Kenali Dirimu, &
Jati Dirimu Sendiri akan Mengungkapkan Segalanya Padamu
Jangan “Bunuh Diri”
Berpegang Teguh pada
Hal -hal Tak Nyata
Kompilasi : Sadhu Giriramananda
“Om Shiva
Om”
Ketika aksi Laba Laba Dewata
membuat heran banyak pihak, termasuk Arjuna ikut mempertanyakan manakala.
Laba Laba itu terburu buru
melintas di Padang Kuruksetra. Sang Laba laba dengan cepat menjawab “Bumi ini
juga milikku, sama seperti milikmu, aku punya rumah, punya persediaan makanan,
punya anak dan istri yang menungguku ” Disana konon Rishi Vyasa, berjalan
menunduk sembari berguman dengan kalimat.
"Samanya Methath Pashubhir
naraani". Hal-hal ini sama bagi manusia dan hewan. Tetapi kemudian Sang
Rishi Agung berkata pada dirinya sendiri bahwa, -Penyelidikan akan Yang Maha
Agung, kerinduan akan kebenaran, keindahan dan kebaikan, kesadaran akan
kesatuan yang mendasarinya - itulah sesungguhnya “harta karun unik”
umat manusia.
Karena itulah sebabnya Shri Adi
Sankaracharya bernyanyi: “Kathe kantha, kasthe putra, Samsaaroyamatheeya
vichitrah Kasthwam, koham, kutha ayathah Tathwam chintaya tadiha bhrathah”.
"Siapakah istrimu? Anak
siapakah engkau? Siapakah engkau? Dari mana asalmu? Ke mana tujuanmu?
Saudara-saudara, renungkanlah pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakekat
kehidupan ini. Ajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar ini tentang hakikat kehidupan
itu kepada diri sendiri."
Bayangkan Anda bertemu seorang
pria dan kebetulan bertanya kepadanya, "Saudara, siapakah Anda?" Dia
menjawab, "Saya tidak tahu." "Mau ke mana?", katanya lagi,
"Saya tidak tahu." "Dari mana Anda datang?" dia mengulangi,
"Saya tidak tahu." Apa sebutan yang tepat untuknya? Tentu saja,
idiot!
Namun, sudahkah hidup kita
berbeda? Apakah kita tahu siapa kita? Mengapa kita ada di sini? Dari mana kita
berasal? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup? Apa hakikat hidup? Apakah
ada sesuatu yang disebut hidup sama sekali? Apa itu kelahiran? Apa itu
kematian? Tetapi bagaimana misteri dunia ini, teka-teki besar yang ada di
dalamnya, dapat dipecahkan?
Terkaik teka teki kosmik, dengan
keragamannya yang mempesona dan manifestasinya yang sangat beragam, memang
begitu rumit dan sulit dipahami, sehingga semakin banyak kita belajar, semakin
bisa menyadari bahwa kita semakin berada dalam kegelapan. Semakin banyak kita
belajar, semakin terungkap ketidaktahuan kita. Jadi, adakah dan bagaimanakah
jalan keluarnya? Upanishad tidak pernah lelah menggemakan pesannya berulang kali.
“Kenali dirimu sendiri dan dirimu sendiri akan mengungkapkan segalanya
kepadamu".
Sri Adisankaracharya berkata
dalam Vivekachudamani bahwa, "Sangat sulit untuk Terlahir sebagai manusia.
Sangat sulit memperoleh pengetahuan kitab suci dan hanya dengan berkah Tuhan
lah rahmat itu dicapai. Setelah seseorang dapat perlindungan orang bijak dan
menerima semua berkah itu, ia akan bisa dapat jalan lapang terkait elevasi jati
dirinya. Sebaliknya, jika dia tidak berusaha mencapai kebenaran tertinggi itu,
maka sesungguhnya dikategorikan melakukan bunuh diri karena berpegang teguh
pada hal-hal yang tidak nyata.
Vadanthu shastrani yajanthu devan
Kurvanthu karmaani bhajanthu devathah Atmaikya bodhena vinapi mukthir
nassidhyathi Brahma shathantharethi.
"Lantunkan mantra mantra
suci, bacalah kitab suci, lakukan sebanyak mungkin upacara dan ritual yang kau
inginkan, lakukan kedermawanan (seva), pertapaan, dhyana, dan amal apa pun yang
kau inginkan, berdoalah kepada sejumlah dewa tanpa kecuali hingga sampai engkau
menyadari hakikat diri sejatimu, sebab tanpa kesadaran diri itu, bahkan dalam
seratus kehidupan satu hari Brahma ini, engkau tidak dapat mencapai
ketidakterdugaan berkah absolut yang total dan lengkap."
Itulah pernyataan Upanishad,
itulah ajaran Sri Adi Sankara dan itulah ajaran Sadguru Dewa Satya Narayana.
Ada alasan lain yang sangat
penting mengapa merealisasikan kesadaran Tuhan sangatlah penting dan mendesak.
Segala sesuatu dijagat maya ini diliputi oleh waktu. Waktu adalah pemangsa
utama. Kala adalah penghancur yang kejam. Tidak ada yang luput dari Kala. Dan
Kala tanpa henti menggerakkan roda waktu. Hukum waktu tidak dapat dihindari,
tak terelakkan, tak terkalahkan, dan tak salah. Tidak ada yang dapat menahan
gempuran waktu itu.
Ma kuru dhana jana yavvana garvam
Harathi nimeshath kalah sarvam Mayamayamidam akhilam hitwa Brahma padam thwam
pravisha viditwa
"Janganlah kamu berbangga
atas harta benda dan masa mudamu. Sebab, semua itu bersifat sementara, fana,
dan akhirnya akan lenyap.
Dalam sekejap mata, semuanya akan
lenyap ditelan roda waktu yang abadi. "Dengan memahami, mengamati, dan
mengasimilasi sepenuhnya kefanaan alam semesta, engkau memasuki kesadaran
universal."
"Sangat fantastis dan
menakjubkan," kata Sri Adi Sankara. Mengapa? Karena kita semua tahu bahwa
segala sesuatu bersifat sementara, sesaat, fana, datang dan pergi, namun
manusia entah bagaimana menemukan alasan untuk senantiasa terikat pada hal-hal
fana ini. Itulah kekuatan besar Maya. Tatwa, mendeklarasikan, bahwa kekuatan
Tuhan yang Agung dan tak terduga itu, sebagai “Maya”
Ketika Raja Yudhistira ditanya,
dalam episode terkenal di Mahabharata - Yaksha Prasna, Yaksha bertanya
kepadanya, "Apa hal paling menakjubkan yang Anda temukan?" Raja
Hastinapura itu berkata, "Hal paling menakjubkan yang saya lihat adalah orang-orang
melihat orang lain mati di sekitar mereka, tetapi mereka sendiri hidup
seolah-olah mereka tidak akan pernah mati!" Kita hidup seolah-olah kita
tidak akan pernah mati. Karena itu, ketika kita mati, kita mati seolah-olah
kita tidak pernah hidup! Itulah masalah mendasar Manusia. Dia yang dengan rela
menundukkan dirinya pada hukum Waktu menetapkan komitmen hukum mutlak mau tak
mau dan suka tidak suka, harus merealisasikan Atma saksatkara. Sebaliknya,
siapa pun yang menentangnya akan mengundang siksaan dahsyat. Tidak ada jalan
keluar. Sebab, tidak ada apa pun yang dapat lolos dari gempuran waktu. Sebab,
Tuhan berada di luar waktu. Tuhan tidak hanya berada di luar waktu, tetapi
Hyang Shiva Rudra menghancurkan waktu. Itulah sebabnya Shiva disebut Kala
Bhairava - sang penghancur waktu itu sendiri. Dalam Ganesha Atharvashirsham
dinarasikan - Kalatrayathithah - Dia yang melampaui ketiga aspek waktu, yaitu
masa lalu, masa kini, dan masa depan. Brahman berada di luar waktu. Jadi
rahasia kebahagiaan abadi kita adalah mengalihkan semua kesetiaan, semua kasih
sayang, semua keinginan kita kepada satu kekasih kosmik abadi tiada lain kepada
Hyang Atma Agung yang menghuni hrdaya, hati kita. Seperti lalat kecil yang
perlahan dan teguh melepaskan semua madu yang menempel padanya, kita juga harus
melepaskan semua keterikatan keterikan kecil, keinginan keinginan elementer,
yang masih melekat di dada kita. Perlahan dan teguh setiap hubungan harus
dilepaskan dan setiap ikatan harus diputus, sehingga kita berdiri telanjang di
hadapan kekasih kosmik kita.
Tetapi di manakah Tuhan? Apakah
di Roma? Apakah di Ayodhya, Kashi, atau Mathura? Dia ada di semua tempat ini,
namun tidak di salah satu pun dari tempat-tempat ini. Dapatkah Tuhan akhirnya
digambarkan atau didefinisikan? Sadgurudewa menegaskan ada satu kata kecil yang
dapat menggambarkan keberadaan Tuhan. Itu bahkan bukan sebuah kata. Itu adalah
satu huruf kecil, satu suku kata kecil, suku kata paling indah. Itu mengandung
puncak kebaikan dari semua spiritualitas. Itu mengandung esensi dari semua
ajaran kitab suci dari semua agama, dari semua ras dan zaman. Itu mengandung
pesan dari setiap guru spiritual yang pernah menginjakkan kaki di bumi ini.
Satu suku kata! dan itu adalah "Aham". Tidak ada Tuhan yang pernah
ada di atas Aku ini, di luar Aku ini. Semua keilahian terbungkus, terkapsul
dalam satu suku kata ini – “Aham atau Aku atau Nenu atau Nan”.
Apa yang perlu saya ketahui
sendiri? Pertanyaan yang aneh! Apa yang perlu saya ketahui tentang diri saya?
Saya adalah saya, saya adalah diri saya sendiri. Apa masalahnya? Tetapi Anda
semua tahu bahwa itu tidak semudah kedengarannya. Alasannya adalah bahwa
pikiran yang dapat melarutkan dirinya sendiri itu, harus dipersiapkan dengan
sungguh-sungguh untuk tujuan ini melalui disiplin spiritual, baik dalam
kehidupan ini maupun di kehidupan sebelumnya. Karena itu, Upanishad yang agung,
di mana kita menemukan pemikiran manusia telah mencapai ketinggian spiritual
yang tak terbayangkan dan menakjubkan, ketinggian filsafat, pemahaman,
penyelidikan, dan analisis sifat manusia yang luar biasa, memberi kita berbagai
cara penyelidikan yang kuat, ampuh, dan sangat efektif. Akan menjadi upaya
sederhana yakni tiga penyelidikan terkenal yang dideskripsikan dalam Upanishad.
Mereka berkata Nethi, Nethi
"Na Ithi" - "Bukan ini". Bisa disederhakan, "Ini
adalah saputangan dan apakah Aku saputangan ini? Tidak. Aku terpisah,
saputangan ini terpisah." Kedengarannya begitu sederhana, hampir seperti
lelucon. Tetapi substansi pesan yang begitu mendalam tersembunyi di dalamnya,
dan hal yang sangat masuk akal ini, yang sering kita abaikan. Mengapa Aku bukan
saputangan ini? Sederhananya karena aku melihat saputangan dan dalam
penglihatanku ada tiga entitas. Satu "Aku" sang pengamat, satu
"saputangan" yang diamati, dan satu proses “penglihatan". Di
mana pun ketiga hal ini ada—sang pengenal, yang diamati, dan proses
mengetahui—demikian pula, sang pengamat, yang diamati, proses melihat—sang
pemikir, pikiran, dan proses berpikir—itu bukanlah hakikat sejatiku. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa, apa hakikat sejatiku tidak akan pernah
dapat diketahui karena jika diketahui, maka ia akan terpisah dariku. Jadi, apa
aku? "Aku ada", dan aku hanya dapat mengalaminya secara subyektif
dalam ketenangan jiwaku, di kedalaman hatiku, dan dalam ketenangan akal budiku.
Secara subyektif, hal itu tidak
dapat diketahui. Karena itu, aku bukanlah tubuh, karena aku melihatnya. Aku
bukanlah indra, karena aku mempersepsikannya. Aku bukanlah pikiran, karena aku
dapat membaca pikiranku, aku tahu kapan pikiran bahagia, aku tahu kapan pikiran
sedih, aku tahu kapan pikiran marah, jadi aku bukanlah pikiran. Aku bukanlah
akal budi, karena aku tahu kapan akal budiku mengatakan aku salah dan aku tahu
kapan akal budiku mengatakan itu adalah kewajibanku, jadi aku bukanlah akal
budi. Jika aku bukanlah tubuh, indra, pikiran, atau akal budi, lalu apa dan
siapa aku? Apa yang tersisa? Upanishad mengatakan, substratum, esensi, itulah
yang tersisa, itulah sifat sejatimu.
Kena Upanishad menegaskan seperti
ini : Keneshitham, Pathathi Preshitam Manah Keneshithaam Vaachamimaam Vadanthi
Apa yang mendorong pikiran menuju
objek? Apa yang mendorong ucapan untuk diucapkan? Siapakah makhluk bercahaya
yang membuat mata melihat? Siapakah yang membuat telinga mendengar? Ini adalah
pertanyaan terkenal kedua yang diajukan Kena Upanishad. Apa sumber dari semua
ini? Kita semua tahu sekarang bahwa gletser Gangothri adalah sumber Sungai
Gangga. Gletser Yamunothri adalah sumber Sungai Yamuna. Bagaimana keduanya
ditemukan? Sungai Gangga ditelusuri kembali ke hulu hingga ke sumbernya. Sungai
Yamuna juga ditelusuri ke hulu kembali ke sumbernya. Upanishad dan Sastra
mengatakan, dengan cara yang sama segala sesuatu dapat ditelusuri kembali ke
sumbernya melalui penyelidikan yang benar dan sumber itu adalah Tuhan ,
Parashiva, Brahman, Paramatman, Purusha .
Yoyam Atma Swayam Jyothihi
Panchakosha Vilakshnah Avasthatraya ssaakshi Sannirvikaaro Niranjanah
Sadanandah Savigyeyah Swaatmathwena Vipaschitaa
Inilah kata-kata Shre Adi Sankara
dalam Vivekachudamani. Ia bersinar dengan sendirinya. Ia bergantung pada
dirinya sendiri. Cahayanya tidak dipinjam. Kebijaksanaannya tidak dipinjam. Ia
berbeda dari kelima selubung lainnya. Ia adalah saksi dari ketiga keadaan
kesadaran dan seterusnya.
Akhirnya, suatu ketika Raja
Janaka, tokoh utama dari begitu banyak kisah Upanishad dan kitab suci kita,
Raja Rishi yang agung, sedang duduk di istananya dan mendengarkan musik merdu
dari para musisi istananya. Saat mendengarkannya, ia tertidur. Ia adalah raja;
siapa yang bisa membangunkannya? Semua abdi dalem diam-diam masuk ke kamar
dalam. Tetapi sekitar tengah malam ia terbangun dengan jeritan yang hampir
terdengar seperti tangisan pilu. Sang ratu berlari menghampiri raja, "Apa
yang terjadi?" Raja Janaka tampak tercengang. Yang ia tanyakan hanyalah,
"Apakah ini nyata? Atau itu nyata?" Para menteri bertanya-tanya apa
yang terjadi karena yang Raja Janaka katakan hanyalah, "Apakah ini nyata?
Atau itu nyata?" Kabar menyebar bahwa Janaka telah menjadi gila dan
Mithila kini tanpa raja. Karena yang diucapkan raja hanyalah "Apakah ini
nyata? Atau itu nyata?" Resi agung, Suka yang dikenal demikian karena
konon ia terlahir sebagai orang yang mengetahui kebenaran Brahman tertinggi, kebetulan
melewati kerajaan itu, dan ketika mendengar kisah ini, ia tahu bahwa ia
memiliki jawabannya. Ia pergi kepada raja, dan bertanya kepada raja, "Apa
yang terjadi?" Kemudian raja menceritakan, "Saat aku tidur, aku
bermimpi bahwa semua raja saingan dengan kekuatan gabungan menyerang
kerajaanku, mengalahkan pasukanku, aku berlari dan melarikan diri dari mereka
sambil mengkhawatirkan nyawaku."
Mereka mengejarku ke dalam hutan.
Aku berlari ke sebuah desa suku, kelaparan. Aku melihat seorang penduduk desa
suku, sedang menyelesaikan makanannya dan mencuci piringnya. Aku meminta sisa
makanannya dan ketika aku hendak mengambil satu suapan itu, seekor anjing
datang dan merebutnya. Kelaparan dalam mimpi itu tampak nyata bagiku seperti
kemewahan sekarang. Kekurangan dalam mimpi itu tampak nyata bagiku seperti
singgasana ini tampak nyata bagiku sekarang. Begitulah kata Maharishi Suka. Aku
benar-benar bingung tentang apa yang nyata, apakah ini nyata? "Atau apakah
itu nyata?" Kemudian, Resi Suka berkata, "Anakku, itu tidak nyata,
begitu pula ini!", dan untuk melihat alasannya, mari kita sekarang beralih
ke apa yang disebut sebagai Upanishad utama dan paling mendalam dari semua
Upanishad yang adalah inti Vedanta. Jiwa dari Vedanta dan itu adalah Upanishad
Mandukya yang agung, yang paling singkat dari semuanya, terdiri dari 12 bait.
Dikatakan, kesadaran
bermanifestasi sebagai tiga keadaan Jagratha, Swapna, Sushupti—tetapi realitas
adalah yang keempat. Tanpa membahas detail yang rumit dalam Upanishad itu
sendiri, mari kita pertimbangkan satu situasi kehidupan nyata yang kecil.
Ketika kita terjaga, kita tidak
bermimpi. Ketika kita bermimpi, kita tidak dalam tidur nyenyak. Ketika kita
dalam tidur nyenyak, kita tidak bermimpi maupun terjaga. Dengan kata lain,
dalam setiap keadaan, dua keadaan lainnya sama sekali tidak ada. Juga ketika
kita bangun dari tidur nyenyak, kebahagiaan dan sisa tidur nyenyak tidak hilang
dari kita. Kita tahu bahwa kita tidur nyenyak. "Aku bermimpi", kita
bahkan tahu persis apa yang kita impikan. Mandukya Upanisad mengatakan, karena
itu, pastinya ada suatu entitas yang terjaga, sadar, sepenuhnya sadar,
cemerlang, dan bersinar selama tiga keadaan waktu ini. Seseorang pasti hadir
ketika Anda terjaga, seseorang pasti terjaga ketika Anda bermimpi, seseorang
pasti sadar ketika Anda tidur nyenyak, dan kesadaran itu adalah “hakikat diri
sejati” Anda . Itu adalah keadaan sejati Anda. Itulah ajaran Upanishad
Mandukya. Pada akhirnya, semua itu hanyalah kata-kata belaka. Kemudian,
Upanishad Mundaka menarasikan:
“Nayamatma
pravachanena labhyathe Na medhayaa na bahunashuthena”.
"Diri sejati ini tidak
dicapai melalui ceramah atau khotbah, bukan melalui kecerdasan, bukan pula
dengan terlalu banyak mendengarkan."
Kemudian pada tahap selanjutnya,
Upanishad mengatakan, diri sejati dicapai melalui usaha tulus yang dibantu oleh
bantuan aktif seorang Sadgurudewa yang telah mencapai pencerahan diri. Karena
itu, Upanishad Kaivalya menegaskan, teruslah berjuang dan bercita-cita untuk
Jatidiri itu – itulah kunci menuju keabadian, tidak ada yang lain.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar