Sucikan Tiga Penutup Atma Melalui “Sabun” Penyesalan Tulus, “Air” Pelepasan Trimala dengan Karma, Bhakti dan Jnana

 



Manfaat Praktik Puasa yang Konsisten Sehatkan Tubuh, Kuatkan Prana dan Sucikan Jiwa

Sebagian besar manusia ketika ditanya, “siapakah dirimu?" Yakin , setiap orang akan menjawab dengan cepat nama yang diberikan orang tua biologisnya. Itu wajar dan memang sudah seperti itu berlangsung bertahun- tahun  sebagaimana  mekanisme  “auto”.  Jadi,  kita  sama  sekali   tidak




menyebutkan nama yang terkait dengan “keberadaan sejati” dalam kehidupan demi kehidupan, yang tetap ada meski melewati banyak reinkarnasi berproses kematian dan kelahiran.

Sesungguhnya Atma lah merupakan nama dari dirimu yang sejati! Nama Atma yang sejati identitasmu itu sangat sering engkau lupakan. Kenapa? Karena Atma itu ditutupi oleh tiga selubung yakni : Mala, Vikshepa dan Avarana. Mala itu merupakan noda dari kejahatan, keburukan dan juga nafsu! Vikshepa adalah selubung dari ketidaktahuan yang menutupi kebenaran dan membuat ketidakbenaran menjadi menarik dan bermanfaat.

Sedangkan, Avarana menutupi keabadian yang bersifat sementara, menutupi yang bersifat Universal dengan batasan individual. Lalu sekarang bagaimana manusia bisa membersihkan dan menghapus tiga lapisan selubung kotoran ini? Pastinya dengan menggunakan sabun dan air.

Sabun berupa penyesalan yang tulus dan air berupa tindakan sadar akan pelenyapan semua noda dari mala itu. Pikiran bimbang dan gelisah yang menyebabkan pencarian liar pada kesenangan dari objek-objek indria serta hal-hal yang tampak di luar diri akan diubah melalui upasana (shadana intensif, dwaita dan advaitha, yang merupakan pemujaan yang tekun).

Selubung Avarana dapat disingkap dengan mendapatkan jnana yang mengungkapkan identitas hakikat Atma dalam diri manusia, kesatuan Atma dalam seluruh ciptaan. Jadi Mala dihapus dengan perbuatan (karma), vikshepa dengan pengabdian (bhakti), dan avarana dengan pengetahuan suci (jnana). Itulah mengapa para guru suci atau MahaRishi menetapkan tiga jalan utama bagi para pencari spiritual, terkait pembersihan (purifikasi) tiga penutup Atma. (Wacana Sadguru, diedit & disadur, Sadhugiriramananda)

Puasa bagi penganut Hindu memegang peranan esensial, karena bukan saja dianggap memiliki manfaat fisik, mental, prana termasuk spiritual yakni penyucian jiwa. Sesungguhnya buanyak ada jenis puasa yang populer kita


ketahui seperti, puasa Senin dan Kamis, Puasa Hari Kelahiran, Weton, Puasa Ekadasi, Puasa Shivaratri, Puasa Nyepi, Puasa tiga hari, seminggu, 11 hari hingga 42 hari, bahkan yang menjadi trend saat ini adalah intermetten fasting, puasa intermentten dengan durasi 18 jam jendela puasa dan 6 jam jendela makan, dan yang lainnya.

Puasa, mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah tidak makan dan tidak minum pada siang hari dengan niat atau tujuan tertentu.

Sedangkan dalam Kamus Bahasa Bali, puasa berarti “mekenta, brata, dan juga sebagai brata dan tapa,”.

Sesungguhnya kata puasa itu berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari kata “upa” dan “wasa”. Upa artinya dekat atau mendekat, dan wasa mengandung makna Tuhan Yang Maha Kuasa/ Hyang Widhi Wasa.

Jadi substansinya, puasa merupakan usaha mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan memuja keagungan- Nya melalui tindakan suci, tidak makan dan tidak minum selama 24 jam. Karena itu, puasa tidak hanya sebagai ikthiar mengendalikan Panca Indera, juga mengendalikan hawa nafsu, sehingga diharapkan pikiran liar dan banyak keinginan duniawi yang muncul, bisa terkontrol dengan baik, dan pada akhirnya target puasa itu adalah merealisasikan tujuan hidup tertinggi dalam agama Hindu yakni Atmanan Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma - terealisasi kesadaran Atma mencapai kesejahteran dan juga mukti atau moksah setelah berakhirnya proses kehidupan di jagat raya ini. Secara general, praktek puasa yang konsisten itu dipercaya dapat menyehatkan tubuh, menguatkan prana dan menyucikan jiwa.


Puasa Ekadashi

Puasa Ekadashi yang lengkap berlangsung selama tiga hari, mulai dari hari Dasami (hari ke-10), hingga hari Ekadashi (hari ke-11) dan berakhir pada Dwadashi (hari ke-12). Selama puasa Ekadashi, umat Hindu tidak makan makanan yang terbuat dari biji-bijian, telur, sayuran, ikan, daging binatang, roti, atau nasi.

Puasa Ekadashi diyakini mendorong detoksifikasi, memperbaiki pencernaan, dan meningkatkan kejernihan mental. Puasa juga membantu mengelola berat badan. Ini adalah waktu untuk refleksi spiritual dan pengendalian diri

Bagi umat Hindu yang merayakan Papankosh Ekadashi, ditandai puasa sepanjang hari sebelum matahari terbenam. Mereka percaya puasa itu , sebagai upaya penebusan dosa, menghapus kebodohan dalam diri manusia serta mengubah nasib kehidupan.

Papankosh Ekadashi diyakini memiliki begitu banyak kekuatan, sebab dipercaya  menghapus   semua  dosa  pemuja.  Menjalankan  puasa  dan


pengabdian kepada Dewa Wisnu pada hari ini dianggap setara dengan pergi berziarah atau tirtayatra.

Puasa Ekadashi ini didedikasikan kepada Dewa Padmanabha, reinkarnasi dari Dewa Wisnu. Puasa ini dianggap sangat keramat dan menguntungkan. Hari besar ini terjadi pada hari ke-11 setelah bulan purnama.

Selain puasa, beberapa umat juga melaksanakan sumpah hening (mauna vrata). Mekanisme mauna vrata itu seorang yang melaksanakan brata ini tidak boleh berbohong atau melakukan tindakan berdosa apa pun saat menjalankan ritual itu. Dia harus terjaga sepanjang siang dan malam dan juga mendedikasikan dirinya dalam meditasi dan pengucapan mantra Dewa Wisnu. Beberapa juga menganggap membaca Wisnu Sahasranam - 1000 nama Wisnu- sebagai hal yang menyenangkan di hari ini. Sebelum berbuka puasa diharapkan menyumbangkan makanan atau uang kepada para Brahmana.

Jika tidak menjalankan puasa, mereka dapat menyumbangkan makanan dan barang-barang lainnya kepada para Brahmana. Tindakan itu mendapat pahala yang sama.

Beberapa bahkan melakukan Brahman Bhoj - yakni memberikan makan sejumlah Brahmana untuk mencari berkah mereka.

 

Puasa Shivaratri

Puasa Shivaratri bisa dilakukan minimal selama 24 jam atau lebih, yaitu tidak makan dan minum, dan juga tidak tidur (jagra). Ada beberapa tingkatan pelaksanaan, termasuk puasa 36 jam bagi yang mampu. Perayaan puasa Shivaratri juga meliputi kegiatan lain seperti monabrata (tidak berbicara)

Para pemuja Dewa Shiva berpuasa pada siang dan malam saat Shivaratri untuk menunjukkan pengabdian, cinta, dan rasa hormat kepada Dewa Shiva. Sebagian melakukan Nirjala vrata, yaitu tidak makan atau minum apa pun selama lebih dari 24 jam, dan berbuka puasa hanya setelah matahari terbit keesokan harinya.

Diyakini puasa Shivaratri ini lebih dari sekadar detoksifikasi bagi sistem tubuh. Saat berpuasa, tubuh dan proses pencernaan akan beristirahat, pikiran memiliki berpeluang lebih baik terhubung dengan energi di sekitar. Sedangkan di malam hari, sebagian pemuja, yogi, siddha diamanatkan melakukan meditasi hening, dan juga melantunkan mantra om Na Ma Si Va Ya untuk menjaga pikiran agar selaras dengan energi Dewa Shiva. Meskipun mantra itu paling umum dan mudah diucapkan, namun dipercaya mantra panca aksara itu sangat sakral dan penuh energi, karena bisa terhubung langsung dengan Shiva.


Puasa Senin dan Kamis

Puasa Senin dan Kamis dalam Hindu, yang dikenal sebagai "Puasa Dwi Wara", adalah praktik yang banyak dilakukan umat untuk memohon berkah dan mendekatkan diri kepada Dewa Shiva di hari Senin dan Wisnu serta Wrashpati sebagai gurunya para dewa di hari Kamis. Puasa Dwi Wara ini merupakan bentuk penghormatan kepada dewa-dewa tersebut yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sehari hari. Dengan praktek puasa Senin dan Kamis , diharapkan Shiva, Wisnu dan Bhraspati, mempermudah perjalanan kehidupan, menyingkirkan segala halangan krusial, dan pastinya menganugerahkan berkah berkah sehingga kita tetap kukuh, tegar, di jalan kebajikan (satyam) , mendapat penerangan , cahaya (jyotir) dan juga mencapai keabadian (amritham)

Puasa Weton

Manfaat puasa weton, menghilangkan penyakit di tubuh, dengan puasa ini juga dipercaya terjadi generatif sel, sel tubuh yang rusak digantikan dengan sel baru. Selain itu diyakini dapat mengeluarkan energi negatif dalam tubuh, dan membuat mata bhatin semakin terbuka. Daya ingat semakin tajam. Secara spiritual daya kepekaan kian meningkat, karena itu diyakini lebih sensitif merasakan energi kosmis.

 

Puasa “Nyandi Dadap”

Mengacu pada Lontar Tutur Bhuwana Mahbah, disarankan berpuasa “Nyandi Dadap”. Adapun prosedurnya dengan cara puasa tidak makan selama tiga hari. Saat berpuasa disarankan selalu memuja Sanghyang Shiva sebagai istadewata ketika menghelat puasa ini. Pahalanya, akan dapat mencapai sorga utama, hidup makmur dan juga banyak putra. Memperoleh kejayaan sebagai rajanya raja yang memiliki banyak bawahan.

Apabila bercita-cita ingin mengetahui hakekat ajaran rahasia terkait hakekat jati diri, baik lahir maupun batin. Maka disarankan menghelat brata, hanya dengan sekali makan sehari. Pujalah Dewa Sambhu. Mantranya : “Ong Si Sambhu we namah, poma”. Dan pahalanya dianugrahi putra yang banyak, hidup makmur, cita-cita selalu berhasil. Segala yang diinginkan segera tercapai

 

Puasa Tiga Hari

Maanfaat puasa 72 jam atau tiga hari , sesungguhnya sudah dilakukan para rohaniawan, rishi, pertapa , kaum sidha. Puasa ini diyakini  sangat  bagus


untuk aura lebih baik, mendetoxsifikasi, membuat pencernaan bagus, selain juga berguna bagi penderita diabetes. Alasannya puasa lebih dari dua hari, dapat meningkatkan insulin. Mendukung proses autofagi atau proses

daur ulang sel sel yang mati menjadi sel baru. Pada saat puasa tubuh tidak dapat asupan dari makanan. Karena itu, tubuh kita harus memanfaatkan energi lain melalui proses kimiawi, seperti laktat, asam amino menjadi gula, dengan merubah simpanan glikogen cadangan energi di dalam otot dan hati, agar menjadi glukosa. Glokasa itu kemudian dirubah menjadi energi terkait proses glukoneogenesis. - pembentunan gula baru- nah gulanya itu selanjutnya dipakai untuk energi.

Intinya puasa 72 jam, dapat mengontrol gula darah, melawan peradangan, menurunkan berat badan, meningkatkan fungsi otak, meningkatkan kerja jantung, termasuk

memicu tubuh memproduksi stemsel secara alami, yang konon biaya stemsel itu mencapai ratusan juta itu. Dan ternyata bisa didapatkan dengan hanya puasa 72 jam. Stemsel itu mampu memperbaiki sel sel dan jaringan yang rusak beberapa tahun. Karena saat puasa itu terjadi zone regenerasi, jadi semua sel sel rusak, jaringan sampah sel rusak akan diperbaharui.


Intermetten fasting

Dewasa ini masyarakat kebanyakan mulai getol puasa. Salah satu jenis puasa populer yang menjadi pilihan adalah “puasa intermetten”. Puasa ini didesain selama

18 jam jendela puasa dari pukul 17.00 sampai pukul 11.00 siang dan 6 jendela makan dari pukul 11.00 siang sampai pukul 17.00 sore. Jika puasa ini disiplin dilakukan minimal 3 bulan, konon akan bisa

panjang umur, awet muda, langsing, sakit lambung sembuh, sakit migren sembuh, termasuk gerd juga sembuh. Puasa 18 jam itu merupakan detox, terjadi regenerasi sel,resiko jantung turun, stroke turun , kolestrol turun, asam urat turun, darah tinggi turun, teigizi turun termasuk hipertensi

Adapun organ yang langsung terpengaruh ketika seseorang melakukan puasa intermetten ini adalah pankreas . Selama masa glukosa plasma rendah, pankreas akan melepaskan lebih banyak glukagon dari sel-sel alfa. Glukagon itu terutama memengaruhi hati, karena di hatilah disimpan sebagian besar glikogen dalam tubuh.

 

Manfaat Mental & Emosional

Puasa dapat meningkatkan kesadaran diri. Dengan berpuasa kita dapat lebih cepat memahami kebutuhan tubuh. Selain itu, puasa dapat membantu


mengurangi stres dan kecemasan dengan memberikan waktu refleksi dan relaksasi. Puasa juga dapat meningkatkan kualitas tidur.

 

Manfaat Spiritual

Puasa dipercaya dapat meningkatkan kesadaran spiritual. Seseorang dipercaya lebih bijak memahami nilai-nilai kehidupan.

Puasa juga mengembangkan disiplin diri dan meningkatkan kontrol atas keinginan.

Namun, perlu diingat puasa itu harus dilakukan dengan bijak dan sesuai kebutuhan individu. Karena itu konsultasikan dengan dokter atau ahli kesehatan, sebelum memulai puasa, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu.

 

Manfaat Fisik

Puasa dapat mendetoksifikasi tubuh, sehingga bersih dari racun dan zat-zat yang tidak diperlukan. Pengurangan berat badan. Dengan berat badan berkurang, juga mengurangi asupan kalori.

Di samping itu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Puasa juga dapat membantu mengurangi stres oksidatif.

(Demikian kompilasi berbagai sumber dari: Sadhu Giriramananda)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...