(Bhineka Tunggal Ika
Tan Hana Dharma Mangrwa )
Perspektif Kakawin
Sutasoma Mpu Tantular
Kompilasi : Sadhu
Giriramananda
Om Shivabudha Hum
Apakah di tanah Bali ada jejak
jejak ajaran Shiva Budha pada era kuno ( klasik), sebelum era madya ?. Jika
kita merujuk beberapa prasasti, dan bukti bukti lainnya, sejatinya keberadaan
ajaran Shiva Budha bisa dikatakan melekat di pulau seribu pura ini, sudah sejak
era klasik. Sinergisitas, Shiva Budha itu eksistensinya “ tunggal” memang
sangat kuat. Paling tidak beberapa catatan Prasasti menegaskan hal itu.
Dikatakan, pada masa Bali Kuno
(klasik) sejak abad ke VIII hingga XIV pengaruh ajaran Shiva Budha tidak perlu
disangsikan lagi. Pengaruhnya telah terlihat pada awal masa Bali kuno, yakni
sekitar abad VIII, kemudian bukti penguatan agama Hindu (Shiva) kira-kira hadir
setengah abad kemudian. Sedangkan, Dewa-dewa utama agama Hindu yakni Tri Murti
- Brahma, Wisnu dan Shiva - , telah dipuja pada masa itu. Pernyataan Namasiwaya
Namobuddhaya tersurat dalam prasasti Landih A. Prasasti itu menegaskan raja
Jaya Sakti, sebagai penganut Wisnu Narayana, bukan saja sangat bakti kepada
Dewa Shiva tetapi juga kepada Budha. Bukti itu dikuatkan lelaku Raja Anak
Wungsu Laksana Harimurti, sebagaimana terbaca dalam prasasti Dawan itu, beliau
memuja dua agama tersebut yang telah lebur menjadi satu di Bali. Bahkan ajaran
itu membentuk sistem dan kebudayaan Bali. Sedangkan pada Prasasti lainnya,
muncul subhashita “Budha saranah kertih walidwipa” - Para Budha adalah
pelindung Pulau Bali.
Prasasti Blanjong itu bertahun
913 masehi, ketika itu ada dibawah kekuasaan Raja Sri Kesari di Singamandawa
Sedangkan, mantra tantra “Om namah shiva Ya” tercatat pada Prasasti Kehen C
1204 Masehi yang saat itu diperintah, Raja Batara Sri Adi Kunti Ketana, yang
bersthana di Singamandawa. Ada lagi bukti lainya, yang menegaskan, ada Pendeta
dari Tiongkok dan Tibet yang bernama kasuhunan Hwui-ning dan O-T'-isa, dan Yun
Ki , datang ke tanah Bali Dvipa, tujuannya untuk belajar agama kepada seorang
pendeta yang bernama Jah-na-po-T'-lo, yakni sebuah nama dengan menggunakan
bahasa Kawi yang berarti Bhagawan Jannabadra. Dengan sang Jah-na-po-T'-lo,
kasuhunan Hwui-ning dan O-T'-sa, menterjemahkan salah satu kitab yang mirip
dengan agama Buddha, kitab ini memuat ceritra tentang Nirwana, namun amat
berlainan dengan kisah Nirwana yang lasim didalam agama Buddha Mahayana.
Setelah pekerjaan menterjemahkan
itu selesai, sang kasuhunan Hwui-ning dan sang O-T'-sa memberi perintah kepada
masing-masing pengikutnya yakni I- Stsing dan Yun- Ki, untuk kembali ke
Tiongkok dan Tibet, dengan membawa ceritera yang telah diterjemahkannya itu,
tetapi kemudian I-Stsing maupun Sang Yun-ki ingin menjumpai Sang Kasuhunan dan
kembali lagi ke tanah Bali, sekaligus juga mengucapkan terima kasih kepada
Jah-na- poT'a-la atau Begawan Janabhadra, tetapi tidak berjumpa, karena Begawan
Jannabadra, diikuti oleh sang kasuhunan, lebih dulu pergi ke barat atau ke Jawa
dan I-stsing tidak dapat menerangkan kembali kemana sang Hwuining membawa diri.
Dengan catatan itu bisa disimpulkan bahwa di tanah Bali ini sudah ada
pengetahuan atau ajaran Agama, sebagaimana telah kita ketahui didalam
pelaksanaan upacara Agama yang bertitik orientasi pada perayaan hari raya
Tumpek dengan Tikanya untuk mengetahui hari baik dan buruk. Dengan adanya murid
bangsa Tiongkok dan Tibet yang bersedia meterjemahkan salah satu kitab penting
negeri ini, jadi boleh dibilang ditempat ini ada sekumpulan pelajar yang suntuk
belajar pengetahuan ajaran di Wali (Bali) ini.
Kendati I-Tsing menyebutkan makna
ceritra yang diterjemahkan berbeda dengan ceritra umum di dalam Agama
Buddha-Mahayana. Akan tetapi kitab yang diterjemahkan itu disebut oleh orang
Tiongkok itu, masih termasuk dalam golongan Agama, yakni golongan pertama kitab
Hinayana, sedangkan di dalam kitab Tripitaka, ceritera wafatnya dan pembakaran
mayat sang Buddha itu termasuk golongan kitab kelima. Riwayat kehidupan segenap
orang Tiong Hoa jauh terkemuka, yang ditulis zaman kerajaan dinasty Sung, juga
membenarkan tentang diterjemahkannya karya Sang Begawan Janabadra oleh sang
Hwui-ning. Dijelaskan pula kitab yang diterjemahkan itu berlainan pula dengan
kitab Mahapaninirwana. Ada juga tanggapan dari seorang Pendeta Buddha yang
bernama Acwanghosa, yang menulis kitab Buddhacarita yang sangat termahsyur di
kepulauan ini, sama masyurnya dengan Kitab tulisan Begawan Janabadra dan juga
karya dari negeri Hindustan.
Dengan bukti bukti yang ada,
fakta itu menegaskan, Agama Budha demikian sangat maju, maka tak heran juga
dengan deskripsi memang ada relasi yang kuat dan harmonis antara Universitas
Nalanda di India, di Sriwijaya Pelembang dan juga ada institusi yang sama di
Bali. Lalu terkait teks Kakawin apa yang sangat kuat menunjukkan penyatuan
Shiva Budha yang menegaskan eksistensi yang dua itu tunggal adanya. Bisa
dikutipkan Kakawin Sutasoma, hasil karya Mahakawi Mpu Tantular. Bahkan, tulisan
Bhineka Tunggal Ika, Anuvaka 139 - sloka 5, terpampang dibawah burung garuda
lambang negara kita. Maaf hanya dikutip beberapa sloka saja.
Anuvaka : XL (40)
1. Nāhan ling Jinamūrtti mājar i kadibya ning pati-pati, mwang tang mokşakamārgga kempen i wuwus nirān pawacan ndan sang Sāmajawaktra nāgapati satwanātha karuņa, bhaktyāngañjali jöng nirāmalaku sih nireki tulusa.
(Begitulah sabda sang Pangeran,
memberikan ajaran tentang keutamaan kematian, serta jalan menuju kebebasan.
Inilah pokok dari ajarannya. Kemudian Samajawaktra, sang Naga dan sang macan
betina bersujud hormat di kakinya memohon dengan sangat berkahnya yang tak
putus-putus.)
2. De ning yoga samādhi tan hana ri sang nirāśrayayati, niş tang mārgga wiśeşa rakwa ri hiděp patik nṛpasuta, siddhang yoga yan ārddha ling ņira nirāśrayeki kahidēp, něm kweh nyādhika ring Śiwatwa ya rengön mahottama těmi
(Karena tidak melaksanakan yoga
dan semadi sebagai seorang nirasraya, maka kami kehilangan sang jalan dan
kebingungan.' Sang Pangeran menjawab. "Jika kamu sekalian melakukan yoga
sampai sempurna, maka kalian akan berhasil menjadi seorang nirasraya. Ada enam
pembagian ajaran Siwaisme, dengarkanlah baik-baik.)
3. Pratyāhāra ngaranya kālapan ing indriyeka winalat, sangkeng ārtha jugeka rakwa Makamārgga buddhi wimala, nyang dhyānādhika dhīra yoga humiděp swasādhya mapagël, dibyāmoha taman kasambi ring ulah prapañca satata.
(Mereka adalah Pratyahara,
penarikan pikiran dari kesan-kesan indriya, yang dikatakan sebagai jalan untuk
memurnikan pikiran. Dhyanadhika adalah meditasi tertinggi dan ini merupakan
yoga yang teguh untuk mengalahkan dorongan jahat yang ada dalam diri kita tanpa
bisa diperdaya oleh kebodohan dalam bentuk kebingungan yang seringkali muncul.)
4. Prāņāyāma ngaranya bāyu winatěk mareng hulu tengah, sarwwadwara miněb těkap nya tinut ing wisesa katēmu, am kāra pranaweki munggu ri dalěm twas arddha va kasök, wet ning tatwa Siwatwa dharana ngaranya yoga saphala.
(Yang ketiga adalah pranayama,
yaitu pengaturan napas, saat napas dialirkan ke nadi tengah (susumna). Semua
gerbang indriya ditutup, dan ini diikuti dengan ditemukannya kekuatan yang
lebih besar (wisesa). Suku kata suci Om (pranawa) diuncarkan dalam hati dan
sepenuhnya meliputi hati. Dan inilah inti dari ajaran Siwa yang disebut
Dharana, yaitu penyatuan dengan yang illahi.)
5. Len tang tarkka ngaranya yoga gaganopamang manohawa, nghing tan wāk dhara rakwa len iku sake rikang awang-awang mwang tang jñāna wikālpa tārjja malilang wisādhya pinělěng nissandeha samādhi yoga pangaranya mokşa karaņa.
(Ada pembagian lain yang disebut
tarkka, yaitu yoga bagaikan Namun, langit di sini beda dengan langit yang ada
di atas kita. langit yang menghancurkan hati (gaganopamang manohawa). Pikiran
harus dibersihkan dan dimurnikan dan perhatian yang tercerai berai harus
dipusatkan ke satu titik. Ini disebut nissandeha semadi yoga yang membawa pada
kebebasan (moksa).
6. Tandwāng astaguņān kapanggih dan těkap nya rakwa karuhun, drsyādṛsya wasītwa ring bhuwana Rudramūrtti sakala, yekāngbwāt i manah nirang paramaśāntikāryya nipuņa, kempěr yan rusit ing jitendriya dan ning amběk ahajöng.
(Orang yang mempraktikkan keenam
jalan itu akan segera mendapatkan delapan kekuatan batin besar (astha guna).
Dan bisa nampak atau menghilang sebagai penjelmaan Rudra di dunia. Inilah yang
memenuhi pikiran orang yang menginginkan kedamaian tertinggi. Untuk menguasai
indriya adalah sangat sulit dan jurang dari nafsu indriya adalah sangat curam.)
7. Yapwan dhīra manahta tunggeng ikanang swacitta maběněr, tan kewěh těkap ing trikāya wala siddhi sarwwakarana, kewěh ning trigunātmakārddha ya huwus kasimpěn amatěh, ngkā rakwān sira śūnyarūpa paramārthatatwa kahidep.
(Namun, jika pikiranmu teguh dan dalam keadaan benar, serta tidak terhalangi dan ketiga kekuatan (kaya, wak, citta; tubuh, ucapan, pikiran) diarahkan hanya bagi kesejahteraan dunia, gangguan dari triguna (sattwa, rajas, tamas) telah diawasi dan disingkirkan, maka engkau akan mencapai kesunyataan yang tertinggi (sunyarupa paramarthatattwa)."
Anuvaka XLI (41)
1. Nāhan tingkah ikang Śiwatwa ri sirang Sewa swapāksādhika, bheda mwang Jinatatwa teki ri sirang boddhāprameyeng jagat, Sang hyang Adwaya yoga sandhi pinakeşți dwāra sang bhikşuka, am aḥ śabda nikang swabāyu ri dalěm kanţa prasiddhang hayu.
("Itulah jalan yang umum
ditempuh oleh para penganut Shiva. Hal ini berbeda dengan jalan Buddhis, yang
bagi pengikutnya dianggap sebagai jalan yang tiada bandingannya di dunia. Yaitu
yoga rahasia Adwaya (non-dual yoga) yang bagi para bhiksu merupakan gerbang
untuk mencapai kebebasan. Am-ah adalah suara yang terdengar di tenggorokan
mereka. )
2. Rěp prāptang rawi soma de nya sumaput ring deha śuddhakri mwang tang adwayacitta diwya mapagěh ngkāne manah nirbhaya, pöh ning rwānupamātiśīghra ri wijil hyang Buddha tan kāwaran, śūnyākāra dewāngga nirmmala sirān nirbbāna nirllakşaņa.
(Matahari dan rembulan muncul dan
meliputi tubuh yang murni tersebut, adwayacitta dan diwya (istadewata) menyatu
teguh, berdiam dalam hati yang bebas dari segala ketakutan. Hasil dari
dewatayoga ini adalah dengan segera memunculkan Hyang Buddha yang terlihat
jelas tanpa tersaput penghalang, dan dalam penampakan Sunya dengan tubuh yang
berupa cahaya murni. Dialah pengejawantahan kebebasan yang tak
berkarakteristik, yang tak bertanda (nirbana nirlakshana).
3. Āpan tan Śhiva tan Maheswara sirān tan Brāhma tan Keśawa, tan sang hyang Paramești Rudra tuduhěn dūrān kawastwerikā, singgih yan Paramārthabuddha temahan sang siddha yogīśwan. icchā nora kasangśayāganal alit tanmātra mātreng sarāt.
(3. Karena dia bukanlah Siwa,
bukan Maheswara, bukan Brahma, bukan Kesawa. Bukan Paramesthi, bukan Rudra,
mereka jauh sekali bedanya dari Hyang Buddha. Sesungguhnya dia adalah Buddha
yang utama/tertinggi (Paramartha Buddha), yang merupakan pertapa agung yang
sempurna. Damai, tanpa rasa takut, tidaklah kasar maupun halus, tidak sama
dengan apapun juga yang ada di dunia.)
4. Nāhan hetu bhațāra Buddha kahidep putrāprameyeng jagat, sang hyang Adwaya rāma tatwa nira de sang panditanghaywan Prajñāparimitebu tan sah i sěděng ning yoga sānusmrti, tan rāgodaya bhīna rakwa kalawan hyang Durmukengātmaja.
(4. Itulah alasannya mengapa
Bhatara Buddha dianggap sebagai putra yang tiada bandingannya di dunia. Hyang
Adwaya merupakan ayahnya menurut konsensus para pandita; sedangkan ibunya
adalah Prajnaparamita. Yang tidak terpisahkan dari pasangannya saat melakukan
meditasi. Tidak ada nafsu yang timbul, dan dalam hal ini kelahirannya berbeda
jauh dengan kelahiran Dewa Durmukha.)
5. Mangkā śīla nireng Mahāyana wěkas ning boddhisatwān laku, wet ning tatwa wiśeşa tan huninga ring asteśwārānindita, yāwat prokşaka rakwa tāwat ikanang niśśreyaśewěh pinet, nāhan hetu nirang Śīwatwa makadat mungsyāmriheng śūnyata.
(5. Itulah laku yang harus dipraktikkan oleh penganut jalan bodhisattwa dari aliran Mahayana. Karena itu merupakan kebenaran tertinggi, maka pengikutnya tidak memperdulikan delapan dewata pelindung dunia. Ketika konsentrasi pikiran terpecah, maka kebebasan jadi sulit didapatkan. Itulah sebabnya Siwaisme merupakan jalan yang lebih lambat dalam mencapai kelepasan dibandingkan dengan ajaran sunyata.")
Anuvaka
CXXXIX (139)
1. Ngkā krodha sang Hyang i tělas nikang astra bhagna, Kālāgnirudra wěkasan sira bahnirūpa, krūrāhyun anghawanknang bhuwaneka cūrnnan, sāmpun mayat tutuk irāmanganang triloka.
(1.Sang dewa sekarang menjadi
murka sekali, karena semua senjatanya telah musnah. Kemudian dia mengubah
wujudnya menjadi Kalagnirudra. Wajahnya menjadi sangat menakutkan, seolah-olah
dia ingin meleburkan dunia ini menjadi debu. Mulutnya telah terbuka untuk
menelan ketiga dunia.)
2. Ghūrnnang watěk hyang umulat pada bhīta śānta, Brāhmādi Wişņu tumurun saha sěmbah agya, Šakrādi len Baruņa dewa Yamang Dhanendra, milwang Kuwera kimutang Gaņa len Kumāra.
(2. Para dewa berteriak-teriak
dan khawatir menyaksikan pemandangan itu. Brahma, Wisnu, dan yang lainnya turun
memberikan sembah. Demikian juga Sakra, Baruna, Yama, Dhanendra, dan yang lain,
diikuti oleh Kuwera, Gana dan Kumara.)
3. Mwang sang watěk rěși kabeh sahawedamantra, manghyang ri tan tulusa ning muburang triloka, mojar gurungku kita haywa Bhațāra manngkā, heman yaśanta lěburěn turung ing yugānta.
(3. Semua resi dewa juga datang,
melantunkan mantra dari Weda. Dan berdoa agar kehancuran dunia diurungkan.
Mereka berkata: "Tuanku, engkau adalah guru kami. Janganlah melakukan hal
ini! Punyailah belas kasih kepada makhluk-makhlukmu yang akan hancur sebelum
berakhirnya zaman (yuganta).
4. Yadyan sahaśra yuga rakwa dhiranta ring rāt, dhiroddhattāngalahala prabhu Hastinendra, dūrān wěnangta juga pan ratu Buddhajanma, hyang Buddha tan pahi lawan Siwa rājadewa.
(4. Meskipun keberanianmu
dilipatkan seribu kali, karena engkau hendak mengalahkan Raja Hastina, mustahil
engkau bisa melakukannya. Meskipun dia seorang raja, namun beliau adalah
titisan Buddha. Dan tidak ada perbedaan antara Hyang Buddha dan Hyang Shiva,
raja para dewa.)
5. Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiśwa, bhīneki rakwa ring apan kěna parwanosěn,l mangkāng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, bhīneka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa.
(5.Mereka memang berbeda Namun,
bagaimana kita bisa mengenali perbedaanya dalam selintas pandang. Karena
kebenaran yang diajarkan Buddha dan Shiva itu sesungguhnya satu jua. Mereka
memang berbeda-beda. Namun, pada hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran
yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa).
6. Akşobhya tatwa kitang Īśwara dewa dibya, hyang Ratnasāmbhawa sireki bhațāra Datta, sang hyang Mahāmara sirāstam ikāmithāba, śryāmoghasiddhi sira Wişņu mahādhikāra.
(6. Hakikat Akshobya tidak
berbeda dengan hakikat mu sebagai dewa agung Iswara, Ratnasambhawa tidaklah
berbeda hakikatnya dengan Bhatara Datta. Mahamara tidaklah berbeda dengan
Amitabha, Sri Amoghasiddhi dengan Dewa Wisnu yang unggul.)
7. Ndah kantěnanya kaharěpkwi bhațāra mangke, somyāmrihātutura ring Siwabuddhatatwa, ndah yeka tingalaknang tanu ghorarūpa, tan ghora hetu nikanang Sutasoma carwa.
(7. Jadi kami memohon dengan
sangat kepadamu, Tuanku. Untuk meredakan amarah, dan mengingat Hakikat
Siwabuddha. Kami mohon padamu, lepaskanlah wujudmu yang ganas dan mengerikan
ini! Bukan dengan jalan kekerasan Raja Sutasoma dapat dikorbankan!")
8. Ling sang watěk sura humung sahapuşpawarşa, ndā tan marěn wuyung iranglěburang triloka, hyang Sakra yeka umutus ri narendranātha, kapwāmisārjjana ri duḥka bhațāra ring rāt.
(8. Suara para dewa itu begitu
kerasnya, diikuti oleh hujan bunga. Namun, hal ini tidak bisa menenangkan
kemurkaan Bhatara Maharudra yang ingin menghancurkan dunia. Kemudian Dewa Sakra
memohon kepada Raja yang tertinggi (Sutasoma), untuk menyirnakan kemarahan
Bhatara Iswara yang hendak menghancurkan dunia.)
9. Ndah śīghra sang prabhu tutūt ri wěkas Surendra, boddhyāgrimudra wěkasan sira nekacitta, hyang bajra tīkşņan umijil kadi sūryyarūpa, sangkeng narendra rumakut ri wuyung Bhațāra.
(9. Dan sang rajapun dengan cepat
memenuhi permintaan Surendra. Dengan mudra bodhyańgri beliau kemudian
memusatkan pikirannya. Sebuah bajra yang sangat tajam muncul bagaikan matahari
yang bersinar terang, dari tubuh sang Raja menguasai kemarahan Dewa Maharudra.)
10. Rěp śānti teka matutur bhațāra Rudra, yan sang narendra sira janma bhațāra Buddha, ngkän somya sah sira sakeng Puruşādanātha, sūkṣmatiwegha kalawan para dewa sangghya.
(10. Lihatlah, Bhatara Rudra
menjadi tenang, dan dia mengingat bahwa Raja Sutasoma merupakan penjelmaan
Bhatara Buddha. Pada saat itu dia menjadi jinak dan meninggalkan tubuh Raja
Purusada. Kemudian Bethara Maharudra lenyap dengan segenap rombongan dewa.)
Kirang langkung druwenang lan
aksamaang, dikutip : Sadhu Giriramananda, dari Kakawin Sutasoma, oleh Mahakawi
Mpu Tantular)
Pendeta Shiva dan Budha dalam tradisi Bali
Pendeta Shiva Bali dan Bhiksu Budha daam satu pemujaan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar