Hadiri “Maha Rudram Abhiseka dan Homa” di Kailash Math, Varasi 9-18 Oktober 2025

 


Abhisheka Kashi Wiswasnath Jyotirlinggam dan Juga Srisailam Malikarjuna Jyotirlinggam

Oleh:  Sadhu Giriramananda

 

Tirtayatra,merupakan suatu kesempatan emas yang dilakukan lewat perjalanan suci. Kami mendapatkan kesempatan itu bersama sama lima orang yakni : Ida Begawan Nabe Shri Yogananda, Ida Srimpu Ganeshwara, Jero Mangku Agung Murjaya dan Istri serta penulis sendiri Sadhu Giriramananda, mengunjungi, berdoa, sujud, meditasi, abhiseka di temple temple kuno yakni dua dari 12 jyotirlinggam yakni Kashi Wiswesnath di Benares dan Malikarjuna di Srisailam, Andhra Pradesh dan temple temple lain yakni Prayagraj, Ayodya, Markandeya Mahadewa, Prashanti Nilayam, di samping itu mengikuti selama 4 hari “Maharudram” di Kailash Math Ashram, Varanasi. Benar benar suatu anugerah pengalaman spesial menapak di dua jyotirlinggam itu, sebab sama sekali tidak membayangkan di sana bisa dapat berkah yang sangat luar biasa, melakukan abhiseka, sujud, bahkan menyentuh dengan penuh kasih Jyotirlinggam sangat sakral itu. Hal merupakan eksperient sangat langka, karena sudah pasti sangat mustahil dilakukan orang biasa. “Kita sangat bersyukur sekali dengan anugerah unlimited - tak terbatas dari Mahadewa ini. Sejatinya memang semua yang kita terima ini karena kehenda - Nya,” demikian ekpresi dengan kata kata singkat dari Ida Begawan Nabe Shri Yogananda, dalam perjalanan suci itu.

Dengan menggunakan jasa maskapai Air India, 8 Oktober 2025, kita terbang pagi dari Bandara Ngurah Rai, dan sore sampai di Indiragandhi Airport, New Delhi, India. Tidak ada masalah berarti terbang direct selama 7,5 jam itu dan tumben tumbennya selama belasan kali ke India mendarat pada sesi sore hari, biasanya malam hari. Sempat hanya semalam menginap di dekat bandara, sebab keesokan harinya sudah harus terbang lagi ke Varanasi, untuk kemudian menginap di Ashram Kailash Math, di tempat “Maharudram” dihelat. Keesokan harinya 10 Oktober kita tirtayatra ke Triveni Sanggam di Prayagraj. Di sana lah tempat Mahakumbhamela, dilaksanakan dengan putaran waktu setiap 3 tahun 6 tahun dan 12 tahun. Kumbha adalah mangkok, atau tempat khusus dimana event sangat suci itu menghadirkan para pertapa, sadhu, siddha, naga baba, aghora, guru suci, swami mereka berkumpul melakulan shadana, puja, di bulan Januari hingga Februari 2025 lalu. Karena magnet Kumbhamela sangat luar biasa, maka tidak kurang dari 50 juta masyarakat biasa, hingga praktisi dan orang suci hadir di sana. Nah, kita sudah familiar dengan situasi di Varanasi dan sekitarnya, sebab sudah pernah dua kali ke sana, kita berani menggunakan bus umum ke Prayagraj. Kita naik dari terminal Varanasi dengan perjalanan menempuh sekitar 120 km atau 3 jam sudah sampai di lokasi. Tampak , sanggam triveni atau pertemuan tiga sungai suci Gangga, Yamuna dan Saraswati, itu sangat luas, seperti danau Batur saja. Airnya bening, dengan burung burung beterbangan. Di sisi selain buanyak ada boat terparkir mengantar yatri yang ingin ke pusat trivena sejauh kurang lebih 400 meter. Sedangkan di pinggirnya ada temple serta ashram ashram megah dengan bangunan kokoh, antik namun penuh daya magnet spiritual. Untuk bisa  sampai di tengah pusat, kita memang harus menyewa boat. Saking buanyak nya boat, perlu usaha keras sang pengemudi boat agar bisa keluar dari jepitan boat lainnya. Usaha kerasnya tak sia sia, akhirnya tanpa halangan melaju ke wilayah pusat, di sana juga banyak ada yatri lainnya, sama melakukan perjalanan suci. Setelah sempat berputar putar akhirnya dapat giliran, satu satu dari rombongan kita membuka pakaian, hanya tersisa pakaian dalam saja, dan kemudian mandisuci, sembari pengabadikan moment special di sana. “Suatu keberuntungan bisa puja, dengan genta sekaligus mandi suci, nunas air suci dari triveni, sanggam pertemuan tiga sungai Gangga, Yamuna dan Saraswati,” ujar Jiek Jero Mangku Agung Murjaya disetujui Ida Srimpu Ganeshwara.

Kota Suci Ayodya


Nah setelah mandi suci di Triveni, Prayagraj, malam harinya kita menuju kota suci Ayodnya. Menggunakan angkutan bus sleeper - dengan fasilitas tidur, kita berangkat tengah malam dan sampai pukul 05.00 pagi. Agar bisa menampak pertiwi di kota suci Sri Rama, Ayodya kita sengaja tidak naik tuk tuk, angkutan roda tiga murah yang populer di India. Suasana brahmamuhurta membuat perjalanan bernuansa sakral, lebih lebih di kiri kanan jalan ada ornamen ornamen artifisial sangat indah, seperti figur figur Dewa - Dewa, Ganesha, Hanoman, Garuda, Srirama penuh hingga sepanjang sungai suci Serayu yang kita tuju. Di sana, kita sewa boat berputar mengikuti tepian sungai Serayu yang luas. Yang sangat membahagiakan selain nunas tirta suci, juga dapat sembahyang brahmamuhurta sembari memandang matahari yang baru terbit di ufuk timur. Berbagai mantra gayatri, trayambhakam, namakam kita chantingkan , bahkan diiringi suara genda sehingga terasa lebih khusuk dan vibrasi atmosfer terasa bertambah damai . Setelah menuntaskan ritual di sungai Serayu, kita sempat tawar tawar suvenir dan beberapa yang menarik dibeli. Kemudian kita sempat puja dari jauh di temple Hanoman yang membludak di kunjungi yatri. Sengaja tidak masuk ke dalam temple Hanoman yang ramai pemedek, karena kita inggin fokus ke Ayodya Temple. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju pintu utama Ayodya. Tampak bangunan sangat besar belum tuntas 100 persen jadi masih penyempurnakan ornamen ornamen ukiran yang sangat detail masih dalam pengerjaan para tukang profesional. Semua tas, hp demikian juga sandal, sepatu yang digunakan wajib dititipkan di locker penitipan. Kita ke dalam melewati sekat lorong yang didesain khusus hanya bawa dompet saja, beberapa kali diperiksa petugas pintu oleh  penjaga memastikan semua yatri tidak membawa sesuatu yang dikategorikan pembahayakan. Akhirnya kita bisa memasuki temple utama, tampak murthi Sri Rama, linggam yang dihiasi ornamen sangat indah, dan beberapa arca lainnya. Tidak lama diperkenankan di temple utama itu, setelah dapat dharsan dan sujud dengan afirmasi jarak jauh, akhirnya kembali ke tempat loker, setelah melewati ornamen indah pada bangunan 11 temple indah yang diperkirakan kawasan seluas 78 hektar. “Kita bisa ke sini hingga dua kali, sesuai hukum reinkarnasi, bisa jadi kita sudah pernah menjadi abdi, jadi bhakta Sri Rama di masa lalu,” kilah Begawan Nabe Shree Yogananda.

Markandeya Mahadewa Temple


Ternyata 40 km ke arah utara Kota Suci Waranasi ada temple Markandeya Mahadewa. Dipercaya di sana lah Maharishi Markandeya memperoleh anugerah ciranjiwi - hidup kekal abadi - dari Shiva Mahadewa. Selain ada 2 linggam yang kecil linggam Maharishi Markandeya dan yang besar linggam Mahadewa, juga di kawasan luar temple itu ada perapian kunda yang terus saja muncul asapnya mengepul , meski tidak ada dipersembahkan kayu bakar. Memang yatri yang mengunjungi temple ini tidak sebanyak ke Ayodya temple. Bersama Jiek Jero Mangku Agung Murjaya dan Srimpu Ganeshwara, sangat beruntung bisa pendek tangkit di tempat itu, kita juga menghanturkan terimakasih langsung kepada Rishi Markandeya di tempat suci bersejarah di Varanasi, karena beliau yang bertubuh ciranjiwi itu juga dipercaya menanam pancadhatu di Pura Basukihan, Besakih, ngeruwak hutan di Desa Taro dan sekitarnya, dan menginisiasi pura puri suci lainnya di Bali, Gunung Rawung Banyuwangi hingga di Dieng Jawa Tengah. Dengan bukti fisik berupa situs suci, menegaskan apa yang ditulis di Purana dan ceritra rakyat, bahwa keberadaan Sang Mahayogi Markandeya, pernah ada terlepas dari pro dan kontra soal eksistensi Sang Maharishi. Bagi yang percaya apalagi yang pernah mendapat pengalaman langsung kehadiran beliu lewat esoterik dan anubawa dharsan, hal itu juga sangat membahagiakan, sebab yang diyakini dan ditemui melalui dimensi spiritual benar adanya. “Kebenaran selalu hadir, memberikan penguatan keyakinan khususnya kepada orang orang murni berserah dan menapak action dalam visi kesucian,” bisa jadi seperti itu realitasnya.

 


Markandeya Mahadewa Temple bersama rombongan dan orang suci


Panca Gangga

Di pagi hari saat hendak meninggalkan kota suci kuno Varanasi , kita diajak Rishi Shankara Narayana Planjeri, mandi suci di “Panca Gangga” di aliran suci sungai Gangga yang membelah Kota Varanasi. Dengan menggunakan boat kita menyusuri aliran gangga, dari dalam boat tampak bangunan bangunan kuno dan temple temple indah di Kota Varanasi. Pemandangannya sangat luar biasa, melihat aneka aktivitas masyarakat , juga melewati tempat kremasi yang sangat banyak ada di tepian sungai gangga itu, yang paling terkenal adalah Manikarnika Ghat dan Harischandra Ghat. Konon tiap hari di sana dikremasi hingga 200 mayat selama 24 jam. Nah, setelah menyusuri sungai Gangga akhirnya sampai di Pancagangga, demikian sampai, sembahyang , yoga asanas surya namaskar di tepian sungai, kemudian kita mandi suci bersama. Pelayanan para Pandit sangat luar biasa, karena Rishi Shankara Narayana Planjeri memang selain menjadi orang suci juga loyar membagikan rejeki kepada semua orang. Kita, menjadi bagian dari perjanan sucinya juga ikut kecipratan pelayanan yang baik.

Berkah Abhiseka Dua Dari 12 Jyotirlinggam

Negeri India secara spiritual dikelilingi 12 jyotirlinggam, yang diciptakan langsung Shiva Mahadewa. Pada yatra tersebut, kita langsung bisa mendapat anugerah, bukan saja sebatas dharsan, juga abhiseka sendiri, menyentuh linggam yang sangat sakral tersebut. Pertama 12 jyotirlinggam Kashi Wiswestnath Jyotirlinggam, kita mengikuti Rishi Shankara Narayana Planjeri beserta istri, karena pengaruh beliau dijemput Pandit yang biasa ngayah di Jyotirlinggam itu, seperti umumnya memasuki tempat sakral di India, tidak diperkenankan membawa handphone, semua yang dibawa kecuali dompet wajib di titip di locker penitipan barang. Karena ada pemandu , panditnya langsung maka untuk mencapai temple utama sangat mudah. Karena ada jalan jalan pintas dilalui untuk melewati antrean masyarakat umum. Demikian sampai di mandir Kashi Wiswesnath aura sakral sangat terasa, sebab tidak membayangkan bisa mencapai di depan linggam tanpa jarak. Dua kali kesempatan thang berkunjung ke sana tahun 2010 dan 2024, hanya dharsan, namun setelah Rishi Shankara melakukan abhiseka langsung dan relatif lama, beliau memercikkan tirta, nah giliran thang dapat kesempatan langsung linggam itu thang sentuh menggunakan dahi, sontah teriakan bergemuruh dari pandit dan yatri, sehingga mengagetkan, sejurus kemudian thang spontan perlihatkan beberapa rudraksa dan disampaikan “iam

Pandit olso” dan suasana kembali seperti sebelumnya. Itulah berkah luar biasa, buat thang pribadi dan teman teman dapat kesempatan sangat istimewa tangkil di Kashi Wiswesnath temple yang atapnya berlapis emas di Kota Suci Shiva Varanasi itu.

Tak hanya Kashi Wiswesnath Jyotirlinggam, setelah mampir di kampungnya Rishi Shankara di Hyderabad, Andra Pradesh, kita juga mendapat kesempatan kedua di 12 Jyotirlinggam Malikarjuna, Srisailam, Andra Pradesh, kita sujud, abhiseka di linggam utama di buanyak linggam di sana Lingga Panca Pandava, yang menujukkan Panca Dewata - Sayojata, Tat Purusha, Wamadewa,

Aghora, dan Ishana, di sana juga ada linggam Pertiwi, Jala, Agni, Vayu, Akasa, Surya, Chandra bahkan Moksah Lingggam. Bahkan mendapat kesempatan dharsan dari mataair khusus untuk melihat temple sakral itu. Aneka anugerah juga diberikan pada kesempatan yatra ke linggam suci itu. Namun untuk bisa tiba di tempat suci Malikarjuna Jyotirlinggam itu perlu perjalanan 12 jam pulang pergi. Untung saja Rishi Shankara Narayana Planjeri, mefasilitasi dengan sangat baik. Mobil home yang relatif sangat nyaman di sewakan untuk kita, sehingga perjalanan selama 12 jam tidak terasa, karena selain bisa tidur di mobil tentu mendapat nonton video untuk mengusir rasa jenuh selama perjalanan, selain diberikan penjelasan oleh Pandit yang sangat berpendidikan mandampingi kita dalam tirtayatra tersebut.

“Barangkali anugerah tak terbatas yang kita terima ini, sebagai vasanas yang baik atas kelahiran terdahulu kita, dan juga perjuangan shadana ekstra keras saat ini,” ujar Begawan Nabe Sri Yogananda.

 

Mengikuti Perayaan Divali & Dharsan di Puttaparthi


Pada kesempatan itu kita juga seru seruan mengikuti perayaan divali di Hyderabad.

Apa itu upacara Diwali merupakan festival cahaya, yang melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, terang atas kegelapan dan pengetauan atau vidya atas avidya. Divali ditandai menyalakan lampu (diya) sebagai simbol harapan baru, pembersihan diri dari energi negatif, dan perayaan kembalinya Dewa Rama setelah mengalahkan Rahvana.

Perayaan divali, bukan saja dihelat di rumahnya Rishi Shankara Narayana Planjeri, juga di rumah adiknya serta kerabatnya hingga makan siang dan malam di sana. Aneka gembang berbagai ukuran, dan formasi api dilepas ke udara, bukan saja menimbulkan suara menggelegar, juga pijaran formasi kembang yang sangat indah. Pelepasan kembang api itu berkali kali, kita ikut menikmati “pelepasan kembang api” hingga sekitar 2 jam, bahkan masyarakat lokal di tempat lainnya dari malam sebelumnya saat hari H bahkan hinga tengah malam. “Suasana dar der , ciuttt ciuttt dan pijaran api dengan formasi indah, memang luar biasa. Kita benar benar terbawa aura meriah divali, dengan aksi aksi penuh semangat pesta kembang api ini,” ujar Jero Gede Mangku Agung Murjaya dan istri. Nah, setelah selama 4 hari di Hyderabad kemudian melanjutkan perjalanan dengan train sleper dari tengah malam hingga tiba pagi hari sekitar jam 06.30 wita di stasiun Putthaparthi, kemudian ke Prashanti Nilayam, tempat senter indah dan luas yang ada di negara bagian Karnathaka, Andrapradesh. Sempat dua hari mengikuti omkara dan bhajan di Sai Kulwant, suprabhatam, nagarasankirtan, meditasi di Meditation Three, ke Sungai Citrawati, sudah pasti shooping , belanja oleh oleh. Sebetulnya waktu dua hari sangat singkat sekali, mengingat suasana kegiatan spiritual di sana, bukan sangat sangat mengasyikkan juga penuh getaran atau vibrasi spiritual yang powernya sangat tinggi. “Ya vibe nya sangat luar biasa, terasa sangat tenang , damai namun daya divinitynya sangat luar biasa, meski kurang lama, namun tetap bersyukur dapat napak pertiwi dan menerima berkah berkah spiritual di Prashanti Nilayam - tempat kedamaian tertinggi di sini,” ungkap Sri Begawan Nabe Yogananda. Kemudian tanggal 23 Oktober malam pulang melalui Airport Bangalore, transit di Malaysia dan tiba di Ngurah Rai Airport , Bali 24 Oktober 2025 sore sekitar pukul 16.00 Wita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suluh Sadhana Edisi 02

  Kata Pengantar Om Swastyastu Pembaca yang budiman Di rimba sunyi, jiwa mencari terang, bukan obor dunia, benderang sesaat hilang. Tetapi S...