas dunia-dunia. Ketika dunia dikerami, beliau mengambil intinya, api dari bumi, udara dari antariksa dan matahari dari langit.
2. sa etās tisro devatā
abhyatapat, tāsām tapyamānānām rasān prāvṛhat agner rcah, vāyor yajūmși, sāmāny
ādityāt.
Di atas ketiga dewata ini
Prajapati mengeram. Ketika dunia dikerami, beliau mengambil intinya, wirama Rg.
dari api, rumus Yajus dari udara dan mantra Saman dari matahari.
3. sa etām trayīṁ vidyām abhyatapat, tasyās tapyamānāyā rasān prāvṛhat, bhūr ity rgbhyaḥ, bhuvar iti yajurbhyaḥ, svar iti samabhyaḥ.
Di atas ketiga pengetahuan ini Prajapati mengeram. Ketika dunia dikerami, beliau mengambil intinya; bhūr dari wirama Rg; bhuva dari rumus Yaju; svah dari mantra Saman.
4. tad yady rkto rişyed bhūḥ
svāheti gārhapatye juhuyāt, rcām eva tad rasena rcām vīryeņa rcām yajñasya
viristam samdadhāti.
Bila yajña terluka (berbeda) dari
wirama Rg. seseorang harus membuat persembahan pada garhapatya sambil mengucap
'bhuh'. Demikianlah dengan inti dari pada wirama Rg sendiri, dengan kekuatan
wirama Rg dia menyembuhkan luka dari yajña Rg.
5. rasena yajuṣām vīryeņa yajuşam yajñasya viristam samdadhāti. 5. atha yadi yajusto rişyed bhuvaḥ svāheti dakşiņāgnau juhuyāt, yujuşām eva tad.
Persembahan pada daksinagni dan mengucapkan kata 'bhuvah'. Demikianlah dengan 5. Sekali lagi, bila yajña terluka oleh rumus Yaju, seorang harus membuat sarinya rumus Yaju, dengan kekuatan rumus Yaju, dia menyembuhkan luka dari yajña Yaju.
6. atha yadi samato rişyet, svaḥ
svähety āhavanīye juhuyāt sāmnām eva tad rasena vajuşām vīryeņa sāmnām yajñasya
viristam samdadhāti.
Sekali lagi, bila yajña terluka
oleh mantra Sama, seorang harus membuat persembahan pada api ahavanīya dan
mengucap 'svar'. Demikianlah inti mantra Sama, dengan kekuatan mantra dia
menyembuhkan luka dari yajña Saman. Bila lukanya berhubungan dengan Brahmā,
seseorang harus membuat persembahan kepada ketiga api, dan mengucap bhūh,
bhuvah, svah, sebab lukanya berhubungan dengan ketiga Veda.
7. tad yathā lavanena suvarnam samdadhyāt, suvarņena rajatam, rajatena trapu, trapuņā sīsam, sisena loham, lohena dāru, dāru carmaņā.
Sama halnya seperti seseorang yang mengikat emas dengan garam (borax), perak dengan emas, timah dengan perak, timah putih dengan timah hitam, besi dengan timah putih, kayu dengan besi atau kayu dengan kulit.
8. evam eṣām lokānām āsām
devatānām asyās trayyā vidyāyā vīryeņa yajñasya viriştam samdadhāti, bhesaja-kṛto
ha vā esa yajñah yatraivam-vid brahmā bhavati.
Demikianlah orang mengikat
bersama (menyembuhkan) luka yajña apapun dengan kekuatan dari dunia-dunia ini
dan dengan ketiga Veda. Sesungguhnya luka demikian itu akan sembuh betul bila
ada “Pendeta Brahma” yang mengerti hal ini.
Sembuh : bhesaja-krto-ha-vā eșa
yajñaḥ, rogārta iva pumām cikitsakena suśikṣitenaiva yajño bhavati.
9. eşa ha vā udak-pravano yajñaḥ, yatraivam-vid brahmā bhavati, evam vidam ha vă eșā brahmānam anu gāthā: yato yata āvartate, tat tad gacchati mānavah.
Sesungguhnya yajña ini diarahkan ke utara di mana terdapat pendeta Brahmā yang memahami hal ini, dan mengenai pendeta Brahma itu, terdapat dalam wirama ini. Kemana dia terjatuh, ke sanalah orang pergi.
Maanava : Diam ,silence dari
mauna; atau berpikir dari manana. Bila kesalahan dibuat, dia memecahkan
kesunyian dan memperbaikinya, sebab dikatakan: 'Bila ini gagal, kesanalah orang
pergi.
10. brahmaivaika rtvik kurūn
aśvābhirakşati, evam vidd ha vai brahmā yajñam yajanānam sarvāmś ca rtvijo
'bhiraksati, tasmād evam-vidam eva brahmānaṁ kurvīta, nanevam-vidam, nānevam
vidam.
Pendeta Brahmā sebagai Pendeta
melindungi pelaku yajña seperti kuda betina, karena itu pendeta Brahmā yang
mengerti hal ini melindungi yajña-nya, pelaku yajña, dan semua pendeta Rtvik.
Karena itu seseorang semestinya membuat seorang yang mengerti hal itu sebagai
Pendeta Brahmā, bukan orang yang tidak mengerti hal tersebut.
Ṛg Veda 10.90.16
यज्ञेन
यज्ञमयजन्त देियाः तयवन धमयावि प्रथमयन्ययसन्
। ते ह नयकां
मवहमयनाः सचन्ते यत्र पूिे सयध्याः
सन्तन्त देियाः ॥
Yajñena yajñam ayajanta devāḥ
Tāni dharmāṇi prathamāny āsan Te ha nākaṁ mahimānaḥ sacante Yatra pūrve sādhyāḥ
santi devāḥ
“Dengan
yadnya, para dewa memuliakan Yadnya itu sendiri. Dari sanalah lahir hukum-hukum
kosmis yang pertama (dharma/ṛta). Melalui hukum itulah mereka mencapai
kemuliaan tertinggi, tempat para dewa purba bersemayam.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar