Agni Yoga, Wahana Efektif Mengendalikan “Api Kesadaran Bhatin”



 Kompilasi:
Sadhu Giriramananda


Om Shiva Hara Hara Mahadewa Ya Om


“Prthvyapyatejo’nilakhe samutthite pañcātmake yoga-gune pravṛtte. na tasya rogo na jarā na mṛtyuḥ prāptasya yogāgni-mayaṁ śarīram,”

Artinya :

Ketika lima sifat dari Yoga dihasilkan, seperti keberadaan Pancamahabhuta: tanah, air , api, udara dan antariksa, maka tidak akan ada lagi penyakit, umur tua, bahkan tak ada kematian, bagi dia (seseorang praktisi meditasi) yang memperoleh raga yang lahir dari apinya yoga.

(Svestaasvatara Upanisad II.12)

Yoga adalah api ritual di mana kita mempersembahkan tubuh, kehidupan, dan pikiran kita ke dalam nyala api kesadaran yang merupakan Diri Sejati kita. Api batin ini membawa kita melewati malam gelap ketidaktahuan menuju hari pencerahan abadi. Seorang yogi agung adalah nyala api hidup yang kehadirannya sendiri memenuhi kita dengan cahaya, kehangatan, dan vitalitas.

Praktik yoga adalah tentang menciptakan api yoga, yang seharusnya menjadi fondasinya. Demikian pula, Ayurveda adalah persembahan api yang agung. Kita harus menciptakan api penyembuhan untuk membuat diri kita sehat dan untuk mempertahankan kesehatan dan vitalitas yang positif. Seorang dokter ayurveda harus memiliki kehangatan nyala api kosmik kehidupan itu.



Keberadaan api di alam semesta ini disebut agni dalam bahasa Sansekerta, yang berarti "kekuatan transformasi." Sesungguhnya itu bukan hanya api dalam pengertian unsur, tetapi semua potensi listrik, panas, dan cahaya. Api kedewataan ini adalah asal mula kehidupan, cahaya, dan kekuatan cinta jiwa yang memotivasi kita dari dalam bhatin. Jiwa itu sendiri adalah api batin kita, aspirasi spiritual yang terpendam di dalam diri kita yang menyertai kita melalui semua kelahiran kita. Ia adalah nyala api yang tak pernah padam, saksi di balik semua keadaan kesadaran kita.

Kata mahfum, sang peramal (Rishi suci) ia itu mampu selalu terjaga bahkan pada tingkat turiya. Namun hakekat keberadaan kita sejatinya juga adalah manifestasi dari api ilahi ini yang merupakan Diri dari segalanya. Hanya, tidak melakukan disiplin shadana ekstra keras, dan totalitas sebagai way of life, seperti halnya Para Rishi suci kita.


Yoga dan Ayurveda sebagai “Ritual Api”

Yoga dan Ayurveda keduanya adalah ilmu tentang agni atau api ilahi (agni vidyas).


Keduanya mengajarkan kita bagaimana api kosmik itu bekerja sehingga melaluinya, kita dapat mencapai semua keseimbangan dan pertumbuhan yang diperlukan. Api kosmik yang ada secara lahiriah di semua bidang alam semesta, skema gradasinya mulai dari materi kasar hingga keberadaan murni, itu memiliki padanannya di dalam diri kita di semua lapisan sifat individu kita, yakni dari tubuh fisik hingga kesadaran abadi kita. Ini adalah kekuatan katalitik yang diperlukan agar setiap perubahan evolusioner dapat terjadi. Ayurveda menekankan peran agni pada tingkat fisik, hal itu menunjukkan pelajaran kepada kita bagaimana usaha sistematis dan kontinyu menyeimbangkan api pencernaan kita sebagai dasar kesehatan fisik. Yoga menekankan api prana dan praktek meditasi intensif, sebagai bagian sarana pencerahan sempurna.


Ritual Api Luar

Veda mengajarkan ritual api yang rumit yang disebut yajna atau pengorbanan. Yajna mengacu pada pengalihan atau transformasi energi, perubahan substansi dari satu tingkat ke tingkat lainnya. Gagasan di balik yajna adalah bahwa apa pun yang dipersembahkan kepada Tuhan harus diubah ke tingkat manifestasi yang lebih tinggi.


Dalam skema yajna, api khusus dibuat sesuai prosedur tertentu yang lumrahnya disebut ritual Homa . Selain itu, sebuah altar atau lubang api dibangun. Kayu khusus digunakan sebagai bahan bakar dan api suci dinyalakan dengan mekanisme pengucapan mantra yang tepat, sebaiknya sumber api pertama sebaiknya dengan menggosokkan batang kayu. Di dalam api suci ini kita menempatkan berbagai persembahan, seperti samagri (beras , jijih, segala akar harum haruman hutan kapulaga, cengkeh, dll) dan juga panca amritam ghee, susu, yogurt, madu, dan gula, bahkan jus gula tebu, yang dipersembahkan kepada api suci yang kemudian diubah oleh-Nya menjadi berbagai esensi bermanfaat. Bersama dengan persembahan ini kita melafalkan berbagai doa- doa dengan mantra mantra tertentu dan khusus, untuk membawa berkah istadewata dan dewata ke dunia, berusaha memenuhi keinginan kita.

Api (Dewa Agni) adalah pembawa dan penghubung pesan antara dunia material dan dunia spiritual. Itu merupakan realitas spiritual yang lebih tinggi, antara manusia dan para dewa. Sebab, apa yang kita persembahkan melalui media api suci itu kemudian dibawa ke alam gaib (dimensi spiritual) di mana kekuatan yang lebih tinggi dapat mengenali dan bertindak atasnya, mengirimkan kembali rahmat kepada mereka. Api suci semacam itu tidak saja berfungsi memurnikan lingkungan, tak hanya pada tingkat kasar, tetapi juga pada tingkat halus. Ia juga bekerja untuk memurnikan tubuh astral mereka mereka yang melakukannya secara teratur. Ritual semacam itu diharapkan dilakukan di setiap rumah atau ashram secara konsisten.

Persembahan api suci homa dapat digunakan untuk mencapai tujuan hidup biasa seperti kesehatan, kekayaan, dan kemakmuran. Persembahan api dapat dilakukan untuk tujuan batiniah seperti menyelesaikan karma yang sulit, menenangkan pengaruh planet yang negatif, atau menguduskan berbagai praktik spiritual. Persembahan api adalah bagian dari “teknologi universal evolusi batin” Abu api suci, yang disebut bhasma, ia itu kaya mukjizat, memiliki sifat pemurnian dan penyembuhan. Terkait, kekuatan penyembuhan, terkadang ditambahkan ramuan khusus digunakan dalam pembuatannya. Bhasma semacam itu dapat digunakan untuk meningkatkan potensi obat lain atau diminum sebagai obat itu sendiri. Bhasma yang dibuat di hadapan guru spiritual agung sangat ampuh.

Waktu terpenting untuk ritual api suci adalah persembahan saat matahari terbit, siang hari, dan matahari terbenam, yang disebut homa atau agni hotra. Persembahan bulan baru dan bulan purnama juga penting dan, pada zaman Weda, berbagai persembahan musiman dan tahunan juga dilakukan. Titik transisi atau persimpangan seperti itu, yang disebut persendian atau sandhi dalam bahasa Sansekerta, adalah saat-saat di mana energi secara alami berubah dan dapat lebih mudah diolah dan diarahkan kembali.


Ritual Api Ayurveda

Dalam ritual api ayurveda, api adalah api pencernaan atau “ jatharagni”. Persembahannya adalah makanan yang kita makan. Ini disebut pranagnihotra, atau persembahan api pranik,


seperti yang diajarkan dalam Weda. Dalam hal ini, kita mempersembahkan makanan kita bukan hanya kepada jatharagni tetapi juga kepada lima prana yang bekerja bersamanya.

Sebelum makan, kita hendaknya memercikkan sedikit air murni di sekitar makanan kita untuk membersihkannya. Kita dapat melafalkan OM OM , Om sambil melakukan ini atau melafalkan seluruh mantra Gayatri. Kemudian kita hendaknya melafalkan: "Amrita Tejavate, Swaha!" dan memercikkan sedikit air. Kemudian kita hendaknya melafalkan mantra kepada lima prana, setiap kali mengambil sedikit makanan ke dalam mulut, mengingat prana dan tindakannya sebagai kekuatan kedewataan yang menopang kita.

Om Pranaya Swaha
Om Apanaya Swaha
Om Vyanaya Swaha
Om Udananya Swaha
Om Samanaya Swaha

Kemudian seseorang hendaknya menyelesaikan makan dan melafalkan: “Aham Amrityaya Swaha - "Aku adalah keabadian, Swaha!" Swaha adalah mantra untuk mempersembahkan segala persembahan kepada api suci. Dengan cara ini, makanan yang kita makan menyehatkan semua prana kita melalui perantaraan api pencernaan.


Yoga, Ritual Api Batin


Yoga adalah ritual api batin yang tidak menggunakan bahan-bahan eksternal, melainkan berbagai kemampuan alamiah kita. Dalam praktik yoga, kita mempersembahkan semua aspek keberadaan “unsur Tatwa” kita ke dalam api batin Tuhan. Ada berbagai ritual api yoga tergantung pada kemampuan mana yang kita persembahkan. Yoga menggunakan api napas dan pikiran untuk memurnikan dan mengubah kesadaran kita. Ini terjadi dengan menghubungkan diri kita dengan dewata api yaitu Tuhan atau Diri batin. Ini membutuhkan kebangkitan api jiwa kita untuk membawa kita kembali kepada Tuhan dalam wujud matahari mahasempurna atau “paramjyotir” di dalam diri. Tubuh halus kita dan sistem nadi dan chakranya seperti pohon besar yang perlu diterangi oleh api batin kundalini yang memancar dari jiwa. Sang yogi sendiri menjadi api paramjyotirlingga , yang membuka mata ketiganya dan menjadi kekuatan yang dapat diproyeksikannya ke dunia. Hanya yogi sejatilah , yang berusaha mempraktekkan secara membumi dan juga mengembangkan api yogi secara disiplin dan konsisten.


Api-api di Dunia Alam

Banyak bentuk agni yang ada di dunia alam dan mengarahkan proses evolusi. Pertama adalah api unsur yang ada di Bumi dan di bintang-bintang, yang sendiri memiliki banyak bentuk. Kemudian ada api tumbuhan yang menghasilkan kehidupan organik melalui fotosintesis. Ini memunculkan api hewan yang menumbuhkan emosi dan gairah. Api hewan semakin dalam menjadi api manusia sejati yang mendorong kebenaran dan kasih sayang. Ini menghasilkan api kedewataan yang menyalakan cinta dan pengabdian.

Kelima api kosmik ini berhubungan dengan lima kosha yang didefinisikan di bawah ini. Eksistensi yang tertinggi adalah “Api Atmik” atau api Diri yang murni. Kesadaran, yang juga merupakan api Brahma atau nyala api absolut dari eksistensi murni di luar ini.


Tujuh Agni dan Lima Kosha

Masing-masing dari lima kosha atau selubung jiwa memiliki bentuk agni yang berbeda yang bertanggung jawab atas perkembangannya. Seperti api pencernaan, agni di semua tingkatan adalah kekuatan pertumbuhan dan keseimbangan, memungkinkan nutrisi untuk diserap dan bahan limbah untuk dihilangkan.

1. Agni Selubung Makanan, Annamaya Kosha


Agni selubung makanan adalah api pencernaan (jatharagni) yang bersemayam di perut, khususnya di usus kecil tempat pencernaan utama makanan terjadi. Api pencernaan memecah makanan yang kita makan menjadi esensi dari lima unsur. Dari aksinya muncul massa makanan yang dicerna yang memberikan nutrisi ke semua jaringan melalui plasma. Melalui itu kita mencerna makanan, yang diubah menjadi jaringan tubuh.

Tindakan makan, memasukkan makanan ke dalam mulut dan perut, didominasi oleh kapha (air), yang membutuhkan pencairan makanan. Tindakan pencernaan, memecah dan menyerap makanan di usus halus adalah ranah pitta (api), yang terkait erat dengan agni. Tindakan eliminasi melalui usus besar berada di ranah vata (udara), tempat gas buang ditahan dan dilepaskan. Jadi ketiga dosha : Kapha, Pitta dan Vata, dapat diatasi melalui jatharagni.

Agni fisik terkait erat dengan ucapan, yang merupakan tindakan dominan dari mulut. Bahkan, tubuh fisik adalah tabung yang dibangun di sekitar saluran pencernaan yang lubang utamanya adalah mulut. Makan dan berbicara yang benar adalah proses komplementer dari selubung makanan. Seseorang harus memperhatikan tidak hanya apa yang masuk ke mulut tetapi juga apa yang keluar darinya.


2. Agni Selubung Prana, Pranamaya Kosha


Agni selubung prana adalah pranagni, agni prana. Ia bekerja di paru-paru dan jantung dan terhubung dengan jatharagni di pleksus surya di bawahnya, yang juga merupakan pusat prana fisik. Pranagni bertanggung jawab untuk mengubah oksigen dari udara luar menjadi kekuatan vitalitas internal. Pranagni terhubung dengan darah, berfungsi untuk mengoksigenasinya dan memberinya warna merah. Melalui pranagni kita mencerna udara atau prana, yang diubah menjadi energi. Energi napas lebih halus dan langsung daripada energi makanan.

Tindakan menghirup, seperti halnya makan, berada di bidang kapha dan tindakan menghembuskan napas, seperti pembuangan, berada di bidang vata. Pranagni diaktifkan melalui penahanan napas, yang terhubung dengan pitta. Pranagni juga terhubung dengan ucapan, khususnya ucapan yang diaktifkan oleh napas.


3. Api Pikiran Luar, Manomaya Kosha


Api pikiran luar adalah api persepsi, manasika agni. Ini memungkinkan kita untuk mencerna kesan-kesan sensorik. Di antara organ indera, api mental paling terhubung dengan mata, yang sesuai dengan api di antara indera. Di antara organ motorik, ia paling terhubung dengan ucapan pada tingkat mental—ucapan di dalam pikiran, suara batin kita. Api mental mencerna kesan dan mengubahnya menjadi lanskap batin kita, bidang imajinasi kita.


4. Api Kecerdasan, Vijnanamaya Kosha

Api kecerdasan adalah api diskriminasi (wiweka), melalui mana kita dapat membedakan kebenaran dan kepalsuan, baik dan buruk, benar dan salah. Api pikiran luar bersifat netral secara moral. Ia hanya mencerna kesan. Api kecerdasan mencerna kesan-kesan ini lebih lanjut, mengekstrak makna, kualitas, atau isinya ide yang mendasarinya. Dari situlah nilai-nilai dan kepercayaan dasar kita dibangun. Agni kecerdasan membangun tubuh dharma, bidang wawasan dan pemahaman kita.


5. Agni Kebahagiaan, Anandamaya Kosha


Agni dari selubung ini adalah api cinta, yang pada orang yang belum berkembang adalah api keinginan. Ini adalah nyala api dari keinginan, motivasi, dan aspirasi terdalam kita. Keinginan dapat diubah menjadi api cinta dan kebahagiaan ilahi. Ini bergantung pada pemberian makan api kebahagiaan kita bukan dengan kenikmatan indrawi tetapi dengan pengabdian kepada yang ilahi. Agni kebahagiaan menyerap isi perasaan dari pengalaman kita dan mengekstrak kegembiraan darinya. Inilah tubuh sukacita yang diizinkan oleh kebijaksanaan untuk tumbuh.


6. Jatidiri - Chidagni, Api Kesadaran

Kesadaran itu sendiri memiliki sifat api, cahaya, dan penerangan. Ia juga disebut api pengetahuan (Jnanaagni), tetapi dalam arti yang lebih tinggi sebagai pengetahuan spiritual atau pengetahuan Diri - api kesadaran (Chidagni) atau api kewaspadaan. Inilah api batin atau cahaya sejati dari mana semua api lainnya memperoleh cahaya dan energinya melalui refleksi. Ia adalah pengamat segala sesuatu dan seluruh alam semesta adalah tubuhnya.


7. Api Brahman atau Api Keberadaan


Api Brahman (brahmagni), yang merupakan api keberadaan, dan api kesadaran (chidagni) bukanlah hal yang berbeda, tetapi dua aspek dari realitas yang sama. Brahmagni adalah api eksistensi atau api universal. Ia berada di luar semua dualitas dan merupakan realitas yang menghancurkan diri sendiri. Semua eksistensi adalah api yang mandiri. Inilah realitas tertinggi.


Lima Agni dari Kosha dan Cabang Yoga


Ayurveda didasarkan pada pengembangan agni, terutama pada tingkat fisik, menyeimbangkan jatharagni untuk pencernaan makanan yang tepat dan pembuangan racun. Namun, Ayurveda juga berupaya meningkatkan pranagni, api vitalitas, melalui herbal, olahraga, dan terapi khusus seperti pancha karma, tindakan detoksifikasi ayurveda.

Yoga lebih berkaitan dengan pengembangan agni pada tingkat yang lebih tinggi, khususnya sebagai api kecerdasan yang terhubung dengan api ilahi atau nyala kesadaran yang merupakan Purusha. Melalui meditasi dan samadhi yoga, seseorang mengembangkan agni pada kosha yang lebih tinggi yaitu kecerdasan dan kebahagiaan. Praktik yoga dimaksudkan untuk mengembangkan api yoga agar prosesnya elevasi kesadaran bhatin berjalan. Api adalah faktor yang membawa semua pematangan dan transformasi.

Namun dalam yoga agni, kuncinya adalah pranagni. Ada hubungan khusus antara pranagni dan semua agni yang lebih dalam. Prana adalah energi utama. Pranagni adalah agni yang paling kuat. Ia dapat memurnikan tubuh halus untuk memungkinkan pengalaman batin yoga muncul. Sampai hal itu dikembangkan, aspek-aspek yoga yang lebih tinggi tidak dapat terungkap.

Praktik Raja Yoga dan delapan cabangnya dirancang untuk mengembangkan kelima agni untuk membantu pemurnian dan transformasi batin kita. Yama dan niyama, aturan dan disiplin sistem yoga, berfungsi untuk mengatur kehidupan luar kita sehingga kita dapat mempersiapkan bahan bakar kodrat kita untuk menyalakan api kedewataan. Praktiknya berfungsi untuk mematangkan karakter kita sehingga dapat menampung api batin. Kecuali bahan bakar, yaitu pikiran dan tubuh kita, dipersiapkan dengan benar, ia tidak dapat dibakar oleh kekuatan batin ini. Disiplin yoga meliputi tanpa kekerasan, kejujuran, pengendalian energi seksual, disiplin diri, studi diri, dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Fungsi ini membuat api kehidupan kita bersinar lebih terang dan mematangkan karakter kita agar praktik spiritual menjadi efektif.


Asana dan Jatharagni

Praktik asana atau postur yoga berfungsi untuk menyeimbangkan, menstabilkan, dan lebih lanjut menyalakan jatharagni atau agni fisik, untuk membantu memurnikan tubuh fisik. Ketika tubuh fisik tenang, rileks, dan seimbang, api pencernaan juga seimbang dan dimurnikan. Pelaksanaan asana yang benar menghasilkan pencernaan dan eliminasi yang baik, nafsu makan yang teratur dan sehat tetapi tidak berlebihan. Berbagai postur membantu meningkatkan api pencernaan, terutama pose duduk dan uddiyana bandha.


Pranayama dan Pranagni

Tujuan utama pranayama adalah untuk mengembangkan pranagni, api prana untuk pemurnian prana, nadi, dan tubuh halus. Pranagni berkembang terutama antara tarikan dan hembusan napas. Pranagni, perlu ditambahkan, adalah kekuatan yang berbeda dari lima prana namun terhubung dengan semuanya sebagai panas dan koneksi listriknya.

Pranayama, pernapasan dalam yang dikombinasikan dengan penahanan napas, meningkatkan pranagni. Pranagni meningkatkan panas tubuh yang menyebabkan keringat, yang membantu memurnikan nadi. Kombinasi pranayama dan mantra membantu dalam pengembangannya dan dalam pemurnian pranayama kosha.


Pratyahara dan Agni Indra (Indriya Agni)

Pratyahara secara harfiah berarti puasa dari kesan indrawi, tetapi mencakup semua metode pengendalian indra dan organ motorik, dan internalisasi perhatian. Ini berfungsi untuk meningkatkan Agni pikiran dan indra luar, melalui mana Kita dapat membersihkan pikiran dari kesan-kesan negatif.


Dharana dan Api Pikiran


Api pikiran harus menyala terus-menerus agar dapat menembus hakikat realitas. Api mental menyala terus-menerus ketika dapat secara konsisten berpegang pada objek perhatian tertentu. Inilah praktik dharana yang dengannya api perhatian dapat tumbuh dalam kilau dan kekuatan.




Dhyana dan Api Kecerdasan

Meditasi adalah cara untuk meningkatkan api kecerdasan kita. Untuk ini, pikiran kita adalah bahan bakar dan kesadaran saksi adalah apinya. Dengan tetap berada dalam keadaan pengamat, semua hal menjadi bahan bakar untuk kesadaran.




Samadhi dan Api Cinta


Samadhi atau penyerapan spiritual terjadi ketika objek kontemplasi kita sepenuhnya menyatu dengan api kontemplasi. Dalam hal ini kita harus menyatu dengan api ilahi yang menyala di dalam hati kita, yang akan membersihkan kita dari semua keinginan lahiriah kita. Kita memasuki api kebahagiaan.


Keadaan Alami Samadhi dan Api Kesadaran


Diri Ilahi selalu ada dalam keadaan samadhi atau kesatuan spiritual. Samadhi ini adalah keadaan yang konstan, tidak seperti samadhi pikiran yang terpartikularisasi dan datang serta pergi dengan berbagai tingkatan pengalaman. Diri adalah api ilahi yang memakan segalanya. Baginya, seluruh alam semesta adalah makanan. Ia dapat mengonsumsi pengalaman apa pun, baik atau buruk, benar atau salah. Inilah api keberadaan dan kesadaran di luar segala kemajemukan.


Kunci Pengembangan Tujuh Agni

1. Jatharagni - Api Pencernaan


Keseimbangan yang tepat antara makanan yang dimakan dan feses yang dikeluarkan melalui pencernaan dan penyerapan yang benar. Diet yang tepat sesuai konstitusi dengan makanan sattvic, Minyak yang tepat seperti ghee dalam makanan untuk mendukung agni. Kebiasaan makan teratur dengan variasi musiman dan tahap kehidupan. Bumbu, rempah -rempah yang tepat seperti jahe, kapulaga, kunyit, cabai rawit, dan lada hitam. Puasa untuk membangkitkan api pencernaan. Ketenangan fisik dan pelepasan ketegangan melalui asana dan latihan yang tepat juga dengan pengaturan suhu tubuh dan pengembangan ketahanan terhadap dingin dan perubahan suhu.


2. Pranagni - Api Prana


Menghirup udara berkualitas baik, kaya akan prana. Keseimbangan yang tepat antara napas yang dihirup dan napas yang dihembuskan melalui penyerapan oksigen yang tepat dan fungsi paru-paru yang tepat. Latihan pranayama secara teratur, nadi shodhana (pernapasan hidung bergantian), menekankan pernapasan hidung kanan, bentuk pranayama yang menghangatkan seperti bhastrika dan pernapasan ujjayi. Pengendalian organ motorik, menghindari aktivitas berlebihan, khususnya pengendalian organ bicara dan seksual. Menyeimbangkan agni mental:

Keseimbangan yang tepat antara kesan yang diterima dan ekspresi yang dikeluarkan melalui penyerapan yang tepat.


3. Bauddhika Agni - Agni Kecerdasan


Menyeimbangkan agni kecerdasan: penilaian dan penalaran yang seimbang melalui kemampuan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Mempelajari ajaran dan filsafat spiritual. Membudayakan nilai-nilai dan penilaian yang benar. Mengembangkan kemampuan membedakan antara yang kekal dan yang sementara. Ketenangan batin dan penilaian yang seimbang. Kontemplasi dan meditasi.


4. Anandagni - Agni Kebahagiaan

Menyeimbangkan Agni pengalaman: cinta, pengabdian, dan kasih sayang. Pergaulan yang benar dan hubungan yang tepat. Penyembahan kepada Tuhan, Bapa/Ibu dan Pencipta segala sesuatu. Menghormati guru, pengajar, dan orang tua. Kesendirian (berpuasa dari hubungan). Mengingat dengan teguh jati diri sejati. Samadhi dan penyatuan dengan ilahi.



5. Chidagni - Api Kesadaran

Mempersembahkan semua pengalaman dalam api kesadaran. Pengamatan, kesaksian, keheningan pikiran. Mempertahankan kesadaran akan Diri yang abadi dan tak berubah di dalam hati. Keberadaan diri dan realisasi diri.






6. Brahmagni Api Ilahi


Melihat kesatuan Wujud dalam segala hal. Mempersembahkan segala sesuatu kepada Yang Esa. Penyerahan kehidupan secara penuh kepada “Yang Mutlak”.


Suluh Sadhana Edisi 3 ,Januari-Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 03

  KATA PENGANTAR Om Swastyastu Jajaran Redaksi sangat berbahagia dan sekaligus mengucapkan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa, karena majal...