Oleh : Acharya Premadasa
Secara etimologi, kata “yoga”
berasal dari bahasa Sansekerta Kuno yakni “yuj” yang berarti penyatuan; lebih mengarah pada simbol kesadaran
dan penyatuan atman (purusa) dengan Brahman (Paramatman/ Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai “citta vrtti nirodhah”, artinya
mengendalikan gerak-gerik pikiran atau cara untuk mengendalikan tingkah laku pikiran yang cendrung
liar, bias, dan melekat terpesona oleh
aneka ragam objek (yang dikhayalkan) dan memberikan kepuasan kepada panca indra. Praktik yoga menghentikan gerak pikiran sehingga melalui
ini maka seseorang
akan lebih baik dalam mengenal
tubuh, pikiran, jiwa, dan keseluruhan aspek yang ada pada dirinya serta
dapat membuatnya semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Yoga saat ini lebih dimaknai sebagai aktivititas yang bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan tubuh dengan melibatkan aktivitas
fisik, latihan pernapasan, teknik relaksasi dan latihan meditasi. Yoga dipraktikkan
dalam berbagai bentuk dan aliran di seluruh dunia dan terus tumbuh
popularitasnya.
Menyadari daya tarik universalnya maka pada 11 Desember 2014,
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproklamasikan 21 Juni sebagai
Hari Yoga Internasional dengan
resolusi 69/131. Sebagaimana halnya
dengan 21 Juni hari ini, Hari Yoga Internasional diperingati dengan
aneka ragam kegiatan yang diadakan oleh komunitas-komunitas yoga di berbagai tempat atau negara di dunia.
Hari Yoga Internasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang banyak manfaat dari berlatih yoga.
Rancangan resolusi yang menetapkan Hari Yoga Internasional diusulkan oleh India dan didukung oleh 177 negara anggota. Proposal ini pertama kali diajukan oleh Perdana Menteri
Narendra Modi dalam pidatonya pada pembukaan sesi ke-69 dari Majelis
Umum PBB, di mana ia mengatakan: "Yoga merupakan hadiah yang tak ternilai
dari tradisi kuno kita. Yoga mewujudkan kesatuan dari pikiran dan tubuh,
pikiran dan tindakan.Sebuah pendekatan holistik yang sangat berharga bagi
kesehatan dan kesejahteraan kita. Yoga bukan hanya tentang olahraga, yoga
adalah cara untuk menemukan rasa kesatuan dengan diri sendiri, dunia dan
alam."
Resolusi ini mencatat "pentingnya individu
dan populasi membuat pilihan yang lebih sehat dan mengikuti pola gaya
hidup yang mendorong kesehatan yang baik". Dalam hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
juga mendesak negara-negara
anggotanya untuk membantu warganya mengurangi ketidakaktifan fisik, yang
merupakan salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian di seluruh
dunia, dan merupakan
faktor risiko utama untuk
penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes.
Berlatih Yoga Asana
Ada delapan tahapan yang mesti ditempuh dalam melaksanakan yoga (Ashtangga
Yoga) yang diajarkan dalam buku Yoga Sutra Patanjali. Kedelapan
tahapan dari Ashtangga Yoga itu adalah Yama (pengendalian diri unsur
jasmani), Nyama (pengendalian diri unsur-unsur rohani), Asana (sikap tubuh),
Pranayama (latihan pernafasan), Pratyahara (menarik semua indrinya kedalam),
Dharana (telah memutuskan untuk memusatkan diri dengan Tuhan), Dhyana (mulai
meditasi dan merenungkan Sang Hyang Widhi Wasa), dan Samadhi (telah mendekatkan
diri untuk menyatu, kesendirian yang sempurna untuk merealisasikan diri).
Yoga asana adalah tahapan ketiga dari Ashtangga Yoga sebagai suatu keadaan
tubuh dimana kita tetap mantap,
tenang, santai dan nyaman baik secara fisik maupun mental. Yoga asana memiliki arti yang lebih bernilai dalam perkembangan
fisik, mental dan kepribadian spiritual. Dengan melakukan yoga asana
akan membebaskan kita dari segala
penyakit yang terkait dengan kehidupan
modern, seperti sembelit,
encok, kekakuan, kekecewaan dan ketegangan. Pada
mulanya ada 8, 4 juta asana,
dan dari jumlah
ini hanya 84
yang
dibicarakan secara terperinci, dan hanya 32 yang biasa diingat karena berguna bagi masyarakat
modern.
Latihan Yoga asana biasanya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok tingkat pemula, menengah
dan tinggi. Yang termasuk kelompok
pertama antara lain rangkaian pavanamuktasana,
savasana, vajrasana, marjariasana, sasankasana
dan lain-lain, serta asanas sebelum dan saat meditasi. Kelompok kedua meliputi yoga
mudra, surya namaskara, sasanka bhujangasana, yoga
mudra asana, matsyasana, sarvangasana, halasana,
dhanurasana, ardha matsyendrasana, dan sebagainya.
Sedangkan kelompok ketiga perlu bimbingan guru biasanya meliputi purna bhujanggasana, purna salabhasana, purna dhanurasana,
sirsasana (dan beberapa variasinya), mayurasana,
hanumasana, brahmacaryasana, tadasana dan sebagainya.
Asana yang melibatkan berbagai
pose dan gerakan itu dirancang untuk meningkatkan
fleksibilitas, kekuatan otot
dan keseimbangan
tubuh. Dengan rutin berlatih
asana, seseorang dapat mengembangkan tubuh yang lebih kuat dan sehat.
Teknik Pranayama
Pranayama adalah tahapan keempat dari Ashtangga Yoga merupakan serangkaian teknik yang merangsang dan meningkatkan
energi yang penting untuk pengendalian yang sempurna pada aliran prana dalam
tubuh. Pranayama menggunakan pernafasan untuk mempengaruhi aliran prana dalam nadi (aliran
prana) dari pranamaya kosa (kumpulan kekuatan hidup). Hal ini akan membersihkan nadi dan menyebabkan keseimbangan
fisik dan mental. Latihan kumbhaka
(menahan nafas) yang membatasi proses pernafasan dalam waktu yang
singkat menimbulkan pengendalian prana dan akhirnya menguasai pikiran. Penguasaan
pikiran adalah suatu pendahuluan
yang sangat penting
bagi latihan- latihan
spiritual selanjutnya.
Svami Sivananda dalam bukunya “The Science of Pranayama” menyatakan bahwa ada hubungan yang erat antara nafas, arus syaraf dan pengaturan prana dari dalam atau kekuatan-kekuatan vital. Prana menjadi
terlihat pada bidang fisik sebagai gerakan dan tindakan, serta pada bidang
mental sebagai pikiran.
Pranayama merupakan cara dimana
seorang yogi mencoba menyadari dalam
tubuhnya yang kecil
seluruh kehidupan kosmos, dan mencoba mencapai kesempurnaan dengan mendapatkan seluruh kekuatan alam semesta.
Beberapa jenis pranayama, antara lain: Kapala Bhakti, Suryabedha, Sudarshan Kriya, Sitkari, Sitali, Bhastrika (So
Ham), Bhramari, Murcha, Plavini, Kevala Khumbaka, Nadi Shuddhi dan lain-lain.
Teknik ini membantu seseorang untuk memahami peran penting pernapasan dalam kesehatan dan keseimbangan tubuh.
Dengan memahami dan mengendalikan pernapasan, pranayama membantu menyelaraskan
energi dalam tubuh, meningkatkan fokus,
meredakan stres, dan meningkatkan konsentrasi dan kesehatan
secara keseluruhan.
Disiplin
Praktis Meditasi
Meditasi adalah adalah tahapan ketujuh dari Ashtangga Yoga. Dalam buku
Yoga Sutra Patanjali, disebutkan meditasi adalah: Tatra pratyiyakatanata dhyanam (aliran pikiran yang tidak
putus-putusnya terhadap objek konsentrasi). Udupa, mendefinisikan meditasi
sebagai pengetahuan tradisional yang dapat membantu seseorang mengkoordinasikan
tubuh dan pikirannya menjadi lebih efektif, sehingga memungkinkan orang
tersebut untuk menjaga keseimbangan mental dan mencapai ketenangan yang
mendalam. Tetapi, upaya pendefinisian meditasi sesungguhnya akan lebih
menyulitkan ketimbang membantu, karena kata-kata dapat menghalangi arti dan bukan menyingkapkannya.
Chuang-tzu, guru besar Tao abad ke-14, mengatakan, bahwa kata-kata ada untuk
memberi arti, namun sekali saja kita memahami arti tersebut, kita dapat
menyingkirkan kata-katanya.
Sebagai sebuah disiplin praktis, meditasi telah terbukti ikut membantu
membebaskan orang dari kebodohan, ikatan
jasmani dan rohani,
stress, serta beban hidup lainnya, sehingga tercapai ketenangan dan
kebahagiaan. Meditasi juga dapat dipergunakan sebagai tindakan prepentif dan
kuratif dalam mengelola berbagai gangguan fisik dan psikis.
Di sepanjang sejarah umat manusia tidak banyak orang yang secara terus-
menerus mengusahakan dan mempertahankan pikirannya menerobos masuk ke ‘dalam’ (inward looking) untuk menyadari keagungan-Nya. Dan
lebih sedikit lagi jumlah mereka yang menyadari ‘sang diri’ yang sesungguhnya. Kebanyakan diantara kita hanya berputar-putar pada lapisan-
lapisan pikiran (kosa)
permukaan, diombang-ambingkan keinginan, kesenangan, kebodohan dan kebingungan. Hal ini karena
jauh lebih menarik menikmati fenomena dunia ‘luar’
ketimbang dunia ‘dalam’.
Yogi Ramacharaka dalam bukunya Raja Yoga menjelaskan bahwa untuk
mengembangkan kesadaran dan pengertian tentang
‘sang diri’, setiap orang
harus menyadari ‘pribadi’ sebenarnya, sehingga kesadaran menjadi bagian hidup
sehari-hari, serta merupakan sumber dari pikiran dan tindakannya. Manusia
mempunyai seperangkat sifat mental yang tidak dimiliki oleh binatang yang
bersifat rendah, serta masih terdapat daya kemauan yaitu daya dari ‘sang diri’
yang merupakan daya yang diterima dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Inilah yang
sering kita sebut ‘jati diri’ atau atman.
Dengan demikian, meditasi dalam bentuknya yang paling tinggi adalah
pengendalian pikiran menuju perluasan kesadaran sebagai sebuah cara hidup, bukan sekedar pencapaian keadaan tertentu.
Kesadaran meditasi ini,
menurut Naomi Humphrey, memiliki
ciri-ciri yang khas. Kesadaran
meditasi menurutnya berbeda dengan kesadaran terjaga, sebab mentalnya
terus-menerus dipertahankan. Kesadaran meditasi berbeda dengan
keadaan bermimpi, karena citra atau gambaran yang muncul adalah hasil
yang dibentuk secara sadar dan terkendali. Kesadaran meditasi juga berbeda dari keadaan trans sebab kesadaran tidak hilang atau dikurangi, melainkan
diperluas dan dibuat lebih peka.
Pengendalian Pikiran
Kesulitan terbesar yang paling sering dialami dalam praktik meditasi
adalah bagaimana mengendalikan ‘liarnya’ pikiran. Membuat tenang pikiran berarti mendapatkan keseimbangan dengan
cara yang benar. Jika terlalu dipaksakan, ia akan pergi semakin jauh, tetapi
sebaliknya tanpa usaha apa pun, ia tidak akan ke sana, ia luput dari titik
keseimbangan. Salah satu cara untuk mencapai titik keseimbangan tersebut adalah
dengan meditasi. Meditator Ven Ajahn Chah menyatakan umumnya pikiran tidak
tenang, bergerak dinamis setiap saat, kecuali pada saat penuh energi. Pikiran
yang penuh energi menurutnya berarti pikiran yang kokoh dan tenang, tidak lari
kesana kemari, yang biasanya akan dicapai dengan latihan meditasi.
Dalam latihan meditasi, sebagaimana dijelaskan dalam
buku Dhyana Vahini, pikiran diarahkan hanya pada satu objek, berpegang diri pada tempat
khusus yang satu, seperti puncak kepala (sahasrara
cakra), hati (anahata cakra),
cahaya (jyotir) dan lain sebagainya.
Apabila pikiran sudah berhasil menerima segala sensasi hanya melalui bagian itu
saja dari tubuh dan tidak melalui bagian lain, maka itu disebut sebagai
dharana atau lebih dikenal
dengan istilah konsentrasi.
Selanjutnya bila pikiran berhasil menangkap hal tersebut
dalam waktu yang lebih lama lagi, keadaan itu dikenal sebagai dhyana atau dengan istilah lainnya
dikenal sebagai meditasi. Jadi, meditasi adalah sebuah proses yang terjadi di tempat yang melampaui wilayah
indera. Diantara konsentrasi yang terjadi pada lapis indera dan meditasi
di tempat yang melampaui wilayah indera, terdapatlah garis batas dimana
terdapat kontemplasi yang sering disebut chinthana.
Jadi, dari konsentrasi menuju kontemplasi, kemudian dari kontemplasi ke tahap
meditasi. Selama orang berpikir dirinya sedang bermeditasi, maka itu adalah
pikiran, bukan meditasi. Selama orang tahu bahwa ia sedang bermeditasi, maka
sesungguhnya ia tidak bermeditasi.
Dalam buku Meditasi: Melampaui Batas Kesadaran Supra, Avadhutika
Anandamitra Acarya menjelaskan cara mengetahui kemajuan dalam meditasi. Para
yogi sejak berabad-abad yang lalu, menurutnya telah mengenal adanya empat
tahapan meditasi. Pertama, disebut tahap kesulitan, yaitu
ketika seseorang harus berusaha keras menentramkan dan mengendalikan gelombang pikiran yang bergolak
dan bercerai berai.
Kedua, tahap pencapaian,
yaitu ketika pikiran sudah dapat dipusatkan dan mengalami tingkat kesadaran
yang lebih tinggi. Ketiga, pemusatan pikiran yang sangat teratur
dan kuat, semua getaran dan energi pikiran menjadi koheren dan pada saat ini berkembang daya-daya sakti dan psikis.
Akhirnya, yang keempat,
adalah apabila perasaan berbahagia luar biasa memancar pada setiap sel pribadi.
Disini orang mulai menyadari bahwa dibandingkan dengan kebahagiaan penunggalan
dengan kesadaran kosmik, maka kegembiraan memiliki kemampuan psikis atau
daya-daya sakti sebenarnya tidak bernilai sama sekali.
Ada berbagai teknik meditasi, diantaranya: Meditasi Vipassana (Buddha),
Meditasi Mindfulness, Meditasi Kesadaran (Raja Yoga), Meditasi Jantung
Kembar (Prana), Meditasi Cahaya (Sai Jyotir), Meditasi Bersama (Ananda Marga
Yoga), Meditasi Samatha (Reiki), Meditasi Memperkuat Kuasa Supernormal (Falun
Dafa), Transendental Meditasi (TM), dan
Meditasi Antarmuktha Dhyana (Yogamurti MR).
Dengan praktik meditasi, seseorang senantiasa dilatih berkonsentrasi (avadhana)
agar bisa menetapkan perhatian ke suatu
hal (ekagatha). Dengan
disiplin bermeditasi bisa membantu mengkoordinasikan tubuh dan pikiran menjadi
lebih efektif, sehingga akan bisa menjaga keseimbangan mental untuk mencapai
ketenangan yang mendalam. Manfaat meditasi lainnya bisa mengesampingkan
berbagai pikiran negatif yang memicu datangnya stres, memotivasi diri, dan
membuat tubuh menjadi lebih tenang dan nyaman. Disamping itu, meditasi juga
memiliki cara kerja yang efektif dalam mengaktifkan gelombang otak yang
mendukung proses pembelajaran, meningkatkan konsentrasi, ingatan dan kesadaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar