Eksistensi VPA Lekat Sebagai “Agent Perubahan”

 


Shri Begawan Yogananda

Eksistensi Veda Poshana Ashram (VPA) sesungguhnya sangat lekat sebagai “Agent Perubahan” itu sendiri: Faktanya peran ideal itu sudah diaplikasikan membumi, strategis dan optimal di zaman now yang menuntut serba instan, efisien. Karena alasan itu VPA tidak mau sekadar , menjadi “tools” alat, istrumen semata apalagi ingin show of force sebagai bagian politik identitas.

Sadar sesungguhnya, perubahan itulah hakekatnya merupakan keabadian itu sendiri. Maka, menjadi “Agent Perubahan” itu merupakan suatu opsi prioritas buat VPA. Lebih lebih ketika membuat “keputusan” penting terkait menentukan “formula yang jitu” harus didesain secara matang, holistik, sehingga decesion yang diputuskan, menjadi hebat alias tak sia sia. Fakta riil di era now menyimak perkembangan AI sebagai “alat” itu sangat dasyat, AI bukan saja menjadi rujukan banyak orang dewasa ini, melainkan memainkan peran sentral dan sangat signifikan atas berbagai hal, karena memang “kecerdasannya” sangat luar biasa. Apapun ditanyakan,dengan cepat keluar respon/jawabannya sangat detail bin komprehensif.

Pertanyaanya, apakah kita harus ada atau terlalu percaya sepenuhnya atas semua advice, dari AI itu? Tentunya, sebagai manusia jangan diperalat AI, kendati sangat masif memengaruhi segenap nitizents dewasa ini. Bagaimana pun canggihnya AI, maka kita tetaplah harus berperan optimal menjadi bagian dari “Agent Perubahan” itu, betapapun komprehensifnya data, advice, decesion yang ditawarkan dengan cepat, karena manusia sebagai “agent” maka tidak “wajib” menerima tanpa syarat dari produk cepat super cerdas, Ai itu, kita harus memilah, menseleksi dengan “wise bin smart”, mana kiranya yang bisa digunakan secara efektif dan cocok di masa kini buat kepentingan kita. Karena itu, kita harus menjadi “agent” atas suatu Alat secanggih AI.

Asosiasi kita juga kira kira equel dengan memilih dari beragamnya pilihan yang jadi opsi terkait banyak hal. Taruh misalnya terkait hal dwaita atau ritual dan juga adwaita seperti “meditasi” . Karena baik ritual dan eksistensi meditasi itu sebagai alat, maka kita mau tidak mau harus cerdas, menentukan mana yang pas, terbaik buat kita pribadi, apalagi jelas - jelas apa yang kita lakukan, sudah ditekuni sejak awal dan relatif lama. Maka dalam konteks ini, laku tapasya menjadi penting terkait turunnya anugerah. Kesabaran menggali tanah menjadi krusial atas ditemukan sumber air tanah. Kesuntukan dan daya tahan mendaki, menentukan tercapainya “peak” puncak dari Gunung yang didaki. Sebab, bagaimanapun, Manusia itu adalah


“sang operator” karena memposisikan diri sebagai “agent” maka jnana dan wijnana plus wiweka, harus dijadikan kendali very imfortant , atas decesion yang diyakini akan kita dijalankan sesuai dengan kemampuan kita. Maka penting dasar cinta digunakan sebagai basic segalanya.

“Love, is the ultimate meaning of everything around us. It is not a mere sentiment. It is truth; it is the joy that is at the root of all creation,”.

Cinta, adalah makna hakiki dari segala sesuatu di sekitar kita. Cinta bukan sekadar perasaan. Cinta merupakan kebenaran, karena itu, sesungguhnya cinta adalah kegembiraan yang menjadi akar dari semua ciptaan. (Rabindranath Tagore)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...