Di tanah Pasundan yang diselimuti kabut pegunungan dan harum tanah yang basah oleh hujan, sejarah tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur di dalam ingatan batu, sungai, hutan, dan pusaka leluhur yang diwariskan dari zaman ke zaman. Salah satu jejak agung itu adalah Mahkota Binokasih. Bukan sekadar benda kerajaan. Bukan sekadar pusaka emas. Melainkan lambang perjalanan ruh peradaban Sunda yang melintasi abad demi abad.
Dalam bahasa Sunda, “Binokasih” mengandung makna kasih yang dibina, dipelihara, dan diwariskan. “Bino” berasal dari kata bina atau dibina, sedangkan “Kasih” berarti cinta kasih. Karena itu Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol kekuasaan. Ia adalah perlambang pemimpin yang memerintah dengan welas asih, menjaga rakyat bukan dengan ketakutan, melainkan dengan cinta.
Pemimpin yang ideal dalam pandangan leluhur Sunda adalah mereka yang memahami bahwa kekuasaan bukan hak untuk menguasai, melainkan amanah untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Tunggal. Dalam sejarah Tatar Sunda, Mahkota Binokasih dipercaya berasal dari garis kerajaan Sunda-Galuh dan kemudian diwariskan kepada Sumedang Larang setelah runtuhnya Pajajaran. Ia menjadi simbol kesinambungan ruh kepemimpinan Sunda yang tidak tunduk pada kehancuran zaman.
Karena sesungguhnya kerajaan boleh runtuh. Istana boleh menjadi tanah. Tetapi nilai luhur tidak boleh mati.
Pada masa kerajaan Sunda dahulu, seorang raja bukan hanya pemegang kekuasaan duniawi. Ia dipandang sebagai penjaga keseimbangan kosmis yang harus hidup dalam dharma. Dharma bukan sekadar aturan agama. Dharma adalah keteraturan semesta. Menjaga kejujuran, menjaga alam, menjaga kehormatan leluhur, menjaga rakyat kecil, dan menjaga keseimbangan antara lahir serta batin.
Karena itu seorang pemimpin dalam tradisi Sunda lama tidak dinilai dari kekayaannya, melainkan dari keselarasan hidupnya. Leluhur Sunda mengenal ajaran luhur: “Silih asih, silih asah, silih asuh.” Maknanya adalah saling mengasihi, saling memberi pengetahuan, dan saling menjaga. Tiga ajaran ini merupakan inti peradaban Sunda kuno. Silih asih mengajarkan kasih sayang. Silih asah mengajarkan pencerdasan dan kebijaksanaan. Silih asuh mengajarkan perlindungan terhadap sesama.
Inilah ruh Mahkota Binokasih. Mahkota itu bukan lambang kesombongan raja. Ia adalah pengingat bahwa seorang pemimpin harus menjadi pengayom. Sebab mahkota yang sejati bukan berada di kepala, melainkan di dalam hati.
Dalam ajaran Sunda Wiwitan dikenal pula petuah: “Ngaji diri, ngaji rasa, ngaji hirup.” Maknanya adalah belajarlah mengenal diri, mengenal rasa, dan memahami kehidupan. Betapa dalam makna ajaran ini. Leluhur Sunda memahami bahwa manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah kehilangan arah. Oleh karena itu pendidikan spiritual bukan sekadar hafalan, melainkan perjalanan batin yang mendalam.
Mereka belajar dari gunung, belajar dari sungai, belajar dari sawah, belajar dari matahari dan hujan. Alam adalah kitab suci yang hidup. Karena itu peradaban Sunda lama sangat menghormati keseimbangan alam. Gunung dianggap tempat kesunyian spiritual. Hutan dianggap ruang suci kehidupan. Air dianggap sumber kemurnian.
Maka seorang raja Sunda sejati harus menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Inilah yang perlahan hilang di zaman modern. Hari ini manusia membangun gedung tinggi tetapi menghancurkan hutan. Mencari keuntungan tetapi kehilangan keseimbangan. Mengejar kemajuan tetapi melupakan akar peradaban.
Di sinilah Mahkota Binokasih kembali menemukan maknanya. Ia menjadi simbol pengingat bahwa modernitas tanpa akar budaya akan melahirkan kehampaan. Bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan leluhur akan membuat manusia tercerabut dari jiwanya sendiri.
Ketika Pajajaran runtuh pada abad ke-16, bukan hanya sebuah kerajaan yang berakhir. Yang runtuh adalah satu peradaban besar Sunda yang selama ratusan tahun menjaga identitas spiritual Tatar Pasundan. Namun ruh itu tidak benar-benar mati.
Ia berpindah. Ia bersembunyi di dalam adat, bahasa, kesenian, mantra-mantra lama, pupuh, hutan-hutan adat, dan di dalam Mahkota Binokasih.
Mahkota itu kemudian diwariskan kepada Sumedang Larang sebagai simbol estafet peradaban Sunda yang tidak ingin kehilangan jati dirinya. Sebab pusaka sejati bukanlah emasnya, melainkan nilai yang dijaganya. Dalam tutur Sunda lama terdapat wejangan: “Ulah poho kana jati diri.” Artinya, jangan melupakan jati dirimu.
Kalimat sederhana ini sesungguhnya sangat relevan bagi manusia modern. Hari ini banyak orang Sunda mengenal dunia luar tetapi malu terhadap akar budayanya sendiri. Banyak yang merasa modern ketika menjauh dari tradisi leluhur. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berjalan ke depan tanpa memutus akar sejarahnya. Leluhur Sunda dahulu menerima perubahan zaman tanpa kehilangan identitas. Mereka memahami bahwa spiritualitas tidak harus memusuhi modernitas. Nilai luhur bersifat abadi. Waktu boleh berubah, tetapi kebijaksanaan tetap hidup. Karena itu Mahkota Binokasih sesungguhnya bukan hanya simbol kerajaan masa lalu. Ia adalah simbol kesadaran budaya, simbol keberanian menjaga jati diri, dan simbol kesetiaan kepada perjalanan leluhur.
Di tengah zaman modern, banyak masyarakat Sunda melihat semangat itu hidup kembali dalam sosok Dedi Mulyadi, yang sejak lama dikenal berusaha menghidupkan kembali ruh budaya Sunda dalam kehidupan masa kini. Ia sering berbicara tentang pentingnya menjaga alam, menghormati leluhur, mencintai budaya sendiri, serta membangun Jawa Barat dengan ruh kearifan lokal Sunda.
Di tengah dunia politik yang sering kehilangan sentuhan spiritual dan budaya, pendekatan seperti ini terasa berbeda. Bukan karena romantisme masa lalu, melainkan karena manusia modern mulai sadar bahwa bangsa yang kehilangan akar budayanya akan mudah kehilangan arah.
Rasa terima kasih yang mendalam layak diberikan kepada Kang Dedi Mulyadi atas keberaniannya membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat Sunda terhadap warisan leluhur yang lama tertidur. Bukan untuk menghidupkan kerajaan masa lampau. Bukan untuk memecah bangsa. Melainkan untuk mengingatkan bahwa Indonesia dibangun dari akar peradaban Nusantara yang sangat kaya, dan akar Sunda adalah salah satu cahaya penting di dalamnya.
Di tengah gelombang komersialisasi spiritual, kehilangan identitas budaya, dan pola pikir instan zaman modern, usaha menjaga nilai luhur leluhur menjadi sebuah bentuk dharma. Sebab dharma berarti menjaga keseimbangan hidup. Dalam ajaran Sunda kuno dikenal pula petuah: “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak.” Artinya, hutan rusak, air habis, manusia akan sengsara.
Betapa visionernya ajaran leluhur Sunda. Ratusan tahun lalu mereka telah memahami bahwa kehancuran alam akan membawa penderitaan bagi manusia. Hari ini dunia modern baru mulai menyadari krisis lingkungan, sementara leluhur Nusantara telah lebih dahulu mengingatkannya melalui kebijaksanaan sederhana.
Karena itu pemimpin yang memahami akar budaya leluhurnya biasanya lebih dekat dengan kesadaran ekologis dan kemanusiaan.
Mahkota Binokasih dalam makna spiritual bukan hanya mahkota kerajaan. Ia adalah mahkota kesadaran. Mahkota yang mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus menjaga alam, melindungi rakyat, menghormati leluhur, hidup sederhana, dan tetap teguh di jalan dharma.
Bukan pemimpin yang kehilangan identitas demi popularitas. Bukan pemimpin yang menjual warisan leluhur demi kepentingan sesaat. Tetapi pemimpin yang tetap berdiri teguh menjaga akar budayanya sambil berjalan menghadapi zaman modern.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, banyak warisan leluhur Nusantara perlahan dilupakan karena dianggap kuno. Padahal di dalamnya tersimpan filsafat hidup yang sangat dalam.
Leluhur Sunda tidak hanya meninggalkan benda pusaka. Mereka meninggalkan cara hidup. Cara menghormati alam. Cara menghormati orang tua. Cara menghormati kehidupan. Cara menjaga keseimbangan batin.
Itulah makna terdalam Mahkota Binokasih. Ia adalah simbol kesinambungan ruh peradaban Sunda dari masa kerajaan hingga Republik Indonesia. Sebuah pengingat bahwa zaman boleh berubah, tetapi manusia tidak boleh kehilangan jiwanya.
Dan selama masih ada orang-orang yang menjaga nilai luhur itu, maka sesungguhnya Mahkota Binokasih belum pernah hilang. Ia tetap hidup. Bukan hanya di museum, tetapi di dalam kesadaran manusia yang masih mencintai akar leluhurnya.
Karena mahkota yang sejati bukanlah emas yang dikenakan di kepala, melainkan kebijaksanaan yang hidup di dalam hati. Dan pemimpin sejati bukanlah mereka yang paling berkuasa, melainkan mereka yang paling setia menjaga cahaya leluhurnya untuk masa depan generasi berikutnya.
Om Hyang Wenang maparin cahaya ka sakumna kahirupan. Rahajeng dina jalan dharma.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar