Mahashantih Puja - Veda Poshana
Ashram (MSP - VPA) XVII/ 18 Desember 2025
Juga Ditandai “Komitmen” Gunakan
Shiva Sumedang Wahana Prosesi
Plebon Pandita VPA
Catatan ringan dan kompilasi: Sadhu Giriramananda
Om Shiva Hara Hara Mahadewa Om
Sepertinya tepat, memang tidak
ada sesuatu di alam ini yang sifatnya kebetulan , “bertepatan” atau coinsident.
Kita percaya semua eksistensi di jagat raya ini merupakan kreasi kosmik semata.
Konon, rumput bergoyang pun atas interversi Tuhan Hyang Maha Esa. Jadi, sangat
yakin, di baliknya apa yang eksis saat ini, tentu ada “Kuasa” Tangan Hyang Maha
Agung Paramashiva , yang ikut “bermain cantik”. Demikian halnya gelaran, Homa
Yadnya yang dikaitkan juga pada event, Mahashantih Puja Veda Poshana Ashram
XVII/2005. Jika kita simak lebih detail terkait Rudra Homa yang digelar di
Griya Santabana, Dusun Payuk, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten
Bangli pertepatan hari suci Shivaratri bulanan atau sebulan sebelum
Mahashivaratri, yakni Kamis Wage Pujut, prewaning tilem keenam 18 Desember 2025
lalu, lebih spesifiknya termasuk .
“Laghu Rudra Homa”, skema upacara
itu dihelat dengan format, sebanyak 11 orang yang menempati kunda utama dan
setiap orang ritwik - pandit menguncar Veda yang akan melantunkan mantra
Namakam lengkap sebanyak 11 kali, kemudian diikuti oleh Chamakam Anuvākam yang
sesuai secara berurutan. Jadi, jumlah total Lantunan:
Śrī Rudramnya adalah : 11 orang ×
11 putaran jadi sebanyak = 121 , nah pengulangan sebanyak 121 namaka
parayananya sebanyak 121 kali diikuti chamakam parayana 1x11, dinamakan “Laghu
Rudram”
Jika Namakam diulang 11 kali oleh
satu Pandit, kemudian Chamakams 1x kali, oleh hanya seorang pandit maka
putarannya sama dengan = 11 maka disebut Eka Dasa Rudram.
Untuk format , Maha Rudram Homa,
pengulangan mantra namaka parayananya sebanyak 1331 kali diikuti chamakam
parayana.
Nah, yang disebut “Ati Rudram
Homa” itu yang paling tertinggi tingkatannya karena pengulangannya mencapai
total sebanyak 14.641 kali namaka parayana dan ditambah 1331 kali chamaka
parayana. Biasanya berlangsung selama 11 hari dan dilakukan oleh sebanyak 121
Pandit Ritwik
Kegiatan “Laghu Rudram Homa”
Mahashantih Puja - Veda Poshana
Ashram (MSP - VPA) XVII/ 18 Desember 2025
Jadi Griya Santabana, - tempat
hutan yang damai - yang ada di Dusun Payuk” menjadi sangat terberkati Shiva
Mahadewa, karena di sana bisa dihelat/menghelat upacara Veda, kategori “Laghu
Rudram”. Jika merujuk klasifikasinya sesuai pakem Veda, jadi kedudukannya di
atas Eka Dasa Rudram. Yap… atas berkah anugerah Veda itu, kita sudah pasti
harus sangat bersyukur dan berbahagia, bisa ikut bagian melakukan upacara suci
yang sangat berarti itu, terkait kesejahteraan, kedamaian dan cinta kasih,
bukan saja terberkati di tempat tersebut saja, namun seluruh Bali, nusantara
keseluruhan, bahkan dunia serta alam semesta. “Karena berkah, rahmat dan
anugerah Paramashiva lah, semua itu bisa dilakukan” kata Ketua VPA , Sri
Begawan Nabe Yogananda
Pelaksanaan Laghu Rudram Homa
Setidaknya sebanyak 150 Pandita
Agni, Yogi, Acharya dan hotri berkumpul dari berbagai daerah di Bali dan luar
Bali untuk melantunkan puja Laghu Rudram Homa dan doa demi kedamaian alam
semesta. Pelaksanaanya pelantunan mantra Weda yang tercantum dalam Krisna Yayur
Veda itu bahkan sudah . dimulai sejak pukul 12.00 diawali Namaka Parayana dan
Chamaka Parayana sebanyak 121 ulangan oleh 11 Pandit Ritwik dan juga melibatkan
Pandita Brahma, yang mengacu pada landasan Tatwa bertugas memproteksi,
menyembuhan luka yadnya selain mengkoneksikan pada domain para- vak - pada
dimensi paling halus melalui dyana yang tak terputus - hingga pukul 17.30 Wita.
Kemudian sesi rehat sejenak, dan dimulai lagi pukul 18.15 wita dengan
Homayadnya Mahashanti Puja XVII sampai pukul 20.15 Wita.
Puja Abhiseka Laghu Rudram dan
Homayadnya itu dirangkaikan helatan Mahasanthi Puja Veda Poshana Ashram yang
juga diikuti para Sulinggih dan Pemangku Hotri dari seluruh kabupaten/kota se
Bali. Gelaran acara itu juga dihadiri para Sulinggih dan Pemangku Hotri dari
Kalimantan Timur, Kabupaten Konawe Selatan, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi
(Jabotabek) dan Lombok serta ratusan umat Hindu lainnya.
Pada kesempatan itu, Pembina VPA
Ida Pandita Mpu Abra Bhaskara Murti, meyakini VPA adalah "masa depan"
umat Hindu dan keberadaannya pasti sangat kuat karena akan semakin dibutuhkan
oleh umat Hindu. Pada kesempatan itu segenap anggota VPA berkomitmen menggelar
prosesi Plebon dengan ritual suci Ngaben Siwa Sumedang yang dilakukan secara
ngelanus, maksudnya dalam sehari tuntas hingga sudah ngelinggihan Dewahyang
ring Rong Tiga Mrajan. Sri Mpu Abra sendiri sudah lebih 50 kali memimpin
upacara Shiva Sumedang di wilayah Jembrana. Bahkan, Shiva Sumedang sudah pernah
diseminarkan secara nasional di Gedung Parisada Hindi Dharma Indonesia (PHDI)
Provinsi Bali 2021. Tidak kurang 400 an orang hadir , saat Bali dipimpin
Gubernur Made Mangku Pastika.
Pelantunan Mantra Weda ini
didahului Namaka Parayana sebanyak 121 kali dan juga Chamaka parayana, dan juga
berbagai mantra Weda lainnya. Acara diawali Omkara 21 kali, Ganesha Prartana,
Ganapathi Atharvasirsha, Purusha Suktam, Durga Suktam, Mantra Puspam, Gayatri
Mantram , dilanjutkan penyalaan Jyotir, Guru Mantram, Acamanam, Shanka Puja,
Bhutochatana, Gantha Nadah, Kalasha Puja, Kumbha Sthapana Puja, Atma Puja.
Pelantunan Mantra mantra Weda khususnya Namaka Parayana dan Chamaka Parayana,
dilanjutkan hingga sampai 5,5 jam.
Selain itu Laghu Rudra Homa, juga
dihelat doa- untuk kedamaian untuk Bali, Nusantara, alam semesta dan juga
mantra kenegaraan melalui Mahashantih Puja, yang didesain lewat Homayadnya
Sebelas Kunda dan dipimpin oleh sebelas Sulinggih serta Hotri.
Pada kesempatan itu, Ketua Umum
Pasraman Veda Poshana, Ida Sri Begawan Yogananda didampingi oleh Sekretaris Ida
Pandita Acharya Suviraprenanda dan Bendahara Ir. Nyoman Irawan beserta seluruh
pengurus cabang di sebagai daerah, secara umum menjelaskan sejarah dan
keberadaan Veda Poshana Ashram, selain secara sekilas persiapan Mahashanti
Puja. Maksud dan tujuan Laghu Rudram (pelantunan Mantra Weda) dideskripsikan
lebih detail dan spesifik Ketua Bidang Pendidikan Pasraman Veda Poshana Ir. I
Made Astana, MBA. Menurutnya, upacara apa pun mesti dilandasi sastra Weda jika
umat Hindu termasuk di Bali mengakui Weda sebagai Pustaka Suci Umat Hindu.
Dasar sastra Rudram adalah Krishna Yajur Weda. "Jika diibaratkan dengan
dasar hukum di NKRI, keberadaan Veda itu ya sama dengan Undang- undang Dasar
1945" terangnya. Pelantunan Laghu Rudram (parayana mantra Weda) dipercaya
sangat ampuh melawan sifat-sifat buruk di dalam diri manusia, dan juga untuk
mewujudkan jati diri selain juga menebarkan vibrasi kedamaian ke alam semesta.
"Sangat beruntung kita semua di sini dapat ikut serta dalam pelantunan
Weda" ujar Jero Mangku Gede itu sumringah.
Pada acara itu juga dilantunkan
khusus mantra mantra perdamaian versi Veda oleh Pandita Agni Begawan Jay
Sumilajati. Antara lain apa yang khusuk dilakukan terkait upacara Laghu Rudra
Homa dan Mahashantih Puja ini, sejatinya sudah merupakan kewajiban setiap orang
suci, karena itu para Brahmana senantiasa melakukan yadnya suci ini, mengikuti
perintah Hyang Widhi Wasa. Semoga Bali, nusantara negara ini jaya tanpa
kerusuhan. Jagat dan Alam Semesta damai, memberikan kesejahteraan bagi
semuanya.
Laghu Rudram Homa dan Mahashanti
Puja ini dihelat atas dana punia 53 orang pengurus dan anggota Veda Poshana
Ashram, yang totalnya mencapai lebih dari Rp 25 juta , disamping itu ada punia
nasi kotak, kue dan partisipasi dari para bhakta, baik tenaga waktu serta
pikiran, sampai sukses terlaksananya kegiatan ini. Ketika pelaksanaan, pihak
panitia dan Griya Santabana juga melibatkan Pecalang dan warga di sekitarnya
untuk mengatur parkir dan lalu lintas keluar masuk lokasi upacara.
Atas semua itu, Ketua Umum
Pasraman Veda Poshana, Ida Sri Begawan Nabe Yogananda menyampaikan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan tenaga, pikiran
dan finansial dalam kegiatan sangat suci “ Laghu Rudram Homa dan Mahashanti
Puja, Veda Poshana Ashram XVII Tahun 2025 sehingga berjalan sangat baik, lancar
dan juga penuh berkah. "Semoga kegiatan semacam ini dapat kita lakukan
lagi tahun depan secara lebih baik lagi di tempat lainnya. Semoga semua karma
baik yang telah diupayakan, kemudian kita diberikan berkah segala kebajikan
bagi perjalanan spiritual kita masing-masing dan secara bersama-sama. Semoga
kedamaian, kasih sayang , sikap rendah hati selalu menyertai langkah-langkah
kita,” ujar penuh rasa syukur dari Sri Begawan Nabe Yogananda
Alasan “Shiva Rudra”, Sangat
Diagungkan
Nah, apa alasan Shiva Rudra itu
sangat diagungkan. Sesungguhnya tatwa atau filsafat Shiva (Rudra) telah
terdapat di dalam hampir semua kitab suci Hindu. Malah, dalam berbagai
penelitian ilmiah para arkeolog dunia, meyakini konsep tentang Shiva itu telah terdapat
dalam peradaban Harappa, yang merupakan peradaban pra-Weda. Pendapat para
Arkeolog itu tidak asal asalan, karena penyelusuran mereka itu dikuatkan dengan
ditemukan suatu prototipe “Trimukha Yogiswara Pasupati Urdhalingga Shiva” pada
peradaban Harappa tersebut.
Maka kemudian di dalam kitab suci
Rg Weda, Sama Weda, Yayur Weda dan Atharwa Weda telah ditemui pemujaan kepada
Shiva -Rudra itu. Karakter yang diberikan kepada Rudra oleh pemujanya dalam Reg
Weda begitu bermacam-macam seperti "bercahaya bagaikan matahari terbit dan
warna merah emas “Tamryaya dan Arunaaya", "berpakaian dengan ornamen
keemasan (Rohitaya)", "bijaksana - Sadashiva ", "yang
paling Kuat “Kshaya Dwiiraaya", "penguasa tari “Tandava”",
"pemilik obat-obat penawar (Yousadi) dan Rudra sebagai penyembuh pertama
“Prathamo Daivyo Bhisak ", "penakluk yang tak terkalahkan “Suraaaya
", dan "penguasa universal “Sarvesvaraya". Adalah benar, Rudra
dalam Reg Weda mencerminkan "kedahsyatan alam ", badai dan angin yang
menyebabkan kebinasaan “Rudra” tetapi secara berdampingan beliau disebut juga
sebagai “hujan kemakmuran “Shambu Shankara". Dalam kitab Yayur Weda, Rudra
muncul dalam wujudnya yang jamak sehingga muncul istilah Sata rudria (seratus
Rudra, bahkan sahasra - ribuan). Dalam kitab suci ini pula bentuk Rudra yang
ramah indah dan melindungi (Shiva) dibedakan dari penampilan yang mengerikan
(Rudra). Selanjutnya di dalam kitab Atharwa Weda, Rudra disebut sebagai penjaga
arah mata angin atau semua arah “Dewata Nawa Sanga” atau Disho Vitasthire.
Dalam kitab Suci ini pula kita mengetahui bahwa Rudra menjadi pujaan
orang-orang yang merasa papa, karena Rudra memilih tetap menjadi miskin
“Daridran”.
Demikianlah kehadiran Shiva Rudra
dalam kitab suci Hindu, khususnya kitab suci Weda yang sesungguhnya diyakini
sebagai Dewa yang satu, sebagaimana kemudian dirumuskan dalam kitab upanisad
bahwa Rudra hanya satu (eko hi Rudro na dwitiyaya pastueya iman isanibhih).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar