Berdasarkan Tri Hita Karana
dan juga Tat Twan Asi
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada kesempatan Dharma Santi Nasional Saka 1948 atau 2026 Masehi, melalui video life creaming- memberikan salam dan menyapa dengan hangat dan penuh kasih saudara umat Hindu di seluruh tanah air. Atas nama pribadi dan pemerintah Republik Indonesia, Presiden Prabowo mengucapkan selamat melaksanakan Dharma Santi Nasional 2026, sembari mohon maaf karena tak dapat langsung menghadiri acara dharma shanti nasional yang berlangsung di Ardhachandra, Artcenter Denpasar, Bali Jumat 17 April 2026.
Dharma santi nasional ini diyakini merupakan moment strategis dan efektif, untuk saling memaafkan, memperkuat persaudaraan dan juga meneguhkan nilai nilai dharma berdasarkan Tri Hita Karana, yang berlandaskan Tat twan asi. Mewujudkan hidup yang seimbang sekala dan niskala, adalah hal yang mendasar, itu sejatinya merupakan kekuatan bangsa kita. Indonesia bangsa besar, yang menjunjung tinggi perbedaan, dengan mengedepankan semangat gotong royong saling mendukung dan juga saling mengasihi satu dengan lainnya. Karena itu, umat hindu diharapkan selalu harmonis ,guyub dalam persatuan, bahkan berada yang terdepan ikut bagian dalam pembangunan bangsa ini secara adil dan makmur. Diyakini, umat hindu yang selalu menjunjung falsafah Tri hita karana, selalu memberi motivasi penuh semangat, dan komitmen tinggi menjaga persatuan dan kesatuan nasional, sehingga bisa bersama sama dengan umat lainnya, membangun Indonesia , maju, adil dan makmur.
Acara Dharma Santi Nasional yang mengusung tema “Vasudaiva Kutumbukam” bumi satu, satu keluarga, nusantara harmoni, Indonesia maju, dihadiri sekitar 5,500 dari seluruh Indonesia, juga diramaikan aneka pertunjukan termasuk hiburan sendratari “Nusantara Manunggal”. Dinarasikan Sang Mahapatih Gajahmada, bukan penaklukkan melainkan berjuang untuk penjaga persatuan nasional. Gajahmada menyadari bahwa persatuan sejati bukan kekuasaan, tetapi unity berdasarkan harmoni.
Pada kesempatan itu Ketua Umum PHDI Pusat, Mayjen (Pur) Wisnu Bawa Tenaya, mengajak seluruh umat Hindu bersatu, kita ini hidup dan berada dalam satu bumi, satu langit, satu udara, mari kuatkan kesadaran, kita ini saudara , sama sama ciptaan tuhan, sebagaimana tertuang dalam mahawakya tat twan asi. Karena itu, mari kita, saling penghormati. Kita sadar dengan sradha dan bakti sebagai bagian warga negara Indonesia, dengan Pancasila dasar negara.
Tanamkan lagu Indonesia tiga stansa. Umat sedharma mari menjaga Dharma itu hingga ke liang kubur, kita selalu berupaya ekstra berbuat kebenaran. “ Sehingga negara kita bisa tata tentrem kerta raharja. Tetap, tentrem dan aman. Bukannya aman tetapi nyem nyeman,” harap mantan Danjen Kopasus itu. Ketua PHDI juga mengajak kerja keras, gotong royong, bersama sama angkut sampah, Agar bersih, eling bisama, eling sameton, puri dan pura dirawat, purana dipelajari, purihito kita hormati. Demikian juga asta bumi, asta kosala kosali dijaga, sehingga bali becik, indah. “Hormati juga Catur guru, guru swadyaya, guru rupaka, guru pengajian dan guru wisesa , selain tetap kukuh dengan Panca satya - satya hrdaya, satya wacana, satya semaya, satya mitra - berkawan, satya laksana. “Selalulah do the best, namun de bes ajum ajuman,” pungkas Mantan Pangdam IX Udayana disambut gelak tawa hadirin.
Sebelumnya, laporan dari Ketua Panitia, Marsekal Madya (Pur) I Made Susila, dharma santi nasional ini merupakan puncak dan penutup rangkaian kegiatan Nyepi Saka 1948 di tahun 2026 ini dengan seluruh kegiatan berjalan lancar dan baik. Acara ini mengangkat tema Wasudewa Kutumbakam, bumi satu, satu keluarga, nusantara harmoni, Indonesia maju, melalui semangat ini kita memperkuat persaudaraan universal, merawat bumi, meningkatkan kerukunan dan persatuan berdasarkan dharma. Karena itu, agenda ini adalah momentum refleksi mendalam, menumbuhkan sikap saling menghargai, toleransi. Dharma santi nasional, ini dihadiri sekitar 5.500 orang dari seluruh Indonesia.
Dharma wacana disampaikan Ida Pedanda Made Putra Kekeran, yang menegaskan tema “Vasudaiva Kutumbukam” bumi satu, satu keluarga, nusantara harmoni, Indonesia maju, pada Dharma Santi Nasional ini, sangat pas. Merupakan tradisi dan kebijaksanaan yang baik, kita agar senantiasa menjalin persaudaraan, mesimakrama, introspeksi dan refleksi diri. Namun, persoalan utama “main straim” adalah masih banyakya saudara kita yang melupakan, kebenaran dharma itu. Janganlah ajaran dharma yang sanatana itu justru dikesampingkan, idealnya Dharma itu tetap dikawal dengan sradha tertinggi. Umat Hindu di Bali diramaikan dengan pariwisata internasional, namun di tengah persaingan jangan harus bermusuhan.
“Dalam kitab suci, shanti maknanya kita selalu bahagia dengan menjalankan dharma dengan cinta kasih, harmonis. Dengan dharma itu kita mencapai “shanti” dengan saudara kita yang berada di bawah udara yang sama. Kita hidup sebagai keluarga yang besar. Hal itu dimunculkan pada ajaran manawadharma sastra sebelumnya pada Rg Veda.
Rg veda sangat mengedepankan kemanusian, keberadaan manusia tak ada tinggi, rendah karena itu kita diharapkan selalu guyub bersatu, sebagaimana mahawakya , tat twan asi, engkau adalah aku. Makan , ketika kita menyakiti orang lain sama saja menyakiti dirimu sendiri. Pada dasar negara Pancasila , kita punya modal terkait “Kemanusiaan yang adil dan beradab” kemanusiaan harus dijunjung sebagai persaudaraan, Kitab Saraschamuscaya, yang ditulis Bhagawan Wararuci , berpikir, berbicara, berbuat sesuai susila. Perbuatan baik itulah suatu yang “utama” dalam hidup. Maka hilangkan segala block mental. Purana Ramayana, mensitir: ye sakti sang sajana dharma raksaka, nah orang dikatakan sakti itu bila ia menjaga dharma itu. Prihantemen ye ike tutane, nah itulah yang harus diikuti. “Mari kita berorientasi kepada orang orang “sadhu” dimana dharma itu selalu diagungkan dan dimulikan.
Pada tradisi Bali, yen bene ngae baju awake sikut. Di sini ada renungan, ketika kita berbuat, mohon agar diri kita dijadikan tolok ukur. Apakah kita senang dikasari, direndahkan , hukum alam akan memberikan respon , atas agresi sesuai frekuensi yang dilakukan. Kalau menyakiti orang lain, itu sesungguhnya kamu lah orang yang sakit itu.
Kita juga perlu introspeksi dari makna Bhineka Tunggal Ika, tan ana dharma mengruwa. - berbeda beda tetap satu diada duawanya. Bahkan sesanti itu dipetik oleh Sekjen PBB, “unity the only one key to procced to future for all,- bahwa persatuan adalah salah satu kunci penting yang perlu dilanjutkan untuk semuanya”. Enyahkanlah blok mental itu, sehingga kita punya kesadaran agar Bali dijaga dalam atmosper yang tetap damai dan juga berdamai dengan Sanatana Hindu. Siapa yang melaksanakan dharma itu, maka dharma itu akan menjaga kita. Dharma Raksito raksitah. Jika kita komit menjaga dharma, maka mau tak mau, kita wajib menurunkan ego, sehingga hidup damai, selaras, harmonis. Namun sayangnya masih relatif banyak ada orang yang belum selesai dalam dirinya. Amerta muncak asura dan sura memutar, kita harus bijak, seperti digariskan dalam dharma itu sendiri, kita ini sejatinya bersaudara, kita satu, wahai brahmana, keluarkan kebijaksaanmu untuk kedamaian dunia, kesatria datanglah kepada orang ketakutan, wahai waisya, kumpulkan hartamu untuk orang orang miskin, para sudra sumbangkan dana , jasamu. Semuanya itu “Aku Palania” tuhan yang mengaturnya.
Acara yang diperkirakan dihadiri 5.500 peserta itu dihelat di Ardacandra, Art Center Denpasar Jumat 17 April 2026. Moment unity, persaudaraan harmoni itu bukan saja berlangsung hidmat juga sangat meriah. Agenda itu juga dihadiri para Petinggi Pemerintahan Pusat, seperti : Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, (Menko PMK) Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Isyana Ayu Bagus Oka, Wakil Menteri Pariwisata Luh Puspa, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha , Gubernur Bali, dan segenap pengurus Harian PHDI Pusat, Dharma Adhyaksa , beserta para Sulinggih dan Pinandita, Pengurus PHDI sebagai tuan rumah, serta wakil Ketua PHDI masing masing provinsi di tanah air. (Laporan langsung Suluh Sadhana, oleh: Sadhu Giriramananda)
Dharma Santi Nasional Saka 1948 di Ardacandra, Art Center DenpasarSuluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026





Tidak ada komentar:
Posting Komentar