Kelahiran dan Karmavasana (1)

 


Oleh:

Acarya Paramananda Muni Daksa


Hampir semua wujud (bentuk, rupa) makhluk hidup (tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia) memiliki evolusi kehidupan berasal dari kelahiran dan karmavasana sendiri-sendiri. Tidak terlepas dari sebuah evolusi dan revolusi kehidupan yang sangat panjang. Dalam Garuda Purana evolusi roh sampai mencapai 4.800.000 evolusi Itu sebabnya Mahatma Gandhi pernah menyatakan, syukurnya manusia melupakan bentuk atau wujud rupa evolusi kehidupannya di masa lalu, apakah ia pernah menjadi tumbuh-tumbuhan atau binatang ataukah menjadi manusia, entah untuk berapa kali evolusi kehidupan yang sudah dilewatinya. Bila manusia masih mengingat masa lalunya maka dipastikan manusia akan mengalami stress, bimbang, gelisah, berkecamuk lubuk hatinya dan ragu. Jika melihat dalil-dalil kehidupan dari kaca mata emperis bahwa meski terlahir jadi manusia tapi sifat-sifat hewaninya masih melekat dan terlihat transparan baik dilihat perilaku, sifat, watak (karakter) dan bentuk rupanya. Itu pertanda bahwa dalam evolusi roh, manusia yang dilahirkan (janma-stami, janma = kelahiran (jadma) memiliki sifat, gerak rupa seperti binatang. Misalnya tentang sex, makanan, tidur pulas, dan gerak - gerak seperti hewan. Harus direalisasi kesadaran ini. Tak disangkal bahwa semua bentuk (wujud/rupa) adalah berkah dan buah karma masa lalu (karmavasana).

Ada manusia bertumbuh dengan bobot IQ (kecerdasan Intelegensi), (kecerdasan Emotional (EQ) dan SQ (Spiritual Quotion) yang mencengangkan melebih rata-rata kecerdasan manusia. Tak dipungkiri, inilah sisa sisa karma masa lalu. Melihat fakta dan realita bahwa ada manusia yg mampu menguasai tekhnologi, bidang eksakta, sport atau nilai seni budaya kemamouan lainnya. Sebenarnya kenyataan ini mengindikasikan bahwa mereka itu dalam kehidupan masa lalunya, telah menguasai tekhnologi, sport, seni budaya, bidang ekasakta, bahasa. Tapi telah mengalami kematian sebelum kecemerlangannya bertumbuh. Kehidupan ini hanya melanjutkan apa yang sudah tercapai sebelumnya. Namun dikehidupan mendatang mereka masih membawa vasananya (bekas, sisa dan jejak digitalnya (vasana) pada kehidupan dewasa ini. Diharapkan dengan mengetahui posisi ini manusia tidak akan menjadi iri hati, bergunjing, berpraduga buruk, berburuk sangka dsb.

Bakat, talenta, kecerdasan, keterbelakangan bukan tumbuh dari ketiadaan atau hal yang tiba-tiba. Ia berasal dari buah yang ditanam masa lalu. Jika ada seseorang siapapun yang memiliki bakat atau talenta yang jauh melibihi dari bakat rata-rata, apapun bentuknya maka itulah karma vasana. Buah dari bibit tanaman.masa lalu yang terbawa sampai hari ini (inkarnasi, tumimbal lahir, punarbhawa, berevolusi roh).

Tidak satupun manusia berevolusi dengan memiliki.IQ, EQ, dan SQ yang persis sama, atau presisi sama meskipun dari leluhur yang sama. Seperti orang tua dan anak dalam garis vertikal dan horisontal. Apakah kita pernah tercekoki dari leluhur yang memiliki keceradsan dan kepandaian yang luar biasa, namun justru keturunannya tidak. Ataupun manusia yang lahir dalam bentuk dan rupa lahir kembar. Tapi tidak memiliki presisi yang sama ditinjau dari aspek-aspek ini. Perbedaaan kualifikasi itu jelas dari 5 hal : bakat (talenta), sifat (watak), masa depan (pekerjaan), perkawinan, dan kemauan.

Meskipun lahir kembar, toh yang paling pasti suami dan istrinya berbeda, rumah beda, eksistensi beda dan pekerjaan beda. Menjadi anak atau berposisi sebagai orang tua adalah titipan. Hanya tanggung jawab moral sebagai manusialah dapat memanusiakan (manusiawi) kepada mereka dari makhluk Tuhan yang diciptakan sehingga kita memelihara anak-anak kita, karena orang tua kita yang melahirkan dari mereka, memelihara, menjaga dan membesarkan setiap jiwa yang hadir, sebagai tuntutan tri-rnam menjadi garis vertikal yang disebut Leluhur (manusia-manusia yang memiliki budi luhur, manusia agung, mulia)

Manusia itu memiliki jiva-jiva dalam kualitas individu (jivatman) yangberdiri sendiri sesuai dengan garis tangan dan prakarsanya. Tidak memiliki konteks keterikatan. Masing masing bernaung di bawah jiva-mukti yang di atas. Inilah kuncinya. Jiva-jiva ini akan berevolusi sepanjang kehidupan berlangsung yg sifatnya eternal (abadi).



Yathākārī yathācārī tathā bhavati Sādhukārī sādhur bhavati pāpakārī pāpo bhavati Puṇyaḥ puṇyena karmaṇā bhavati pāpaḥ pāpena
“Seseorang menjadi sesuai dengan perbuatannya dan perilakunya. Ia yang berbuat baik menjadi baik, ia yang berbuat jahat menjadi jahat. Melalui perbuatan bajik ia menjadi bajik, melalui perbuatan buruk ia menjadi buruk.”
Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 4.4.5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...