Hari Raya Galungan: Introspeksi Praktik Swadharma dan Dharma Negara

 

Oleh

Satya Premadasa

Dharma merupakan hukum keadilan dan keselarasan, yang bersatu padu dalam struktur alam semesta, seperti yang dikehendaki oleh Hyang Widhi. Dharma disamping memerlukan tanggung jawab pada diri sendiri, juga pada Tuhan, sehingga memerlukan introspeksi dan disiplin diri berdasarkan pada pengetahuan ketuhanan (Brahma Vidya). Sejatinya, dharma lebih merupakan manifestasi cinta kasih dalam setiap tindakan.

Idealnya dharma akan menuntun suatu kehidupan yang adil dan harmonis dalam semua hubungan dengan yang lainnya, pada berbagai tingkatan, baik di rumah maupun dalam masyarakat atau bangsa. Kemajuan spiritual akan terjadi karena melaksanakan dharma yang berarti mengendalikan segala pikiran, perkataan dan perbuatan yang berlawanan dengan hukum keadilan dan keselarasan dari Hyang Widhi. Dengan begitu pemaknaan dharma tidak hanya berhenti pada tataran ritual tetapi mesti juga diarahkan ke dimensi aktualisasi dharma negara sebagai salah

satu kewajiban umat Hindu dalam menghadapi tantangan hidup berbangsa dan bernegara.


© Jalan Dharma

Umat Hindu semestinya selalu mengikuti jalan dharma untuk mencapai tujuan hidup seperti telah ditunjukkan oleh orang bijaksana (Atharva Veda VII.97.7). Dalam Rg Veda X.63.13


juga dinyatakan bahwa umat yang menempuh jalan dharma akan dianugerahi dengan kemakmuran dan keturunan (generasi) yang berbudi luhur. Kemenangan dan kebahagiaan sejati dalam hidup adalah hasil pelaksanaan dharma yang baik. Kemenangan demikian bukan berasal dari kenikmatan yang berasal dari kesenangan sementara. Kerja keras yang dilakukan untuk menegakkan dharma akan menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan tertinggi. Sebaliknya, bila hanya mengejar kenikmatan sensual akan berakhir dengan kesusahan dan penyesalan. Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam melakukan apa yang disukai, tapi dalam menyukai apa yang dilakukan. Apapun pekerjaan kita, menurut Karma Yoga mesti dilakukan dengan gembira serta tidak terikat pada hasil yang akan diperoleh.

Jalan Dharma akan menuntun pada kehidupan yang adil dan harmonis dalam semua hubungan dengan yang lainnya, pada berbagai tingkatan, baik di rumah maupun dalam masyarakat atau bangsa. Kemajuan spiritual akan terjadi, karena melaksanakan dharma berarti mengendalikan segala pikiran, perkataan dan perbuatan yang berlawanan dengan hukum keadilan dan keselarasan dari Hyang Widhi. Suara batin akan mengarahkan kita pada tujuan rohani. Bimbingan suara batin itu adalah suara Hyang Widhi. Jika mengikuti arahnya, kita menjadi lebih dekat dengan-Nya. Hal itu akan menolong kita untuk menyadari dharma dan memiliki kesucian hati yang membuat selalu bahagia dan menghancurkan pikiran atau perbuatan jahat (Rg Veda, VIII.95.7 dan 9). Jika kesadaran itu bertumbuh setiap saat, kita menjadi lebih serasi dan selaras pada kewajiban rohani. Dengan mempraktikkan ini, hati nurani dapat segera mengevaluasi setiap situasi serta menunjukkan jalan pada sukacita dan kedamaian.


Pelaksanaan dharma menjadikan setiap tindakan dilandasi oleh cinta kasih, bukan suatu tugas yang dilakukan dengan terpaksa. Melaksanakan kewajiban dan melayani sesama dengan rasa terpaksa atau tanpa semangat menunjukkan tindakan adharma, karena Hyang Widhi ada dalam diri setiap orang. Pelayanan kepada manusia juga merupakan pelayanan pada Tuhan (Manava seva Madava seva). Cinta kasih sesungguhnya merupakan sifat sejati umat manusia. Kewajiban tanpa cinta kasih adalah tercela. Kewajiban dengan cinta kasih adalah yang dikehendaki. Cinta kasih tanpa kewajiban adalah Ilahi.

Dharma semestinya tetap diikuti untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana ditunjukkan oleh orang bijaksana (Atharvaveda VII.97.7). Umat yang menempuh jalan dharma akan diberkahi dengan kemakmuran dan juga dilimpahi dengan keturunan (generasi) yang berbudi luhur (Rgveda X.63.13). Kemenangan dan kebahagiaan sejati dalam hidup adalah hasil dari pelaksanaan dharma. Kemenangan demikian bukan berasal dari kenikmatan yang berasal dari kesenangan sementara. Kerja keras yang dilakukan untuk menegakkan dharma akan menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan tertinggi. Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam melakukan apa yang disukai, tapi dalam menyukai apa yang harus dilakukan.


© Praktik Swadharma


Dharma tidak dapat dipisahkan dari swadharma yakni kewajiban atau tugas hidup yang sesuai dengan sifat-sifat alamiah dan watak seseorang. Istilah swadharma berasal dari kata sva yang berarti tepat dan dharma yang berarti hukum atau tugas. Swadharma merupakan konsep yang merujuk pada kewajiban atau tugas yang harus dilakukan oleh individu sesuai dengan peran dan posisinya dalam masyarakat. Konsep swadharma ini sangat penting karena membantu individu untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam masyarakat. Dalam Bhagavad Gita dijelaskan arti penting menjalankan swadharma dan bagaimana hal itu dapat membantu individu mencapai tujuan spiritual. Begitu juga dalam Manusmerti dijelaskan tentang 
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh individu sesuai dengan peran dan posisinya dalam masyarakat.

Melakukan tugas, kewajiban dan tanggung jawab sendiri (swadharma) walaupun tidak sempurna lebih mulia daripada melaksanakan tugas orang lain (para dharma). Lebih mulia mati menjalankan tugas sendiri (drewya yadnya) daripada mati dalam menjalankan dan melaksanakan kewajiban orang lain (para dharma).

Menjalankan swadharma di era saat ini (Kali Yuga) berarti melaksanakan tugas dan kewajiban suci sesuai profesi, status sosial, dan ajaran agama dengan penuh tanggung jawab, ketulusan, serta integritas, tanpa terikat pada hasil (niskama karma). Ini mencakup integrasi tattwa (filosofi), susila (etika), dan acara (ritual) dalam kehidupan sehari-hari, serta mengabdikan diri pada masyarakat dan Tuhan untuk mencapai kebahagiaan.

Berikut adalah panduan praktis menjalankan swadharma saat ini:


  • Menjalankan Profesi dengan Integritas (Dharma Sevanam): Menganggap pekerjaan sebagai bentuk pelayanan (sevanam) kepada Hyang Widhi dan masyarakat, bukan sekadar beban. Ini termasuk jujur, tidak korupsi, dan bekerja keras.
  • Implementasi Catur Varna dan Catur Asrama: Melaksanakan kewajiban sesuai tahap kehidupan (siswa, berumah tangga, dll) dan kodrat diri.
  • Penerapan Tri Hita Karana: Menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan/alam (Palemahan).
  • Kesetiaan pada Hati Nurani: Menjadikan dharma sebagai kompas moral dalam mengambil keputusan dan bertindak, terutama saat menghadapi tantangan zaman.
  • Berkarya Tanpa Keinginan Berlebih: Fokus pada proses melakukan yang terbaik, bukan semata-mata pada hasil atau pujian (Niskama Karma).
  • Pelayanan Berbasis Kasih: Memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan sebagai bentuk pengabdian.

Dengan demikian swadharma dapat dipahami sebagai pengabdian diri untuk keharmonisan jagad raya dengan menyeimbangkan ajaran dharma dalam setiap tindakan.


© Praktik Dharma Negara

Dharma negara adalah kewajiban dan tanggung jawab warga negara untuk patuh dan setia kepada negara. Dharma negara juga mencakup hukum, tugas, hak, dan kewajiban warga negara. Menjalankan praktik Dharma Negara saat ini diwujudkan dengan mengintegrasikan kewajiban agama (Dharma Agama) dan kewajiban bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Ini mencakup ketaatan hukum, toleransi, menjaga persatuan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Beberapa praktik praktik Dharma Negara yang bisa dijalankan saat ini, yaitu:

  • Ketaatan Hukum dan Peraturan: Mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk peraturan di lingkungan masyarakat (adat) dan negara.
  • Mengamalkan Pancasila: Menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan perilaku sehari-hari, yang setara dengan menjalankan kewajiban agama (dharma).
  • Menjaga Persatuan dan Toleransi: Memelihara kerukunan antarumat beragama dan mencegah konflik sosial. Hal ini penting untuk menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman.
  • Swadhama (Kewajiban Diri): Melaksanakan tugas dan tanggung jawab profesi masing-masing dengan penuh integritas dan dedikasi.
  • Berkontribusi pada Pembangunan: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional, baik fisik maupun mental, guna mencapai kemakmuran bersama.
  • Bijak Menggunakan Teknologi: Memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk hal-hal positif, serta menghindari penyebaran berita bohong (hoaks) yang dapat memecah belah bangsa.

Praktik Dharma Negara adalah wujud cinta tanah air yang selaras dengan nilai-nilai spiritual.


Selanjutnya, Dharma Negara dalam bidang pendidikan bisa dimaknai tidak semata-mata memperoleh keterampilan dan keahlian sebagaimana mainstream pemikiran rasionalisme


Barat yang lebih mengarah pada material tendency forces (preyoshakti). Tetapi juga mampu menghasilkan generasi muda Hindu yang cerdas dan bijaksana yang sesuai dengan spiritual tendency forces (sreyoshakti). Untuk itu setiap umat Hindu harus ikut mengupayakan pengembangan sistem pendidikan nasional yang menyelaraskan antara penekanan logika dan rasionalitas dengan intuisi dan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, kesabaran, dan kejujuran yang akan membangun kesadaran manusianya. Dengan penerapan sistem pendidikan yang begitu generasi bangsa Indonesia tidak hanya cerdas tetapi juga bijaksana sehingga dapat terhindar dan menghindarkan diri dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme serta kemerosotan moral lainnya yang masih menggerogoti bangsa ini hingga kini.

Dharma Negara dalam penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik dilakukan


dengan penerapan prinsip etika dan moralitas. Bila berkesempatan memimpin pemerintahan seyogianya umat Hindu memiliki karakter nasional yang membawahi karakter individu (pribadi). Karakter ini meniscayakan pelepasan kepentingan pribadi, pelepasan secara total pikiran kepemilikan “punyaku” dan “punyamu”, menjadi pemimpin sejati yang berlandaskan dharma yang senantiasa mempersembahkan segala kemampuan bagi kesejahteraan bersama dan mengangkat reputasi negara.

Dharma Negara dalam kehidupan politik yakni bisa memberikan solusi yang berlandaskan dharma, pantang untuk menggunakan cara-cara kekerasan (ahimsa). Penyelesaian masalah


dengan kekerasan justru 
akan mengundang kekerasan baru. Kekerasan bukannya menyadarkan lawan politik tetapi justru menyuburkan kebencian dan rasa dendam. Sebaliknya, dengan paham pantang kekerasan setiap orang dapat mengembangkan cinta kasih dan kemampuannya sehingga dapat mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial yang menghargai heterogenitas, inklusivitas, pertukaran mutual, toleransi dan kebersamaan.

Dengan demikian Dharma Negara dengan demikian semestinya mampu mendukung tegaknya moralitas, berkembangnya kepercayaan dan kejujuran, rasa tanggung jawab dan karakter, kesadaran nasional dan patriotisme, rasa tanggung jawab sosial, etos kerja keras, ketaatan pada hukum dan menghormati sesama anak bangsa.


Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 03

  KATA PENGANTAR Om Swastyastu Jajaran Redaksi sangat berbahagia dan sekaligus mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa, karena majal...