Kompilasi:
Sadhu Giriramananda
“Omkara Om”
Rumusan mantra-mantra dibawah ini dimaksudkan untuk penolak kematian. Materinya bersumber dari Taittirīya Āraṇyaka dan juga Atharva Veda. Biasanya dipakai dalam ritual Āyushya Homa, untuk mohon umur panjang, kesehatan, dan perlindungan dari bahaya.
Rangkaian mantra ini ditujukan beberapa dewa bahkan Brahman, yakni ke Dewa Yama, Dewa Rudra, Dewa Agni, Dewa Aśvin, Dewa Indra, Vayu, Prajapati, juga Brahman. Intinya, rumusan doa ini, memohon agar kematian menjauh, diberikan umur panjang , keluarga & keturunan dilindungi, dan kita bisa tetap sehat, melewati bahaya sampai tua. Mantra-mantra ini intinya mohon abhaya = bebas dari rasa takut, dan āyush = umur panjang. Jadi , sering rumusan mantra ini, dipakai saat membantu orang yang mengalami sakit keras, termasuk upacara ulang tahun, menggunakan skema, “Āyushya Homa”
1. apaetu mṛtyu-ramṛtaṁ na āganvaivasvato no abhayam krņotu | parņam vanaspate-rivābhina- śśīyatāgm rayi-ssacatā-nna-śśacīpatiḥ ||
Per kata:
apa etu = menjauhlah, pergilah
mṛtyuḥ = kematian
amṛtam = keabadian, kehidupan
naḥ = kepada kami
āgan = telah datang
vaivasvataḥ = Yama putra Vivasvat
naḥ = untuk kami
abhayam = ketiadaan takut
kṛṇotu = semoga membuat
parṇam = daun
vanaspateḥ = dari pohon
iva = seperti
abhi naḥ = kepada kami
śīyatām = semoga gugur
rayiḥ = kekayaan
sacatām = semoga melekat
naḥ = pada kami
śacīpatiḥ = Indra, suami Śacī
Artinya: Semoga kematian pergi menjauh, semoga kehidupan mendatangi kami. Semoga Dewa Yama memberi kami keselamatan. Bagaikan daun gugur dari pohon, biarlah kematian gugur menjauhi kami. Semoga kekayaan menyertai kami, wahai Indra.
2. param mṛtyo anuparehi panthām yaste sva itaro devayānāt | cakşuşmate śrnvate te bravīmi mā naḥ prajāgm ririşo mota vīrān ||
Per kata:
param = yang lain, menjauh
mṛtyo = wahai Kematian
anuparehi = tempuhlah
panthām = jalan
yaḥ = yang mana
te = bagimu
svaḥ = milikmu sendiri
itaraḥ = yang lain
devayānāt = dari jalan para dewa
cakṣuṣmate = kepada yang bisa melihat
śṛṇvate = kepada yang bisa mendengar
te bravīmi = aku berkata kepadamu
mā naḥ = jangan kami
prajām = keturunan
ririṣaḥ = sakiti/lukai
mā uta = dan jangan
vīrān = para pahlawan/putra
Artinya: Wahai Kematian, ambillah jalan lain yang berbeda dari jalan para dewa. Aku berkata kepadamu yang bisa melihat dan mendengar: jangan sakiti keturunan kami, jangan pula para putra kami.
3. vātam prānam manasā'nvārabhāmahe prajāpatim yo bhuvanasya gopah | sa no mrtyostrāyatām pātvagmhaso jyogjīvā jarā-maśīmahi ||
Per kata:
vātam = angin, Vāyu
prāṇam = nafas hidup
manasā = dengan pikiran
anvārabhāmahe = kami pegang erat/mulai
prajāpatim = Prajāpati
yaḥ = yang
bhuvanasya = alam semesta
gopāḥ = pelindung
saḥ = Dia
naḥ = kami
mṛtyoḥ = dari kematian
trāyatām = semoga melindungi
pātu = semoga menjaga
aṁhasaḥ = dari dosa/bahaya
jyok = untuk waktu lama
jīvāḥ = semoga hidup
jarām = sampai tua
aśīmahi = semoga kami capai
Artinya: Dengan pikiran kami genggam nafas dan Vāyu. Prajāpati pelindung alam semesta, semoga Dia melindungi kami dari kematian, menjaga dari bahaya. Semoga kami hidup lama dan mencapai usia tua.
4. amutra bhūyā-dadha yadyamasya bṛhaspate abhiśasteramuñcah | pratyauhatāmaśvina mṛtyu- masmā-ddevānā-magne bhișajā śacībhiḥ ||
Per kata:
amutra = di sana
bhūyāt = semoga berada
adha = kemudian
yat = jika
yamasya = dari Yama
bṛhaspate = wahai Bṛhaspati
abhiśasteḥ = dari kutukan
amuñcaḥ = engkau bebaskan
pratyauhatām = semoga menolak kembali
aśvinā = wahai Aśvin kembar
mṛtyum = kematian
asmāt = dari kami
devānām = para dewa
agne = wahai Agni
bhiṣajā = dengan dua tabib
śacībhiḥ = dengan kekuatan/tindakan
Artinya: Biarlah kematian berada di alam sana. Wahai Bṛhaspati, jika ada kutukan Yama, bebaskan kami. Wahai Aśvin, tolaklah kematian dari kami. Wahai Agni, dengan kekuatan para dewa tabib, sembuhkanlah kami.
5.harigm haranta-manuyanti devā viśvasyeśānam vrṣabham matīnām | brahma sarūpa-manumeda- māgā-dayanam mā vivadhī-rvikramasva ||
Per kata:
harim = yang keemasan/singa
harantam = yang mengambil/membawa
anuyanti = mengikuti
devāḥ = para dewa
viśvasya = alam semesta
īśānam = penguasa
vṛṣabham = banteng, yang utama
matīnām = dari para pemikir/doa
brahma = Brahman
sarūpam = berwujud sama
anumedaḥ = semoga menyetujui
āgāt = telah datang
ayanam = jalan
mā = jangan
vivadhīḥ = halangi
vikramasva = melangkahlah maju
Artinya: Para dewa mengikuti Dia yang keemasan, penguasa alam semesta, yang utama di antara doa-doa. Semoga Brahman yang berwujud sama menyetujui kami. Dia telah datang. Jangan halangi jalan ini, teruslah melangkah maju.
6. śalkairagni-mindhāna ubhau lokau sanemaham | ubhayorlokayor ṛdhvā'ti mṛtyum tarāmyaham ||
Per kata:
śalkaiḥ = dengan serpihan kayu
agnim = api
indhānaḥ = menyalakan
ubhau = kedua
lokau = dunia
sanem = semoga ku peroleh
aham = aku
ubhayoḥ lokayoḥ = di kedua dunia
ṛdhvā = berhasil/makmur
ati = melewati
mṛtyum = kematian
tarāmi = aku seberangi
aham = aku
Artinya: Dengan menyalakan api suci menggunakan serpihan kayu, semoga aku memperoleh kedua dunia - sekala dan niskala. Dengan kemakmuran di kedua dunia, aku menyeberangi kematian.
7. mã chido mṛtyo mã vadhīrmā me balam vivrho mā pramosīḥ | prajām mā me rīrisa āyu-rugra nṛcakṣasam tvā haviṣa vidhema ||
Per kata:
mā chidaḥ = jangan potong
mṛtyo = wahai Kematian
mā vadhīḥ = jangan bunuh
mā me = jangan milikku
balam = kekuatan
vivṛhaḥ = cabut/hancurkan
mā pramoṣīḥ = jangan curi
prajām = keturunan
mā me = jangan milikku
rīriṣaḥ = sakiti
āyuḥ = umur
ugra = yang dahsyat
nṛcakṣasam = pengawas manusia
tvā = engkau
haviṣā = dengan persembahan
vidhema = kami layani
Artinya: Wahai Kematian, jangan potong, jangan bunuh. Jangan hancurkan kekuatanku, jangan curi apa pun dariku. Jangan sakiti keturunanku. Wahai yang dahsyat pengawas manusia, kami melayanimu dengan persembahan demi umur panjang.
8. mā no no mahānta-muta mā no arbhakam mã nạ ukşantamuta mā na ukşitam | mā no vadhiḥ pitaram mota mataram priyā mā nastanuvo rudra rīrişaḥ ||
Per kata:
mā naḥ = jangan kami
mahāntam = yang tua/dewasa
uta = dan
mā naḥ = jangan kami
arbhakam = anak kecil
mā naḥ = jangan kami
ukṣantam = yang remaja
uta = dan
mā naḥ = jangan kami
ukṣitam = janin
mā naḥ = jangan kami
vadhīḥ = bunuh
pitaram = ayah
mā uta = dan jangan
mātaram = ibu
priyāḥ = yang dicintai
mā naḥ = jangan kami
tanuvaḥ = tubuh
rudra = wahai Rudra
rīriṣaḥ = sakiti
Artinya: Jangan bunuh orang tua dari kami, jangan pula anak kami yang masih kecil. Demikian juga janin dan anak remaja kami. Jangan bunuh ayah kami, juga ibu kami. Wahai Rudra, jangan sakiti tubuh orang-orang yang kami cintai.
9. mā nastoke tanaye mã na āyuṣi mã no goșu mã ng aśvėșu rīriṣaḥ | vīrānmā no Rudra bhāmito vadhīr-havişmanto namasā vidhema te ||
Per kata:
mā naḥ = jangan kami
toke = pada anak
tanaye = pada cucu
mā naḥ = jangan kami
āyuṣi = pada umur
mā naḥ = jangan kami
goṣu = pada sapi
mā naḥ = jangan kami
aśveṣu = pada kuda
rīriṣaḥ = sakiti
vīrān = pahlawan/putra
mā naḥ = jangan kami
rudra = wahai Rudra
bhāmitaḥ = yang marah
vadhīḥ = bunuh
haviṣmantaḥ = dengan persembahan
namasā = dengan sembah
vidhema = kami layani
te = engkau
Artinya: Jangan sakiti anak-cucu kami, umur kami dikurangi, sapi kami mati demikian juga , dengan kuda kami . Wahai Rudra, meski sedang murka, jangan bunuh para putra kami. Kami haturkan persembahan dan juga kami penuh bakti dan tulus melayaniMu.
Om tat sat om kham brahm omkara Om
Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026



Tidak ada komentar:
Posting Komentar