“Menyendiri” Bukan menolak relasi sosial, melainkan Suatu Cara Efektif “Membebaskan diri” dengan Makna Semu salah satu melalui disiplin Nachiketa Katha Upanisad “Yogaagni Omkara”



Kompilasi:

Sadhu Giriramananda


“Om shiva om har har mahadewa ya Om”

Bisa jadi setiap fase kehidupan, akan terbersit pertanyaan mendalam terkait kesendirian dalam elevasi kesadaran jati dirinya? Bagaimana seseorang bisa mempertahankan diri dengan elegan, ketika hubungan mulai memudar dan juga dukungan yang selama ini akrab, kemudian secara perlahan menghilang. Pertanyaan ini, tidak muncul begitu saja dari ketiadaan, ia muncul ketika waktu tak terbendung menyingkapkan kekuatannya. Mereka dulunya hadir menempel di sisi bahkan tak tergantikan, perlahan lenyap dari kehidupan seseorang. Nah pada tahap atau fase ini lah, pemikiran tentang otonomi moral, kebebasan, pemberi hukum bhatin mendapatkan makna yang istimewa.

Masa tua adalah ujian bagi mereka yang menjaga hubungan batin dengan dirinya sendiri, terlepas apapun yang terjadi di sekitar mereka. Sudah saatnya, manusia tua itu harus menjadi “hukum” bagi dirinya sendiri. Bukan menjadi “budak” dari pengaruh pengaruh eskternal. Di masa muda, kita abadi dan melupakan hal itu, akibat kita dapat kebahagiaan “semu” ketergantungan dari orang lain, pada keluarga, teman dan bahkan pasangan. Nah, di masa tua hubungan ketergantungan itu larut begitu saja. Di masa tua, hubungan harmonis yang ada tidak lagi memperlihatkan kepada kita. Pada situasi kesadaran itu, tersingkap secara riil, mana yang benar benar berharga, dan mana yang benar benar suatu ilusi, nah hal itu menjadi nyata ketika kita ditinggal anak anak merantau, teman teman menjauh dan pasangan menjadi terasa asing.

Mereka yang dulu kita anggap sebagai sandaran, ternyata hanya merupakan temen perjalanan sementara. Sejatinya, satu satu temen yang dapat dijadikan sandaran adalah “kekuatan moral diri kita sendiri. Dengan kata lain, di masa tua kita harus belajar untuk tidak tergantung, pada hal yang bersifat sementara. Melainkan, pada apa yang tetap ada abadi yakni - Atman - pada diri kita. Kesadaran itu disebut otonomi budhi atau “kesadaran batin” yakni kemampuan manusia bertindak sesuai hukum moral bhatin yang tidak lagi bergantung pada keadaan luar. Hal ini, membawa kepada 4 pilar yang membentuk kehidupan di masa tua.

Pertama, kemampuan kita untuk menyendiri, tanpa merasa kesendirian itu sebagai penderitaan. Kesendirian jangan diasosiasikan sebagai “isolasi” belaka, tetapi persyarat mutlak bagi “kebebasan bhatin”. Karena itu, manusia harus belajar untuk hidup damai dan penuh cinta di dalam dirinya sendiri. Karena sesungguhnya dunia luar atau eksternal, tidak dapat lagi memberikan kebahagiaan sejati. Seiring bertambahnya usia dan memudarnya hubungan eksternal, maka kita harus belajar membangun, “hubungan bhatin” dengan diri sendiri. Jika seseorang tidak belajar untuk menyendiri, maka hidup akan menjadi “ruang kosong” yang akan diisi oleh kekacauan, karena tidak menemukan kedamaian dalam kehadiran jati diri sendiri. Ia akan menjadi sangat bergantung dengan orang lain. Pada moment itu maka hidup akan kehilangan maknanya, karena tidak dipandu oleh prinsif batin yang kuat.

Menyendiri tidak berarti, menolak relasi sosial, melainkan suatu cara efektif “membebaskan diri” dengan makna semu, hubungan tersebut. Seseorang harus membebaskan dirinya dari ketergantungan dengan dunia luar, untuk menemukan kebahagian sejati di dalam dirinya. Kebebasan sejati itu dicapai, ketika seseorang itu bisa harmonis , damai dan bahagia dengan dirinya sendiri. Mereka tidak lagi terpengaruh keadaan luar, dia tidak takut hidup menyendiri , dan merasakan kesepian sebagai penderitaan. Kesendirian dan sepi itulah, sebagai kebebasan yang sesungguhnya.

Eksistensi manusia tidak bisa bebas, jika tidak ada keteraturan dalam hidup. Keteraturan itu penting, karena kekacauan dunia luar, dapat memicu kegelisan batin. Bukan berarti hanya membersihkan kamar, kebun, namun menata bhatin dan prinsip prinsif moral, dan juga menata pikirannya.

Memang, rumah yang rapi mencerminkan jiwa yang murni. Tetap jangan terikat. Apalagi keteriktan masa lalu dan juga benda benda, menjadi penghambat masa depan cerah. Ketika waktu tidak banyak ada kesempatan memperbaiki kesalahan masa lalu, maka sangat penting melepaskan masa lalu untuk menjaga energi masa kini lebih baik. Kemurnian bhatin, adalah syarat mutlak bagi perkembangan “kebebasan”. Mereka yang tidak dapat menata hari hari kehidupannya, mereka tidak dapat mengembangan kebebasan batin. Sebab, ketertiban dalam keseharian merupakan langkah pertama menuju hukum moral.

Pilar ketiga, adalah perlu ada rasa ketidakpedulian terhadap penilain orang lain. Kebebasan sejati adalah bertindak independen dari penilain orang lain, kebebasan itu adalah cara bertindak sesuai dengan hukum bhatin sendiri, bukan untuk mendapat persetujuan orang lain.

Di masa tua, ketika ikatan ekternal melemah dan tubuh kehilangan kekuatannya, seseorang harus menerima bahwa orang lain tidak memahami kondisinya, bahwa hidup seseorang tidak lagi sesuai standar orang lain. Bagi mereka mereka yang belajar mengabaikan penilain kontra produktif itu, ia akan memperoleh, kebebasan. Seseorang harus menjaga tidak demi opini orang lain pun menjaga, integritas moral orang. Sebagai contoh, seorang tetangga bertengkar dengan istrinya setiap malam, tetapi mengaku selalu bahagia, itu artinya opini orang lain adalah cerminan ketakutan mereka sendiri, itu bukanlah merupakan ekpresi dari kebahagian sejati.

Semakin, orang menua kita harus menyadari orang lain tidak benar benar memahaminya. Dan orang juga harus belajar hidup dengan “kompas” moralnya sendiri. Rasa paling murni akan muncul, ketika orang dengan senang menerima dirinya sendiri. Itu lah makna kebebasan seutuhnya, tidak perlu membenarkan seluruhnya, cukup menjalani hidup sederhana yang mana diyakini benar.

Pilar keempat, kesetiaan pada diri sendiri, sebagai bentuk kebebasan yang paling dalam. Seseorang harus merasa hidupnya memiliki makna, dan makna ini harus muncul dari moral mereka sendiri, ini bukan tentang pujian, ingin dihormati. Hidup penuh makna itu menjadi penting, bukan hidup sesuai standar orang lain, tetapi bagaiamna fesion yang diyakini dalam diri sendiri. Terlihat sepele ketika hal-hal kecil memberikan realitas hidup, bahwa kita harus merasa hidup penuh makna. Sebab untuk menjadi manusia ditunggu jutaan tahun, “Jantunam narajanma durlaban,” Sadarilah kita merupakan putra amrithyaasa - putra keabadian, dalam subhashita , “Dewo devalayah prokto, jiwo dewi sanatanah” - bahwa di tubuh disebutkan sebagai tempat suci yang ada dewa/Tuhan atau Atma berstana di dalamnya. Karena itu usahakan seperti yogi cilik Nachiketa, memohon Atma Widya , dan diberikan Dewa Yama media Yogaani omkara untuk membakar semua wasana dan samskaranya sehingga mencapai “Mrityur muktah pramuktah” terbebas total dari kematian mulutnya Dewa Yama. Nah, kesendirian penuh makna mewujudkan atma saksatkara - kesadaran atma itu lah harus direalisasikan secara riil di kehidupan ini.


Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 03

  KATA PENGANTAR Om Swastyastu Jajaran Redaksi sangat berbahagia dan sekaligus mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa, karena majal...