Pandita VPA Ikuti Abhiseka Candi Prambanan Sejarah Perdana, Penyucian Shiva Graha di Moment Mahashivaratri

 


Abhiseka Candi Prambanan yang dilaksanakan bertepatan perayaan Mahashivaratri 15-16 Februari 2026, memang bukan sekadar ritual biasa. Moment Abhiseka Candi Prambanan itu merupakan peristiwa sakral terkait menyucikan Siwa Graha yang berusia 1.169 tahun, dan menjadi sangat istimewa lantaran sejarah, budaya, dan keyakinan leluhur, turut dipersatukan kembali pada “dewasa ayu” penuh berkah Mahadewa yakni khususnya pada Mahashivaratri tersebut. Agendanya dihelat hanya satu kali dalam setahun. Dan tahun ini dilangsungkan bertepatan Perayaan Mahashivaratri 15-16 Februari lalu. Ternyata, gelaran itu tercatat sebagai sejarah perdana perayaan abhiseka pada moment Mahasiwatari.


Sepertinya gayung tersambut dari “Guru Wisesa”, sebab acara PHDI Pusat itu juga merupakan agenda Pemerintah Pusat yang memang ingin menjadikan Candi Tua Hindu Prambanan itu sebagai pusat Wisata Religi Hindu Dunia di Indonesia. Seperti halnya Candi Borobudur yang dijadikan Pusat Wisata Religi Budha Dunia di Indonesia. Keduanya, baik Candi Prambanan maupun Candi Borobudur merupakan aset pemerintah dibawah Kementerian Kebudayaan (Dinas Kebudayaan dan Purbakala di masing-masing Kabupaten), yang otoritas pengelolaannya dipegang oleh pemerintah. Kaitannya dengan Pariwisata Religi, khusus untuk Umat Hindu, diberikan ruang optimal berekpresi religi di Candi Prambanan, menyelenggarakan ritual sesuai desain tata cara keagamaannya.

Peristiwa itu tercatat dengan tinta emas, bagi umat Hindu, pasalnya itu merupakan kesempatan pertama kalinya (perdana) Candi Prambanan, diberikan izin kepada umat Hindu Dunia untuk menyelenggarakan ritual di tempat sangat sakral itu, dimana perayaan Mahashivaratri menjadi pilihan. Bahkan, kedepannya , kegiatan itu masuk agenda rutin tahunan di Candi Prambanan.

Terkait perayaan Mahashivaratri yang perdana, sebanyak 33 para Pandita PHDI melakukan Puja Maha Gangga Tirtha Gamana (MGTG). Sangat berbahagia khususnya umat se dharma, lantaran Para Pandita juga memberikan berkah lewat penglukatan kepada segenap umat yang hadir sembahyang di Candi Prambanan saat itu.


Nah, kesempatan bersejaran itu juga tidak disia siakan oleh Pandita Veda Poshana Ashram (VPA) dan juga para Pinandita-nya, mereka ikut berpartisipasi aktif. Lantaran, ada agenda lain, kehadiran rombongan 39 Pinandita dengan 8 Pandita itu baru bisa memasuki areal Candi Prambanan pada malam harinya. Setiba di kawasan Candi Prambanan, hari memang sudah gelap. Acara puncak yang diselenggarakan Pandita PHDI Pusat sudah usai. Para tamu pun sudah kosong, hanya di sana masih berlangsung acara kirab jyotir (acara para pemuda). Nah, ketika rombongan VPA hendak menuju ke Candi utama, terhalang acara kirab jyotir. Kemudian rombongan pun mengikuti lintasan kirab. Secara kebetulan bertemu Wamen Pariwisata, disanalah kita mendapat bantuan Ibu Wamen, bahkan diantar langsung hingga ke depan Candi.

Beruntungnya, berkat akses yang dibukakan oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Puspa Ermawati, rombongan VPA bisa bergabung acara Abhiseka Lingam dengan utusan Pandita Vedik Dunia yang diwakili dua Pandita Veda yang berdomisili di Jakarta.



“Meski telat, ya kami memang bisa dikatakan sangat beruntung, sebab keterlambatan kami justru membuka kesempatan bisa abhiseka linggam dengan Pandita asal Jakarta, bahkan kami juga abhiseka di tempat linggam tua Candi Prambanan,” ujar Sekum VPA Pusat Acharya Suvirapremananda. Prosesi abhiseka linggam diiringi mantra Shivopasana, Linggasthakam, oleh Pandita dan juga Dr Suastipuja, selesai upasana termasuk mengucapkan 1008 nama shiva oleh Pandita Geeta, juga dilakukan arathi dan juga pembagian tirta serta meditasi.



Kedepannya kata Acharya Suvira Premananda, VPA akan berupaya bisa berpartisipasi


secara optimal (tentu jika diizinkan) ikut gabung kegiatan Abhiseka Lingam di Prambanan bersama para Pandita dari berbagai penjuru Dunia (khususnya yang kita tahu, dari India). Nah, itulah missi utama VPA melakukan Yatra Candi Prambanan.

Menurut Acharya Suvira, peserta yang diprioritaskan adalah para pandita yang ikut kegiatan Homa Laghu Rudram pada MSP XVII VPA, Payuk 2025, di Griya Shantabana, Payuk, Peninjoan, Tembuku, Bangli, 18 Desember 2025 lalu.

Pertimbangannya para pandita itu sudah fasih melantunkan mantra-mantra Rudra dan melakukan kegiatan Abhiseka Ganesha dan Abhiseka Lingam, sehingga dengan mereka terlibat langsung dalam Yatra Prambanan ini, maka akan bisa menyaksikan secara langsung pelaksanaan abhiseka di Prambanan. Harapannya tahun depan jika diizinkan maka akan siap ngayah kepada panitia Mahashivaratri Prambanan di tahun 2027.


Pura Leluhur Pasek dan Cetho


Dengan menggunakan bus kapasitas besar, rombongan berangkat 14 Februari 2026, dari Denpasar, sekitar pukul 13.00, perjalanan langsung menuju Pura Leluhur Pasek di Karanganyar, Jawa Tengah. Pura itu juga disebut Pura Ki Gusti Ageng Pemacekan. Dini hari sampai di Pura lereng Gunung Lawu dibawah Candi Cetho itu. Rombongan sempat melakukan puja bersama di Pura Kyai I Gusti Ageng Pemacekan, dan selanjutkan

perjalanan tirta yatra ke Candi Cetho. Persembahyangan dilakukan di tiga lokasi yakni Candi Sabda Palon, kemudian naik ke candi pemujaan Brawijaya (sebelah kanan) dan Candi pemberi berkah (sebelah kiri). Setelah itu yang terakhir naik ke tempat pemujaan utama. Persembahyangan dipimpin Pamangku Candi Cetho, setelah selesai sembahyang melakukan meditasi dan parikrama purwa-daksina.

Udara sejuk, hening di tempat ketinggian membuat vibrasi dan radiasi sangat kuat, sehingga dengan rasa khusuk menerima berkah devata, termasuk wangsung pada Ida Bethara.


Candi Plaosan


Rombongan yang menginap di Hotel Indrakila, usai melakukan Abhiseka di Candi Prambanan, juga berkesempatan tirtayatra di Candi Plaosan. Ketika tiba di Candi Plaosan, hujat lebat. Beberapa peserta ada yang tidak turun dan beberapa sembah sujud ke Candi menggunakan payung dan mantel.

Rombongan juga sempat shopping ke Malioboro, Pasar Bering Harjo. Kemudian (rencananya ke Kraton dan Museum) karena libur (Kraton dan Museum tutup di hari Senin) kunjungan dialihkan ke SKM (Sanggar Keris Mataram) miliknya Mas Pandu (Ki Arya Pandu). Pada 17 Februari rombongan kembali di Denpasar.


Bibit Kalpavraksa

Pemilik Sanggar Kris Majapahit (SKM) Ki Arya Pandu sangat memberi atensi dan apresiasi kepada seganap rombongan. Ki Arya Pandu bukan saja punya Sanggar juga work shop , perapen pembuatan keris. Setelah rombongan melihat lihat koleksi dan juga doa bersama di Galerinya, Ki Arya Pandu memberikan bibit kaplavraksa atau kaplataru untuk dibawa ke Bali. Beberapa rombongan termasuk Acharya Suvira, dengan diantar anak-anak Ida Bhagawan Tacchi (Nara dan Ika), sempat bertegur sapa dengan beberapa pandita PHDI dan para pendampingnya. Di sana ketemu Nabe Kakyang Bhaskara dan Ida Nabe Niyang, Ida Nabe Begawan Yogananda dan Ida Nabe Begawan Istri, Ida Mpu Nabe Satyawadi, dan Ida Mpu Nabe Putra Yoga Biru Daksa (Bpk Untung Yoga).

Demikian laporan rombongan VPA mengikuti Abhiseka Prambanan dan Tirtayatra, oleh Acharya Suvira Premananda, diedit Sadhu Giriramananda)

Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 03

  KATA PENGANTAR Om Swastyastu Jajaran Redaksi sangat berbahagia dan sekaligus mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa, karena majal...