Sadhu Giriramananda
“Omkara Har Har Mahadewa Om”
Ajaran filsafat Siva Sidhanta tentang filosofi Brahman yakni Tuhan Yang Maha Esa, Melindungi ada tersurat pada pustaka suci Taittiriiya Upanisad 1.1.1, yang dikutip berikut ini. Mantra ini, substansinya menyatukan doa, komitmen moral, sebelum belajar.
Pada tulisan ini kita bukan saja membedah Anuvaka 1. Juga Anuvaka 8 terkait omkara dan berkah sang yogi memcapai Om atau Brahman sedangkan Anuvaka 10 yang substansinya menyatakan salah satu Mahawakya bahwa sang yogi lah yang diwakili Rishi Trisanku, bahwa dirinya adalah “Aham Brahmasmi”. Dirinya lah sudah Brahman itu. Penjelasan lebih detail sebagaimana diuraikan dibawah ini.
Mantra Anuvaka 1.1.1 adalah:
"Harih aum, śaṁ no mitraś śaṁ varuņaḥ, śaṁ no bhavaty aryamā, sam na indro bṛhaspatiḥ, śaṁ no vişnur uru-kramaḥ; namo brahmane, namas te vāyo, tvam eva pratyakşam brahmāsi, tvām eva pratyakşam brahma vadiṣyāmi, ṛtaṁ vadiṣyāmi, satyam vadiṣyāmi; śāntih,”
Rumusan mantra ini, adalah Śānti Mantra, merupakan mantra pembuka dari Taittirīya Upaniṣad, Siksaa Vallii, dari Kṛṣṇa Yajur Veda. Mantra ini juga digunakan di awal Mahanārāyaṇa Upaniṣad. Fungsinya mohon berkah dan ketenangan sebelum belajar kitab suci.
Adapun arti per kata mantra ini:
hariḥ = Tuhan yang menghilangkan dosa/kesusahan
aum = suku kata suci, simbol Brahman
śaṁ no mitraś śaṁ varuṇaḥ
śam = damai, berkah, kebaikan
naḥ = untuk kami
mitraḥ = Dewa Mitra, dewa persahabatan & siang
śam = damai
varuṇaḥ = Dewa Varuṇa, dewa air & hukum malam
śaṁ no bhavaty aryamā
śam = damai
naḥ = untuk kami
bhavati = semoga menjadi
aryamā = Dewa Aryaman, dewa norma sosial & kehormatan
śam na indro bṛhaspatiḥ
śam = damai
naḥ = untuk kami
indraḥ = Dewa Indra, raja para dewa
bṛhaspatiḥ = Dewa Bṛhaspati, guru para dewa
śaṁ no viṣṇur uru-kramaḥ
śam = damai
naḥ = untuk kami
viṣṇuḥ = Dewa Viṣṇu
uru-kramaḥ = yang langkahnya lebar, mengacu 3 langkah Viṣṇu
namo brahmaṇe
namaḥ = sembah
brahmaṇe = kepada Brahman/Tuhan
namas te vāyo
namaḥ = sembah
te = kepadamu
vāyo = wahai Vāyu, Dewa Angin
tvam eva pratyakṣam brahmāsi
tvam = engkau
eva = sesungguhnya
pratyakṣam = nyata, terlihat langsung
brahma = Brahman
asi = adalah
tvām eva pratyakṣam brahma vadiṣyāmi
tvām = engkau
eva = sesungguhnya
pratyakṣam = nyata
brahma = sebagai Brahman
vadiṣyāmi = aku akan menyebut/mengatakan
ṛtaṁ vadiṣyāmi, satyam vadiṣyāmi
ṛtam = hukum kosmis, keteraturan ilahi
vadiṣyāmi = aku akan mengatakan
satyam = kebenaran, fakta
vadiṣyāmi = aku akan mengatakan
śāntiḥ = damai
Makna keseluruhan mantra tersebut:
Hariḥ Aum. Semoga Mitra memberi kami kedamaian, Semoga Varuṇa memberi kami kedamaian. Semoga Aryaman menjadi damai bagi kami. Semoga Indra dan Bṛhaspati memberi kami kedamaian. Semoga Viṣṇu yang langkahnya agung memberi kami kedamaian.
Sembah sujud kepada Brahman. Sembah sujud kepadamu wahai Vāyu. Engkaulah sesungguhnya Brahman yang nyata terlihat. Aku menyebut Engkau sebagai Brahman yang nyata. Aku akan berkata yang benar sesuai Ṛta, hukum kosmis. Aku akan mengatakan Satya, kebenaran. Semoga kebenaran selalu melindungiku. Semoga damai, damai, damai.
Maksudnya
Mohon berkah dari lima dewa utama termasuk Brahman: Mitra, Varuṇa, Aryaman, Indra, Bṛhaspati, Viṣṇu dan juga yang tunggal Brahman. Mereka mewakili aspek alam & tatanan hidup. Menyapa Vāyu sebagai Brahman: Karena nafas/udara = prinsip hidup paling nyata. Tanpa nafas tidak ada belajar. Janji kejujuran: Ṛtaṁ vadiṣyāmi = aku bicara sesuai hukum alam. Satyam vadiṣyāmi = aku bicara sesuai fakta. Ini komitmen murid & guru untuk jujur dalam belajar-mengajar. Śāntiḥ: Diucap tiga kali untuk meredakan tiga gangguan: ādhyātmika dari diri sendiri, ādhibhautika dari makhluk lain, ādhidaivika dari alam/dewa.
Lalu apa makna filosofi Brahman yang diyakini sebagai Tuhan Yang Maha Melindungi atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Shiva yang sarwa murti atau memiliki banyak perwujudan, antara lain: a) Sang Hyang Mitra (Surya) atau matahari yang memberikan anugrah cahaya terang kehidupan namun bukan el nino atau cahaya yang membuat mertyu, b) Sang Hyang Varuna yakni Dewa Laut yang menganugerahi air kehidupan Amertha, c) Sang Hyang Visnu yakni Dewa kesuburan anugrahi langkah lebar berlaku kemakmuran, d) Sang Hyang Vayu yakni Dewa Angin yang menganugrahi nafas panjang, nafas kehidupan yang dirghayusa, sarwa murti Brahman atau Sang Hyang Shiva untuk pratyaksa sarwa janma atau melindungi semua kehidupan di jagat raya, sehingga bumi menjadi damai subur makmur tanpa kekurangan apa- apa, dan semoga sarwa nara atau manuse na corah atau semua perilaku manusia tidak curang. Ada suatu keyakinan yang kuat,
Brahman juga akan senantiasa melindungi semua kehidupan sehingga jagat ini selalu , gemah ripah loh jinawi.
Nah, pada mantra pertama puja kepada para Dewa termasuk kepada Brahman, kemudian pada mantra di bawah ini Anuvaka 8, Taittiriya Upanisad Siksaa Vallii adalah membedah keagungan Omkara, dan siapa yang mengerti dan senantiasa mengucapkan dan kontemplasi kepada Om, maka diyakini akan merealisasikan Om yang merupakan Brahman itu sendiri. Rumusan mantranya sebagai berikut:
“Aum iti brahma, aum itīdam sarvam, aum ity etad anukṛtir ha sma vā apyo śrāvayetyāśrāvayanti, aum iti sāmāni gāyanti, aum śomiti śastrāņi śaṁśanti, aum ity adhvaryuḥ, pratigaram pratigrņāti, aum iti brāhma prasauti, aum ity agnihotram anujānāti, aum iti brāhmaṇaḥ pravakşyann āha, brahmopāpna vānīti, brahmaivopāpnoti,”.
Adapun arti per katanya sebagai berikut:
aum = suku kata suci AUM
iti = demikian, inilah
brahma = Brahman, Realitas Tertinggi
aum itīdam sarvam
aum = AUM
iti = inilah
idam = ini
sarvam = segalanya, seluruh alam
aum ity etad anukṛtir ha sma vā
aum = AUM
iti = dengan
etat = ini
anukṛtiḥ = persetujuan, jawaban "ya"
ha sma vā = sesungguhnya
apyo śrāvayety āśrāvayanti
api u = bahkan juga
śrāvaya iti = "buatlah mendengar"
āśrāvayanti = mereka menyuruh mendengarkan
aum iti sāmāni gāyanti
aum = dengan AUM
iti = demikian
sāmāni = nyanyian Sāma Veda
gāyanti = mereka nyanyikan
aum śom iti śastrāṇi śaṁśanti
aum = dengan AUM
śom iti = dengan ucapan "śom"
śastrāṇi = pujian-pujian Ṛg Veda
śaṁśanti = mereka melantunkan
aum ity adhvaryuḥ pratigaram pratigṛṇāti
aum = dengan AUM
iti = demikian
adhvaryuḥ = pendeta Yajur Veda
pratigaram = jawaban ritual
pratigṛṇāti = menjawab
aum iti brāhmā prasauti
aum = dengan AUM
iti = demikian
brāhmā = pendeta Brahmā pengawas ritual
prasauti = memberi perintah/memulai
aum ity agnihotram anujānāti
aum = dengan AUM
iti = demikian
agnihotram = ritual api harian
anujānāti = mengizinkan/merestui
aum iti brāhmaṇaḥ pravakṣyan āha
aum = dengan AUM
iti = demikian
brāhmaṇaḥ = seorang brāhmaṇa
pravakṣyan = yang akan mengajarkan
āha = berkata
brahmopāpnavānīti, brahmaivopāpnoti
brahma = Brahman
upāpnavāni iti = "semoga aku mencapai"
brahma eva = Brahman itu sendiri
upāpnoti = dia mencapai
Makna keseluruhan , AUM adalah Brahman. AUM adalah semua ini. Dengan AUM lah orang menyetujui. Bahkan dengan "AUM, dengarkanlah" mereka menyuruh mendengar. Dengan AUM mereka menyanyikan Sāma. Dengan "AUM śom" mereka melantunkan Śastra. Dengan AUM sang Adhvaryu memberi jawaban ritual. Dengan AUM sang Brahmā memulai upacara. Dengan AUM ritual Agnihotra diizinkan. Dengan AUM seorang brāhmaṇa yang akan mengajar berkata "semoga aku mencapai Brahman", maka dia sungguh mencapai Brahman.
Intinya: AUM = suara persetujuan kosmis. Semua ritual Veda mulai dan disahkan dengan AUM. Siapa yang sadar dengan Om atau Omkara, maka sama dengan Brahman, dia juga akan mencapai Brahman.
Sedangkan mantra:
“Aham vṛkṣasya rerivā kīrtih prstham girer iva, ūrdhva pavitro vājinīva, svamṛtam asmi, draviņam savarcasam, sumedhā amṛtokṣitaḥ, iti triśankor vedānucanam,”
Bersumber dari: Taittirīya Upaniṣad, Śikṣā Vallī, Anuvāka 10. Triśaṅku Vedānuvacana ini merupakan deklarasi Triśaṅku setelah Ia memahami Veda. Ini merupakan pernyataan diri seorang Rishi yang telah tercerahkan
Adapun arti per kata
aham = aku
vṛkṣasya = dari pohon
rerivā = penggerak, yang mengguncang
kīrtiḥ pṛṣṭham girer iva
kīrtiḥ = kemasyhuran
pṛṣṭham = puncak
gireḥ = gunung
iva = seperti
ūrdhva pavitro vājinīva
ūrdhva = ke atas, tinggi
pavitraḥ = suci, pemurni
vājinī = matahari
iva = seperti
svamṛtam asmi
su-amṛtam = nektar sejati
asmi = aku adalah
draviṇam savarcasam
draviṇam = kekayaan
savarcasam = bercahaya, penuh energi
sumedhā amṛtokṣitaḥ
sumedhāḥ = berakal budi luhur
amṛta = keabadian
ukṣitaḥ = disiram/dibasahi
iti triśaṅkor vedānuvacanam
iti = demikianlah
triśaṅkoḥ = dari Triśaṅku
veda-anuvacanam = pernyataan setelah mempelajari Veda
Makna keseluruhan , Aku adalah penggerak pohon. Kemasyhuranku seperti puncak gunung. Aku suci menjulang seperti matahari. Aku adalah nektar sejati. Aku adalah kekayaan yang bercahaya. Aku berakal budi, tersirami keabadian. Demikianlah pernyataan Triśaṅku setelah mempelajari Veda.
Intinya: Ini ātmastuti = pujian kepada Diri Sejati. Ṛṣi Triśaṅku setelah realisasi berkata: "Aku bukan badan. Aku adalah prinsip hidup yang menggerakkan semua, setinggi gunung, sesuci matahari. Aku adalah Brahman." "Vṛkṣasya rerivā" = Aku yang menggerakkan pohon samsāra. Di Gītā 15.1 dunia disebut aśvattha vṛkṣa, pohon terbalik.
Kedua mantra di atas sangat nyambung, pada mantra omkara atau AUM atau Om adalah Brahman, dan kemudian mantra Rishi Trisanku, menegaskan "Aku adalah Brahman"



Tidak ada komentar:
Posting Komentar