Ternyata “Lontar Tattwa Kala” Tambah Dua YadnyaLagi “Shiva Yadnya” dan Aswameda Yadnya”

 Aplikasi “Ashvamedha Yadnya” di Kehidupan Sosial Modern Zaman Now di India

Om shiva om,

Tulisan singkat ini dikutip dari “Lontar Tattwa Kala”, oleh Sadhu Giriramananda

Lontar Tattwa Kala, substansinya mendeskripsikan jawaban Bethara Shiva kepada anaknya Hyang Kala, terkait makanan yang layak disantap dan penjelasan mekanisme sapta yadnya. Untuk makanan Hyang Kala diperkenankan menyantap: Seseorang yang tidur saat sandyakala sore hari,membaca kakawin, tutur yang utama, di tengah jalan, di samping itu anak kecil yang ditakuti ayah ibunya saat menangis di malam hari dengan kata kata “nah amah ne amah” , selain itu ada orang menggelar rapat perkumpulannya di jalan, semua itu dikategorikan bisa disantap Hyang Kala. Namun sebaliknya kepada yang berperilaku luhur dan mulia, kata Bethara Shiva, jika ada orang yang mengetahui dan melakukan “Pemujaan” kepada Mu, hei Khala, maka patut kamu berikan anugerah. Segala permintaan mereka itu patut diberikan bersama semua rakyat. Sebab, yang mengetahui pemujaan kepada Mu itu lah saudaramu yang sesungguhnya, ia lah yang disebut manusia yang sejati. Ciri Manusia Jati, sejati itu, dapat berbaur harmonis dengan : Bhuta, Kala, Durga. Dan Bhuta , Kala, Durga juga dapat berbaur dengan Dewa , Bethara, Hyang, karena esensinya “Semua adalah Satu”. Maka kerap di Bali eksistensi manusia itu disebut, Butha Ye, Kala Ye, Dewa Ye. Ia adalah manusia, ia adalah Dewa, ia Adalah Bhuta. Bhuta adalah ia, Dewa adalah Ia dan Manusia adalah ia.

Nah .. apabila ada Raja, memohon belas kasihan dewata, memohon keselamatan negara dengan seluruh rakyat yang ada di wilayah kerajaanya, maka agar segeralah ia “menebus jiwa” pada Mu dan semua dewata dengan upacara sesajen. Karena itu, orang harus mengetahui rincian tentang yajnya yakni: Manusia Yadnya, Bhuta Yadnya, Pitra Yadnya, Resi Yadnya, Dewa Yadnya, ternyata ada dua lagi di luar Panca Yadnya , skema yadnya yang lumrah di Bali, yakni Shiva Yadnya dan Aswameda Yadnya. Itu lah tujuh yadnya namanya, yang diyakini dapat mengantarkan pada kesentosaan badan, seluruh bumi , sampai ke sorga, karena itu dapat mengantarkan kepada kesejahteraan dunia, alam semesta. Bethara Kala pun berterimakasih kepada ayahanda nya, Shiva.


Sabda Bethara Shiva lagi, “janganlah engkau ragu putraku, Aku jelaskan apa itu Yadnya. “Yadnya adalah sebagai penebusan hukuman kepada Tuhan dari orang orang yang berdosa, sebagai pemberian kesucian jiwa pada kehidupan masing masing,”

Karena itu orang harus mengetahui rincian tentang yajnya, yakni: Manusa Yajnya, Bhuta Yajnya, Resi Yajnya, Dewa Yajnya, Pitra Yajnya, Siwa Yajnya, Aswameda Yajnya. Itulah tujuh yajnya namanya, yang dapat mengantarkan pada kesentosaan badan dan seluruh bhumi sampai ke sorga, oleh karena dapat mengantarkan pada kesejahtraan dunia.

Jika itu telah dilaksanakan, maka engkau putraku dan seluruh rakyat kalamu kembali dalam wujudmu yang “lemah lembut”, lenyapnya segala keangkaraanmu. Engkau akan menerima ruwatan dari pendeta Siwa-Budha, sehingga dapat menghilangkan kebencian yang melekat pada badanmu. Yang menyebabkan engkau menjadi dewa dan dewi. Engkau akan dapat bersama- sama ayah-ibumu menikmati kenikmatan alam sorga.

Manusa Yajnya bermanfaat untuk menjadikan kokohnya negara dan kekalnya sang pemimpin yang menguasai negara. Tatacara yajnya adalah dengan membagi-bagikan dana, kesenangan, segala yang mulia seperti isi kerajaan, disertai persembahan hidangan dan umbi-umbian dan buah-buahan. Nah berpihak sebagai Saksi Sang Hyang Siwaditya, yang dipuja oleh sang pendeta yang mempunyai pengetahuan sempurna, seorang raja dapat melaksanakannya / menyelenggarakan yajnya seperti itu.

Adapun Bhuta Yajnya itu adalah tawur. Beragam bentuk yadnya, kendati , besar atau kecil tawur ( kanista, madnya, utama) bentuknya itu juga bhuta yajnya namanya. Itu menjadi santapanmu bersama semua rakyat/ anak buah kalamu semua. Penyelenggaraan Tawur itu sebagai korbannya untuk pembebaskan hukuman orang yang berdosa ataupun (orang yang memperoleh) pertanda buruk, mala petaka, dan isyarat yang kurang baik, (tawur) itu dapat menghilangkan hukuman yang besar dan kecil, karena itu patut diikuti.

Adapun perinciannya masing-masing adalah demikian. Kalau Panca Sata sebagai bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya selama satu tumpek (35 hari). Kalau Panca Klud sebagai tawurnya enam bulan (kekuatan) perlindungannya. Kalau Resi Gana Alit sebagai tawurnya enam bulan (kekuatan) perlindungannya. Kalau Resi Gana Agung bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya enam tahun. Kalau Panca Sanak Alit bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya setahun tiga bulan. Kalau Panca Sanak Agung bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya lima tahun lima bulan. Kalau Tawur Agung bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya sembilan tahun. Kalau Tawur Gentuh bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya sepuluh tahun. Kalau Panca Wali Krama bentuk tawurnya


(kekuatan) perlindungannya dua belas tahun enam bulan. Kalau Amalik Sumpah bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya delapan tahun (8 tahun). Kalau Ekadasa Rudra bentuk tawurnya (kekuatan) perlindungannya sebelas tahun enam bulan (12 th 6 bulan). Kalau Eka Dasa Rudra (100 tahun) sedangkan, Arebhu Bhumi bentuk tawurnya (kekuatannya) dapat melindungi seumur manusia.

Maka, ketahuilah kekuatan perlindungan masing masing tawur itu.

Apa itu Resi Yajnya, Resi Yadnya adalah mempersembahkan makanan kepada para maharesi yang disertai dengan kain dan kampuh, mas, perak, permata mulia. Walau besar atau kecil punia (pemberian) itu, Resi Yajnya juga namanya, cara mempersembahkan dengan pikiran suci dan tidak ada rasa terikat akan milik itu. Karena, Resi Yajnya itu akan melenyapkan segala dosa dan kemalangan orang yang beryajnya sampai dengan lima bentuk kesengsaraan leluhurnya. Semua itu disucikan oleh Para Resi seluruhnya. Demikianlah pahalanya.

Adapun Pitra Yajnya adalah persembahan sesajen (saji) kepada Sang Dewa Pitara (leluhur). Lebih-lebih menyelenggarakan Sawa Prateka, menebus atma orang yang meninggal pada Sang Hyang Yama Dipati dan pada kelompok Kingkara Bhuta, yang menghukum atma dengan lima bentuk penyengsaraan. Demikian upacara terhadap jenazah, memberikan sang Dewa Pitara (leluhur) untuk menikmati sorga, akibat masih ada dosanya pada waktu masih hidup di dunia, karena itu menerima penderitaan di neraka dihukum oleh Sang Hyang Yama Dipati, dihukum oleh para Kingkara Bhuta. Itu yang menyebabkan patut ditebus dengan suatu upacara sesuai tatacara memuja Pitra (roh leluhur) dengan Pitra Yajnya sebagai sarana agar sang atma dapat kembali ke alam sorga.

Dewa Yajnya yaitu memberikan persembahan kepada Dewa pada hari yang baik dengan mendirikan sanggar parhyangan sebagai tempat pemujaan, membuat patung perwujudan dewa dan leluhur yang telah "didewatakan", membuat inimyan-imyan untuk disembah dan sebagai pesembahan kepada Tuhan. Dengan pikiran yang suci dibuatlah pancagra untuk keperluan bersama dan peletan (tempat peristirahatan ?). Itulah Dewa Yajnya sebagai penghapus papa penderitaan, baik yang dibawa sejak lahir maupun kemalangannya semasa hidup di dunia ini.

Bagaimanapun besar-kecil itu, Dewa Yajnya juga namanya, yang menyebabkan langgengnya (kekalnya) Sang Hyang Atma, dan juga untuk menenangkan seluruh alam semesta, karena langgengnya yoga para dewata menyebabkan bertambahnya kebaikan dunia ini. Demikian, ingatkanlah.

Adapun Shiva Yajnya itu ditujukan untuk Sang Hyang Shivapati, upacara ini dilaksanakan oleh orang yang setia kepada Shiva, sebagai guru atau Bethara guru.  Pelaksanaan  Shiva  Yadnya   itu  akan  menghilangkan  papa  dan penderitaan, serta menyebabkan leburnya rasa sad ripu dalam diri. Bagaimanakan wujud bhaktinya kehadapan Bethara guru itulah merupakan keberhasilan persembahannya itu? Dalam aplikasinya juga, ketika sang guru masih hidup dipersembahkan makanan berupa umbi-umbian, buah-buahan serta segala sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada guru yang disertai pikiran suci, setia dalam tindakan, berbudi luhur. Pada waktu kematian sang guru, ia bisa melaksanakan upacara penyucian dan mengantarkan atma sang guru ke alam kelepasan dengan menyelenggarakan seluruh upakara Pitra Yajnya. Sehingga atma sang guru dapat kembali ke alam sorga bersatu dengan para dewata. Itu semua akibat bhaktinya seorang siswa. Demikian, ingatlah.

Maka ketahui pulalah maafaat dari Aswameda Yajnya, ketahuilah olehmu anakku, Aswameda adalah yajnya untuk membebaskan seisi dunia, menghilangkan segala kekotoran di dunia, terutama segala dosa, segala yang menyeramkan, segala yang gaib, segala yang buas, segala penyakit tanaman, karena semuanya dapat tersucikan oleh yajnya Aswameda itu, apakah itu binatang, mahluk hidup, manusia, sampai pada detya, danawa, raksasa, bhuta, kala, dewa, dan bhatara. Itu semua akan tersucikan dengan dibuatkan "homa", sebagai stana Sang Hyang Agni yang menyala, membakar seluruh kekotoran di dunia. Demikianlah yang dilaksanakan oleh orang-orang yang bijaksana pada masa pemerintahan Aswayambhuwa Manu dalam upaya mengharapkan kokohnya dunia. Demikian juga tatacara yang harus dilaksanakan bila ada negara kerajaan yang tidak ada pemimpinnya atau meninggal, meskipun meninggalnya karena kena kutukan, sial,tanda-tanda buruk, beliau sang yajamana mengetahui hal itu, karena raja akan binasa oleh musuh, maka itu patutlah Bhatari Umapati dipuja dengan menyelenggarakan 'Homa Aswameda Yajnya serta pemujaan Sang Hyang Saraswati. Dalam lontar Tattwa Kala ini tidak dijelaskan secara rinci, bagaimana prosedur Aswameda Yadnya ini.

Pastinya pelaksanaan Aswameda Yadnya lah, yang dapat memulihkan kebaikan dunia termasuk juga sorga dan tempat suci kalau mengalami bencana. Demikianlah tata caranya, terkait sang Yajamana itu juga disebut asal dan kembalinya seluruh dunia. Beliau juga diyakini merupakan perwujudan Sang Hyang Catur Weda. Catur Weda itu sebagai lambang dunia yang disebut Sang Hyang Jagat Kantar, beliau adalah sumber segalanya, beliau tujuan saat lenyap, beliau juga asal kelahiran, beliau bersifat besar dan kecil, beliau ada dan tiada, beliau adalah penyatuan dunia. Karena itu semua pekerjaan tidak akan berhasil apabila tidak bersaranakan Sang Hyang Catur Weda, karena beliau adalah simbol kesuksesan kerja, yadnya itu. Engkau anakku, sekarang kuberitahukan kamu dan tujuan kelahiranmu telah Aku sucikan, maka setelah disucikan engkau tidak lagi bernama Bhatara Kala, melainkan Sang Hyang Bhuta Raja namamu. Janganlah engkau tidak mengindahkan akan semua tujuan yajnya yang dilaksanakan oleh


manusia di dunia ini. Ditegaskan juga, jangan mempermasalahkan Yajnya itu dilaksankan skala besar atau kecil, namun pastinya yadnya itu tidak akan berhasil bila tidak disaksikan Sang Hyang Wedha Carana. Sebab, Sang Hyang Weda Carana adalah wujud dari yajnya, bersama dengan Sang Hyang Shiva Aditya. Itulah sebabnya didirikannya sanggar tutuan apabila menghelat yajnya dalam tingkatan kecil, sedangkan sanggar surya sewana Siwa Aditya didirikan pada tingkat menengah, serta sanggar tawang rong tiga, apabila yajnya dalam tingkatan utama. Itulah bila yajnya dalam tingkatannya.

Adapun sesajen atau upakara yang patut dinaikan pada sanggar tutuan, hanya ardhanareswari terdiri atas suci 2, siwa bahu, cucuk bahu, dewa-dewi, tidak menggunakan banten sor, hanya menggunakan guru bungkulan, daksina rongan. Agar tidak terlalu panjang tulisannya, maka ampure tak dilengkapi di sini apa saja upakara yang dibuat untuk Sanggar Surya Sevana dan Sanggar Rong Tiga.

Bagaimana diaplikasikan di Kehidupan Modern di India Ashvamedha Yajnya:

“Ritual Kedaulatan Weda Kuno

“Tak Lagi Dilakukan Dalam Bentuk Aslinya, Makna Simbolis Terus Berlanjut Dalam Tradisi Hindu”

“Yadnya Bergaya Aswamedha, Promosikan Perdamaian, Kemakmuran dan Dharma”

“Diperagakan Kembali   Sebagai  Peristiwa Simbolis,  Yang Menekankan Pembaruan Spiritual & Persatuan Nasional”

 

Pendahuluan tentang Ashvamedha Yagya

Ashvamedha Yagya adalah salah satu ritual paling penting dan agung dalam tradisi Weda kuno. Berakar pada teks-teks suci Hinduisme, yajna (ritual pengorbanan) ini melambangkan kedaulatan mutlak seorang raja atas wilayah kekuasaannya. Ritual tersebut, yang disebutkan secara menonjol dalam Rigveda, Yajurveda, dan Mahabharata, dilakukan oleh para raja yang mencari berkah ilahi (devata) untuk perluasan wilayah, kemakmuran, dan kekuasaan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

 

Pentingnya Sejarah dan Mitologi

Asal-usul dalam Sastra Weda


Ashvamedha Yagya pertama kali disebutkan dalam Rigveda, yang menggambarkannya sebagai acara seremonial yang dilakukan untuk menegaskan supremasi seorang penguasa. Ritual tersebut merupakan bagian integral dari tata negara di India kuno dan dilakukan oleh kaisar- kaisar besar seperti Dewa Rama, Kaisar Yudhishthira, dan Pushyamitra Shunga. Yajna tidak hanya memiliki implikasi politis tetapi juga mengandung makna spiritual mendalam, karena diyakini akan memberikan kekuatan besar kepada penguasa yang melaksanakannya dengan sukses.

 

Keterkaitan dengan Epos Hindu

Dalam Ramayana, Dewa Rama melaksanakan Yajna Ashvamedha untuk menegaskan kekuasaannya atas wilayah tersebut setelah kemenangannya atas Rahwana. Demikian pula, dalam Mahabharata, Yudhishthira, Pandawa tertua, melaksanakan yajna untuk mengonsolidasikan kekuasaannya setelah perang Kurukshetra. Epos-epos ini menggambarkan betapa pentingnya ritual tersebut dalam memastikan legitimasi ilahi (devata) dan prestise kerajaan.

 

Proses Ritual Yajna Ashvamedha

 

Pemilihan Kuda Suci

Upacara dimulai dengan pemilihan kuda yang murni, tak bercacat, dan kuat, sering kali berwarna putih atau emas. Kuda tersebut kemudian disucikan melalui mantra-mantra Weda dan dihiasi dengan lambang kerajaan sebelum dilepaskan untuk berkeliaran bebas selama satu tahun.

 

Perjalanan Kuda

Saat kuda tersebut mengembara melalui berbagai wilayah, ia diikuti oleh rombongan prajurit dan bangsawan. Jika ada penguasa yang keberatan dengan perjalanan kuda tersebut melalui wilayah kekuasaan mereka, maka akan diselesaikan dengan pertempuran. Kemenangan menegaskan supremasi pelaku yajna, sementara kekalahan menyebabkan hilangnya kedaulatan mereka.

 

Kepulangan dan Upacara Pengorbanan Utama

Setelah kuda berhasil melintasi wilayah tanpa perlawanan atau kemenangan, kuda  dibawa  kembali  ke  kerajaan,  tempat  ritual  pengorbanan  besar


dilakukan. Yajna melibatkan persembahan yang rumit, pembacaan himne suci, dan persembahan kepada Agni (dewa api). Rajguru (pendeta kerajaan) memimpin ritual, yang berlangsung selama berhari-hari dan melibatkan partisipasi orang bijak, cendekiawan, dan warga negara.

 

Puncak dan Hadiah

Pada puncak yajna, kuda dikorbankan secara ritual dalam tindakan yang sangat simbolis yang mewakili dedikasi tertinggi penguasa terhadap dharma (kebenaran) dan kesejahteraan rakyatnya. Raja yang melakukan yajna kemudian diproklamasikan sebagai Chakravarti (raja universal), mengamankan tempatnya sebagai penguasa yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

 

Penafsiran Filosofis dan Spiritual

Meskipun Yagya Ashvamedha merupakan pertunjukan kekuatan, ia juga memiliki dimensi filosofis dan spiritual yang mendalam. Menurut kitab suci Hindu, yajna bukan hanya sarana penaklukan, tetapi juga cara untuk menegakkan tatanan kosmik (Rta) dan memastikan kesejahteraan universal. Kuda melambangkan energi universal, dan gerakannya yang tak terkendali menandakan komitmen penguasa terhadap pemerintahan yang benar.

 

Simbolisme dalam Pemikiran Hindu

Kuda: Melambangkan kekuatan, kebebasan, dan kehendak ilahi. Pengorbanan: Menunjukkan pelepasan ego dan keterikatan.

Api (Agni): Melambangkan pemurnian dan transformasi.

Yajna Mandap (Arena Suci): Melambangkan kosmos, tempat semua elemen bersatu dalam harmoni.

 

Ashvamedha Yagya dalam Konteks Modern

Meskipun praktik Ashvamedha Yagya yang sebenarnya tidak lagi dilakukan dalam bentuk aslinya, makna simbolisnya terus berlanjut dalam tradisi Hindu modern. Beberapa ritual yang terinspirasi oleh Ashvamedha dilakukan dengan persembahan simbolis daripada pengorbanan hewan yang sebenarnya, yang sejalan dengan nilai-nilai spiritual kontemporer.

 

Kebangkitan dalam Praktik Budaya dan Keagamaan


Di berbagai bagian India, Ashvamedha Yagya terkadang diperagakan kembali sebagai peristiwa simbolis, yang menekankan pembaruan spiritual dan persatuan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi Hindu terkemuka telah menyelenggarakan yajna bergaya Ashvamedha sebagai pertemuan keagamaan berskala besar yang mempromosikan perdamaian, kemakmuran, dan dharma.

 

Kesimpulan

Yajna Ashvamedha merupakan salah satu ritual paling rumit dan mendalam dalam tradisi Hindu, yang mencerminkan hubungan rumit antara spiritualitas, politik, dan tatanan kosmik. Berakar pada kebijaksanaan Weda, yajna lebih dari sekadar pertunjukan kekuasaan; yajna merupakan sarana untuk melegitimasi pemerintahan, memastikan berkah ilahi, dan menegakkan dharma. Meskipun praktiknya telah berkembang, warisannya terus menginspirasi mereka yang mencari kebijaksanaan dari tradisi kuno.

Inggih kirang langkung aksamaang lan druwenang sareng para wikan lan prajnan sami, kutipan Lontar Tattwa Kala yang disadur Sadhu Giriramananda, dan juga ada tambahan tulisan aplikasi ashvamedha yadnya dalam kehidupan modern di India. om tat sat om kham brahma omkara om,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...