Sadhu Giriramananda
“Om Shiva Hara Hara Mahadewa Om”
Kaivalya itu sejatinya merupakan konsep penting dalam filsafat Hindu, terutama terkait tradisi Yoga terutamanya Advaita Vedanta. Kata Kaivalya berasal dari kata "keval" yang berarti "satu-satunya" atau "kesendirian" hubungannya dengan “Kebebasan”. Dalam perspektif Hindu, Kaivalya merujuk pada keadaan kesadaran tertinggi, di mana sang individu (jiva) menyadari identitasnya yang sebenarnya sebagai Atman (Diri Sejati) yang kemudian dapat merealisasikan kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian (samsara ini). Kaivalya itu merupakan keadaan di mana Sang individu tersebut telah melampaui semua keterikatan dan keinginan duniawi. Ia telah mencapai kesadaran diri yang sejati. Sang Nara, telah menyadari kesatuan dengan Brahman (Realitas Tertinggi). Ia juga telah mencapai kebebasan dari semua penderitaan dan keterbatasan. Nah, dalam dimensi Yoga Sutra Patanjali, Kaivalya adalah tujuan akhir dari praktik yoga, di mana individu mencapai keadaan "kesendirian" atau "kebebasan" dari semua keterikatan dan pengaruh duniawi. Karena itu, “Kaivalya” itu merupakan keadaan kesadaran tertinggi di mana individu menyadari identitasnya yang sebenarnya, lantaran ia telah mencapai kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Dalam Iso Upanisad, ditegaskan, “Yas tu sarvaani bhuutaani aatmany evaanupasyati sarvabhuutesu caatmaanam tato na vijugupsate,” Yang dimaksudkan, Dia yang melihat semua makhluk pada dirinya sendiri dan pada dirinya sendiri semua makhluk, tidak lagi selamanya tersembunyi. Kebenaran-Nya akan dimunculkan kepadanya bila dia mengerti “Kebenaran” pada orang lain. Dan kita mengerti dalam keadaan demikian kita siap mengorbankan diri sendiri melalui cinta yang melimpah.
Juga dikatakan oleh beberapa orang unsur kepribadian sama sekali tidak diperhatikan dalam Brahmapada Upaniṣad, dan karena itu kepribadian kita, menurut mereka tidak menemukan jawaban pada kebenaran Yang Tiada Terbatas. Tetapi kemudian, apakah artinya pernyataan 'Vedaahametam Purusam Mahaantam” , maknanya, Aku telah mengenal Dia yang adalah Yang Maha Tinggi.
Bukanlah Sang Rishi suci yang menyatakan hal ini pada waktu yang sama juga memproklamirkan “Amrtasya Putraah” , putra-putra dari Yang Langgeng, atau putra keabadian. Dimana-mana ini sudah dinyatakan, “Tam vedyam purusam veda yathaa ma vo mṛtyuḥ parivyathaah,” Kenalilah Dia. Dia yang hanya perlu diketahui sehingga dengan demikian kematian tidak akan membuat kamu sedih. Artinya di sini sudah cukup jelas. Kita takut akan kematian sebab kita takut pemberhentian mutlak dari kepribadian kita. Dan karena itulah apabila kita memahami bahwa Dia adalah yang nyata yang sesungguhnya yang kita tahu berada pada apapun yang kita ketahui, kita akan menemukan kepribadian kita pada dada dari yang langgeng.
Ada beberapa mantra dalam Upaniṣad yang membicarakan tentang kelanggengan. Salah satunya “Esa devo viśvakarmā mahātmā sadā janānām hrdaye sannivistah hrdā manīṣā manasābhiklpto ya etad vidur amṛtās te bhavanti,”
Inilah Tuhan yang adalah pekerja dunia, jiwa tertinggi yang selalu bersemayam pada hati setiap orang, mereka yang mengetahuiNya melalui pikiran mereka dan hati mereka yang penuh dengan kepastian pengetahuannya akan menjadi langgeng.
Nah, memahami dengan hati dan pikiran tentang Brahman yang bersemayam dalam diri kita ini, adalah untuk memastikan kehidupan yang langgeng. Ini adalah mahātma, yang nyata yang terbesar tentang Yang Di dalam, Viśvakarmaa, pekerja semesta, yang wujudnya adalah pekerjaan yang diluar yang memenuhi waktu dan seluruh ruangan.
Lalu bagaimana deskripsi “Kaivalya” mengacu pada “Kailavya Upanisad” yang merupakan bagaian dari Atharvaveda itu ??
1. athāśvalāyano bhagavantam pramesthinam parisametyovāca. adhīhi bhagawan brahma vidyām varisthām sadā sadbhiḥ sevyamānām nigūdhām. yayācirāt sarva-pāpam vyapohya parātparam puruşam upaiti vidvān.
1. tasmai sa hovāca pitamahaś ca śraddhā-bhakti-dhyāna-yogād avehi, na karmaņā na prajayā dhanena tyāgenaike amṛtatvam ānaśuḥ.
Brahmasang pencipta, berkata kepadanya (Āśvalāyana): Carilah pengetahuan (brahman) melalui keyakinan (śraddhā), bhakti, samādhi, dan pemusatan pikiran, bukan dengan kerja, bukan dengan keturunan atau kemakmuran: hanya dengan melepaskanlah (tyaga) orang yang mencapai yang kekal.
2. pareņa nākām nihitam guhāyām bibhrājad etad yatayo viśanti.
Ini lebih tinggi dari langit, bersinar pada goa dalam jantung mereka yang mengejar cita-cita ini akan mengalaminya.
3. vedānta-vijñāna-suniścitārthāḥ samnyāsa-yogad yatayah-śuddha-sattvāh. te brahma-lokeṣu-parāntakāle parāmṛtāḥ parimucyanti sarve
Pertapa yang telah memastikan arti pengethuan Vedanta yang telah menyucikan sikapnya melalui jalan pelepasan, mereka (yang diam) di dunia, brāhmaņa, pada akhir waktu, karena persatuan dengan yang kekal, dengan sendirinya mencapai pelepasan.
4. vivikta-deśe ca sukhāsanasthaḥ śuciḥ samagrīvaśiraḥ śarīraḥ. antyāśramasthaḥ sakalendriyāni nirudhya bhaktyā svagurum pranamya,
Pada tempat yang sunyi, duduk pada posisi yang santai, dengan hati yang bersih, dengan kepala, leher yang tegak, pada tahapan terakhir dari kehidupan, pengendalian semua indriya tunduk dengan bhakti kepada guru. Pada tahapan terakhir dari kehidupan atyāśramastah adalah bacaan lainnya, "Setelah melewati semua tahapan hidup".
5. Hrt pundarīkam virajam viśuddham vicintya madhye viśadam viśokam, acintyam, avyaktam, ananta-rūpam, sivam, praśāntam, amṛtam, brahma-yonim.
Samādhi pada padma jantung, tanpa kesedihan, yang tidak bisa dipahami, yang tanpa wujud, dalam bentuk tidak yang terbatas, penuh suka cita, tenang, yang kekal, Brahma.
Brahmā pencipta, jiwa-jagat
viraja: tanpa nafsu atau sifat raja
6. tam ādīmadhyānta-vihinam ekam vibhum cid-ānandam arūpam adbhutam, umāsahāyam parameśvaram prabhum trilocanam nīlakantham praśāntam, dhyātvā munir gacchati bhūta-yonim samasta-sākşim-tamasaḥ parastāt.
Dia yang tanpa pemula, pertengahan atau akhir, yang tunggal yang ada dimana-mana, yang adalah kearifan dan suka cita, yang tanpa bentuk, mengasyikkan, yang memiliki Dewi Uma sebagai temannya, Shiva Yang Maha Kuasa, pemerintah yang bermata tiga, yang mempunyai kerongkongan berwarna nila, yang tenang : dengan samādhi di dekatnya, para rishi mencapai sumber dari semua mahluk saksi dari semuanya, yang berada di luar (semua) kegelapan.
- Yang mempunyai kerongkongan berwarna nila (biru pekat). Bhatara Śhiva dikatakan meminum racun yang muncul di atas lautan susu yang sedang diaduk dan membiarkan racun ini tetap ditenggorokannya:
7. sa brahmā sa śivah sendraḥ so' kşaraḥ paramaḥ svarāt, sa eva vişnuh sa prānaḥ sa kālo gnih sa candramah.
Dialah Brahma (pencipta): adalah Śiva (hakim), dialah Indra, dialah yang selalu ada, yang maha tinggi, pengusa dirinya sendiri. Dialah Vişņu (pemelihara), dialah yang hidup, dialah waktu dialah api, dialah bulan.
8. sa eva sarvam yad bhūtam yac ca bhavyam sanātanam, jñātvā tam mṛtyum atyeti nānyaḥ panthā vimuktaye.
Dialah semuanya, apa yang sudah dan akan terjadi. Dialah yang dikenal. Dengan mengenalnya seorang mengatasi kematian. Tidak ada jalan lain ke arah pelepasan.
9. Sarva bhūtastham ātmānam sarva-bhūtāni cātmani sampaśyan brahma paramam yāti nānyena hetuna
Dengan melihat ātman pada setiap mahluk dan semua mahluk pada ātman, seseorang menuju ke brahman dan bukan melalui jalan lain. Bukan dengan jalan lain: tidak ada jalan lain ke arah pelepasan
10. Aatmanam aranim kṛtvā pranawam cottarāraṇīm, jñāna-nirmathanābhyāsāt pāśam dahati panditah.
Dengan membuat raga sebagai pemantik api bawah dan aksara aum (omkara) sebagai pemantik api atas, dengan usaha untuk menyulut (api) pengetahuan, ia yang mengetahuinya akan membakar ikatan kebodohan.
11. sa eva māyā-parimohitātmā śarīram āsthāya karoti sarvam stry-anna-pānādi vicitra-bhogais sa eva jāgrat paritṛptim eti
Atman yang sama yang diselimuti oleh maya memperoleh raga dan melakukan segala perbuatan. Pada keadaan terjaga dia memperoleh kepuasan dengan menikmati wanita, makanan dan minuman.
12. svapne tu jīvas sukha-duḥkha bhoktā svamāyayā kalpita viśva loke, suşupti- kāle sakale vilīne tamo' bhibhūtas sukha-rūpam eti
Pada keadaan mimpi, ātman mengalami kebahagiaan atau kesedihan di dunia yang diciptakan oleh maya-nya sendiri. Pada keadaan tidur tanpa mimpi di mana semua benda menghilang dan dikalahkan oleh kegelapan, dia memperoleh kebahagiaan.
13. punaś ca janmāntara-karma-yogāt sa eva jīvaḥ svapiti prabuddhaḥ, pura-traye krīdati yaś ca jīvas tatas tu jātam sakalam vicitram, ādhāram ānandam akhanda-bodham yasmin layam yāt pura-trayam ca.
Sekali lagi dia (jiwa individu) dalam hubungan dengan perbuatan hidupnya yang terdahulu, terjaga dan dan tidur. Dia sangat senang dengan tiga tahap kesadarannya terjaga, mimpi dan tidur tanpa mimpi dan dari dia semua keaneka ragaman dunia ini lahir. Pada dia yang menjadi penompang, yang adalah kebahagiaan, yang adalah kearifan, yang tidak terbagi menyatukan ketiga kesadaran itu. Ketiga raga adalah raga kasar halus dan raga penyebab.
14. etasmāj jāyate prāņo manas sarvendriyāņi ca khaṁ vāyur jyotir apaḥ pṛthivī viśvasya dhāriņi.
Dari dia lahir kehidupan, pikiran dan semua indriya, langit, udara, sinar, air, tanah yang merupakan penopang keberadaan.
15. yatparam brahma sarvātmā viśvasyāyatanam mahat sūkṣmāt sūkṣmataram nityam tat tvam eva tvam eva tat
Dia adalah brahman yang maha tinggi, ātman semuanya pokok jagat ini, lebih halus dari yang halus, kekal. Itu adalah kamu itu adalah kamu.
16. jāgrat-svapna suşupty ādi prapañcam yat prakāśate tad brahmāham iti jñātvā sarva bandhaiḥ pramucyate
Dunia yang bersinar pada keadaan terjaga, mimpi dan tidur tanpa mimpi mengerti bahwa itu adalah brahman yang adalah aku. Seseorang terbebas dari belenggu.
17. trişu dhāmasu yad bhogyam bhoktā bhogaś ca yad bhavet tebhyo vilaksanah sākşi cinmātro ham sadā śivah
Pada ketiga tingkat kesadaran, apa yang muncul sebagai obyek kenikmatan penikmatan atau kenikmatan, Aku berbeda dengan mereka, karena aku adalah saksi, kesadaran murni, Śhiva yang kekal.
18. mayy eva sakalam jātam, mayi sarvam pratisthitam, mayi sarvam layam yāti, tad brahmädvayam asmy aham
Dari Aku-lah semuanya berlangsung, pada-Ku semuanya berada dan pada- Ku semuanya kembali. Brahman yang tidak ada duanya adalah Aku.
19. aņor aņīyān aham eva tadvan mahān aham viśvam idam vicitram. purātano'ham, puruşo'ham, īśo hiran-mayo'ham, Shiva-rūpam asmi.
Aku lebih halus dari yang halus, lebih besar yang besar Aku adalah jagat yang jamak ini. Aku adalah yang lampau. Aku adalah penguasa dari warna keemasan. Aku adalah Śhiva
20. apāņi-pādo' ham acintya-śaktiḥ paśyāmy acakşuḥ sa śrnomy akarņah, aham vijānāmi vivikta-rūpo na cāsti vettä, mama cit sadāham.
Aku adalah yang tanpa tangan dan kaki, dengan kekuatan yang tidak terkira. Aku melihat tanpa mata. Aku mendengar tanpa telinga. Aku mengetahui segalanya. Aku adalah satu bentuk. Tidak ada satupun yang mengetahui aku. Aku selalu dalam kesadaran suci.
21. vedair anekair aham eva vedyaḥ, vedānta-krd veda-vid eva cāham, na punyapāpe mama nāsti nāśaḥ, na janma dehendriya buddhir asti
Aku adalah yang satu, yang dikenal dari semua Veda. Aku adalah pencipta Vedanta dan yang mengerti tentang Veda. Nilai atau tanpa nilai Aku tidak punya (tidak mempengaruhi Aku). Tidak ada kehancuran buat-Ku. Tiada kelahiran atau raga indriya atau buddhi.
22. na bhūmir apo mama vahnir asti, na cānilo me'sti na cāmbaram ca, evam viditvā paramātma-rūpam guhāśayam nişkalam advitīyam, samasta-sāksim sad-asad-vihinam prayāti śuddhaṁ paramātma-rūpam.
Aku bukanlah tanah, udara, api, udara dan angkasa, memahami sifat dari ātman Maha Tinggi, bersemayam pada guha pada jantung, tanpa noda dan tidak ada duanya, merupakan Saksi semuanya, bebas dari kegandaan, ada dan tiada ada, dia memperoleh sifat yang paling murni dari atman Maha Tinggi.
23. yaḥ śatarudrīyam adhīte sogni-pūto bhavati, sa vāyu-pūto bhavati, sa ātma- pūto bhavati, sa surāpānāt pūto bhavati, sa brahma-hatyāyāḥ pūto bhavati, sa suvarma- steyāt pūto bhavati, sa kṛtyākṛtyāt pūto bhavati, tasmād avimuktam āśrito bhavati atyāśramī sarvadā sakṛd vā japet.
Siapa saja yang membaca satarudiya (Kaivalya Upaniṣad ini berhubungan dengannya), akan menjadi murni seperti udara, dia menjadi disucikan dari (kesalahannya) mencuri emas. Dia disucikan dari (kesalahannya) minum arak, dia disucikan dari (kesalahannya) karena bertugas atau lalai. Karena itu orang semestinya bekerja terus supaya lepas (dari kesalahan-kesalahan itu) dia yang sudah membebaskan dirinya dari tingkat kehidupan yang berbeda-beda semestinya samaadhi (atas Kaivalya Upaniṣad ini) secara tetap atau sewaktu-waktu.
24. anena jñānam āpnoti saṁsārārņava-nāśanam, tasmād evam vidittvainam kaivalyam padam aśnute kaivalyam padam aśnute.
Dia memproleh kearifan ini akan mengahancurkan lautan kelahiran dan kematian. Dengan mengerti hal ini dia memproleh keadaan kaivalya, keadaan kaivalya alias “kebebasan”
Setiap orang yang dhayana , samadhi dengan penuh rasa bakti, penuh keyakinan , akan mencapai ātman dan menjadi satu dengan brahman. Dia dibebaskan dari roda waktu dan perubahan, kelahiran dan kematian.
Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar