Pemuliaan Air dalam Kehidupan Masyarakat Bali

 


Oleh: Sathya Premadasa

"Air itu cair, lembut dan menghasilkan. Namun, air akan mengikis batu, yang kaku dan tidak bisa menghasilkan. Sebagai aturan, apa pun yang cair, lunak, dan luluh akan mengalahkan apa pun yang kaku dan keras. Ini adalah paradoks lain: apa yang lembut itu kuat." - Lao Tzu

Pemuliaan air merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Bali. Hal ini karena air dianggap sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup dan dianggap sebagai simbol kesucian dan digunakan dalam berbagai ritual keagamaan untuk membersihkan diri dan lingkungan.

Air memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, disamping digunakan ritual keagamaan, minum dan mandi dalam kehidupan sehari-hari air juga dimanfaatkan sebagai sumber irigasi untuk pertanian—sebagai salah satu sektor ekonomi unggulan di Bali.

Namun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali menyebutkan industri perhotelan mengonsumsi sumber daya air terbesar di Bali, yakni sebesar 56 persen. Di sisi lain, data Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara pada 2021 menyebutkan cadangan air di Bali tidak berkelanjutan. Lalu, bagaimana agar pemuliaan air di Bali bisa tetap dilakukan dan berkelanjutan?

 

Ajaran Lontar Gama Tirta

Salah satu peninggalam leluhur Bali sebagai hasil kontemplasi yang dapat dipakai sebagai pedoman di dalam keberlangsungan peradaban dalam pemuliaan air adalah Lontar Gama Tirta. Secara etimologi "Gama Tirta", berasal dari kata "gama" mengacu pada aspek kepercayaan, keyakinan, atau sistem religi yang mendasari penggunaan Tirta. Kata "Tirta" merujuk pada air suci atau air yang telah disucikan secara ritual dan dianggap memiliki kekuatan spiritual.

Kombinasi keduanya, "Gama Tirta", menunjuk pada praktik atau konsep yang menggabungkan kepercayaan dengan pemanfaatan air suci dalam ritual, upacara, atau kegiatan spiritual.

Lontar Gama Tirtha merupakan salah satu pustaka yang diwarisi hingga kini oleh masyarakat Bali yang memercayai kedudukan air sebagai sarana penyucian diri. Lontar ini menjelaskan esensi air sebagai sarana penyucian diri dan sistem pengetahuan air yang menyatu dengan diri manusia.

Keberadaan naskah lontar ini memberikan petunjuk bahwa para leluhur memiliki pemikiran yang besar untuk dapat membangun peradaban air sebagai penyokong kehidupan masyarakat dan sekaligus menjadi bukti besarnya keyakinan dan sistem pengetahuan masyarakat Bali pada zaman dahulu terkait dengan kemuliaan dan kesucian air.

Lontar Gama Tirtha menunjukkan perhatian terhadap sifat dan karakteristik air terkait dengan fungsinya, yang mana air mengalami kondisi antara bersih dan keruh. Teks tersebut menguraikan dualisme tersebut sebagai gama ning dan gama cemer.

Jika melihat secara fisik, kondisi air itu ada yang jernih (ning) dan keruh (cemer). Kejernihan air sebagai simbol di dalam melihat kebenaran dan kesejatian menjadi tujuan dalam mencapai kesucian. Gama ning dan gama cemer dijelaskan “Mungguing ghama-ghamane hento tusing jamah liu pakriyane, di gumine, ya kasinahang pakriyaning ghama twah dadwa, lwire, gama hning, mwang ghama cemer, yadin puged”.

Terjemahannya : Adapun keyakinan-keyakinan tersebut tidak lah banyak adanya di dunia, secara umum jalannya keyakinan tersebut hanya dua, keyakinan yang bersih, dan keyakinan yang keruh, atau kotor. Maknanya, berbagai macam keyakinan yang ada di dunia, pada dasarnya hanya ada dua ajaran yang melandasinya yaitu ajaran yang bersih, suci atau benar dan ajaran yang keruh, kotor atau buruk. Ada dua paham yang pada dasarnya ada di dalam diri manusia dan semua ciptaan yaitu Rwabhineda yaitu segala hal yang punya dua sisi yang bertentangan, yaitu baik dan buruk, benar dan salah, gelap dan terang dan sebagainya.

Gama Tirtha sebagai pustaka suci dapat dijadikan pedoman bahwa manusia sebagai makhluk berpikir (idep) tentunya tidak akan dapat lepas dari Rwabhineda. Bila kondisinya kotor, pikirannya kacau, sifatnya jahat mesti diupayakan menjadi bersih, jernih, dan terang.

Gama Tirtha sebagai simbol sumber kesucian dari segala bentuk ajaran dan keyakinan. Air bersih menjadi acuan di dalam pencapaian kesucian. Air bersih juga dapat diambil dari air yang kotor dengan cara menyaringnya. Dengan kata lain, segala yang kotor dapat dibersihkan dengan menetralkan kekotoran yang melekat. Begitu juga air yang bersih dapat menjadi kotor jika dicampur dengan lumpur. Orang baik dan suci juga tidak luput dari pengaruh negatif, maka kesucian seseorang tidak terlepas dari penyucian.

Ritual Pembersihan Diri (Melukat)

Pada hari-hari tertentu masyarakat Bali melakukan ritual membersihkan diri (melukat) dengan air suci di sumber-sumber mata air yang dianggap suci. Ritual melukat merupakan salah satu bentuk peribadatan dalam tradisi agama Hindu, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dari segala pikiran kotor, jenuh, dan pengaruh ilmu hitam sehingga orang yang menjalani ritual ini bisa menjalani kehidupan dengan tenang, nyaman, damai, dan bahagia.

Melukat berasal dari kata "sulukat" yang berarti "penyucian yang baik". Ritual ini bertujuan untuk membersihkan pikiran dan jiwa dari energi negatif, serta memuliakan air sebagai elemen penting dalam kehidupan spiritual.

Sejumlah pengunjung melakukan melukat di Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar, Bali

Melukat memiliki makna pembersihan secara sekala dan niskala (jasmani dan rohani) baik jiwa dan pikiran manusia sebagai alam terkecil (bhuwana  alit) dan alam semesta (bhuwana agung) menggunakan sarana air. Air yang digunakan bukan sembarangan air melainkan berasal air alami atau mata air yang disakralkan dan air yang didoakan.

Selain sebagai tradisi, melukat juga dianggap memiliki manfaat psikologis dan spiritual, seperti meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional, serta memberikan ketenangan batin.

Melukat semakin populer sebagai wisata spiritual dan menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai latar belakang.

Tatacara melukat biasanya ada ketentuannya: Pertama: Pakaian dan Penutup Tubuh. Orang yang melukat wajib mengenakan pakaian sopan yang menutupi seluruh bagian tubuh, termasuk bahu dan lutut. Selain itu, penggunaan kain atau kamben untuk menutupi bagian kaki juga diwajibkan. Kedua: Mandi Sebelum Melukat Sebelum memulai ritual melukat, harus mandi terlebih dahulu Ketiga, Pelaksanaan Meluktat Khusus melukat untuk diri sendiri, ada dua cara yang bisa dilakukan dipimpin oleh Sulinggih yakni orang yang disucikan (pendeta Hindu)/pemuka agama Hindu, atau dilakukan mandiri dengan memanfaatkan sumber mata air yang dinilai suci dan disakralkan oleh umat Hindu yang berada di tempat-tempat pemujaan atau pura di Bali.


Tata Kelola Air dengan Sistem Subak


Masyarakat Bali memiliki sistem pengelolaan air yang unik dan efektif, yaitu Subak yang merupakan sistem pengelolaan air yang digunakan dalam pertanian di Bali. Subak merupakan organisasi yang mengelola distribusi air untuk pertanian dan memastikan bahwa air digunakan secara efektif dan efisien.

Sistem irigasi tradisional ini yang telah ada sejak abad ke-8 dan diatur berdasarkan konsep Tri Hita Karana, yang meliputi Parhyangan (kepercayaan pemuliaan air melalui upacara ritual), Pawongan (pengelolaan sumber daya air oleh warga desa adat), dan Palemahan (pengelolaan tata ruang yang mempertimbangkan resapan air dan pemuliaan vegetasi). Sistem Subak telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Sistem pengelolaan air dalam Subak di Bali sangat unik dan efektif, yaitu: 1) Sistem Subak memiliki pengelolaan air yang terorganisir dengan baik, sehingga air dapat didistribusikan secara efektif dan efisien. 2) Masyarakat petani dalam sistem Subak memiliki peran aktif dalam pengelolaan air, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. 3) Sistem Subak menggunakan teknologi tradisional yang telah teruji dan efektif dalam pengelolaan air.

Secara keseluruhan, air memiliki arti penting dan manfaat yang sangat besar dalam sistem Subak di Bali. Sistem pengelolaan air yang baik dapat meningkatkan produksi, mengurangi risiko kekeringan dan meningkatkan kesejahteraan petani.


Penerapan Konsep Palemahan dalam Tri Hita Karana

Konsep Palemahan dalam Tri Hita Karana merupakan salah satu aspek penting dalam pemuliaan air di Bali.

Palemahan adalah salah satu konsep dalam Tri Hita Karana yang berarti "lingkungan" atau "alam". Palemahan mencakup segala aspek lingkungan hidup, termasuk tanah, air, udara, dan makhluk hidup lainnya.

Dalam konteks pemuliaan air, Palemahan mencakup pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan harmonis dengan alam. Konsep Palemahan dalam pemuliaan air meliputi: pengelolaan tata ruang yang mempertimbangkan resapan air dan pemuliaan vegetasi. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan, dan Pengelolaan limbah yang efektif dan tidak mencemari lingkungan.

Implementasi konsep Palemahan dalam pemuliaan air dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu: Pengelolaan Subak yang efektif dan efisien dalam mendistribusikan air dan mengelola sumber daya air. Penghijauan dan penanaman vegetasi yang dap at membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kualitas air, dan Pengelolaan limbah yang efektif dan tidak mencemari lingkungan.

Dengan begitu, konsep Palemahan dalam Tri Hita Karana merupakan salah satu aspek penting dalam pemuliaan air di Bali. Pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan harmonis dengan alam dapat meningkatkan kualitas air dan menjaga keseimbangan lingkungan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...